Berita Malang Hari Ini

Pro dan Kontra Pendapat Pedagang Soal Pasar Terpadu di Arjowinangun Kota Malang

pedagang memiliki pendapat berbeda mengenai rencana Pembangunan Pasar Terpadu yang akan ditempatkan di kawasan Arjowinangun, Kota Malang

Penulis: Benni Indo | Editor: Eko Darmoko
SURYAMALANG.COM
suryamalang.com 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Sejumlah pedagang memiliki pendapat berbeda mengenai rencana Pembangunan Pasar Terpadu yang akan ditempatkan di kawasan Arjowinangun, Kota Malang.

Umi, pedagang kaki lima di Pasar Kebalen mengatakan tidak ingin pindah dari tempat jualannya saat ini. Meskipun dijanjikan tempat yang lebih representatif.

Perempuan yang sudah berjualan lebih dari 20 tahun di kawasan Pasar Kebalen tersebut beralasan, tempat baru tidak menjanjikan kalau pembeli akan ramai.

Selama puluhan tahun ia berdagang di kawasan Pasar Kebalen, ia telah memiliki pelanggan tetap. Ia sangat khawatir kehilangan pelanggan kalau pindah tempat berdagang.

"Saya tidak mau pindah karena pelanggan sudah tahu tempat ini," ujar Umi saat ditemui SURYAMALANG.COM, Senin (5/1/2024).

Sembari melayani pelanggannya yang datang silih berganti, Umi bercerita bahwa tempat berdagangnya saat ini telah memberi kesan yang sangat membekas.

Ia telah berjualan sejak masih duduk di sekolah dasar. Anak-anaknya juga telah sekolah tinggi berkat aktivitas dagangnya di tempat tersebut.

"Saya sekarang berusia 51 tahun, jadi sudah lebih dari 20 tahun saya di sini berjualan tahu," katanya.

Sekalipun tempat baru nanti memiliki fasilitas yang bagus, Umi mengaku tidak tertarik.

Menurut Umi, jumlah pelanggan yang datang lebih penting daripada tempat baru. Ia mengibaratkan sebuah rumah mewah namun tidak nyaman untuk ditinggali penghuninya.

"Kalau seperti itu, kan tidak enak tinggal di rumah meskipun mewah. Bagi saya yang penting pembeli ramai," ujarnya.

Pendapat berbeda diutarakan Imam Budi (44), pedagang kaki lima di kawasan Pasar Gadang. Ia berharap, tempat baru di Arjowinangun bisa meningkatkan pendapatan pedagang. Ia sepakat dengan rencana pembangunan pasar terpadu di Arjowinangun.

Sebagai pedagang kaki lima yang sudah berjualan selama 19 tahun di kawasan tersebut, kawasan Pasar Gadang dinilainya sudah tidak kondusif. Setiap hari, Imam selalu berhati-hati karena banyak kendaraan yang lewat dekat dengan dagangannya.

"Kalau di sini banyak kendaraan lewat. Kalau ada Pasar Terpadu nanti, saya kira bagus. Pedagang tertata. Jualan ayam di mana, jualan sayur di mana," katanya.

Imam mengaku tidak terlalu resah meski pindah. Kekhawatirannya tentang banyaknya pelanggan tidak terlalu ia pikirkan.

Menurutnya, pelanggan akan merasa nyaman jika tempat jualan terata, rapi, dan bersih. Bagi Imam, kesan yang dirasakan pelanggan saat beli akan memberikan dampak tersendiri.

"Saya dengar-dengar Pasar Gadang ini mau direnovasi, tapi tidak jadi dilakukan hingga sekarang. Kalau nanti pindah, ya tidak apa-apa. Di sini biarkan lalu lintas lancar," jelasnya.

Untung (56), pedagang di Pasar Kedungkandang menilai, penertiban pedagang kaki lima di kawasan Pasar Kedungkandang bisa dilakukan dan ditempatkan di Pasar Terpadu.

Meski begitu, sebagai pedagang yang sudah berada di situ sejak 1980, Untung merasa enggan harus pindah.

Ia mengaku sebagai pedagang tetap, bukan pedagang kaki lima. Baginya, pindah ke tempat baru berarti harus berdagang dari nol lagi. Ia tidak ingin melakukan itu setelah sekian tahun menata dagangan di Pasar Kedungkandang.

"Jadi kalau pindah, saya harus memulai dari nol lagi," katanya.

Berbeda hal jika ada penertiban terhadap pedagang kaki lima di kawasan Pasar Kedungkandang. Para pedagang kaki lima berjualan mulai pukul 1.00 hingga sekitar 6.00 pagi.

Mereka harus bergegas membereskan tempat dagangan begitu pagi datang. Hal itu dilakukan karena banyak pedagang berjualan di sekitar jalan raya.

"Kami sudah punya pelanggan. Katakanlah ingin beli di sini dengan nilai Rp 20 ribu. Ketika kami pindah, mereka juga akan berpikir untuk apa jauh-jauh beli karena ada ongkos perjalanan," katanya.

Pasar Kedungkandang tidak mendapat sentuhan renovasi total. Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Koperasi, Industri, dan Perdagangan hanya membangun sebuah atap setinggi sekitar 4 meter. Dikatakan Untung, bangunan tersebut tidak berfungsi dengan baik selama ini.

"Itu hanya menjadi tempat main catur, sepak bola, kalau ada kegiatan panggung juga bisa di situ. Jadi, harusnya bagaimana pedagang bisa ramai pembeli," katanya.

Kepala Dinas Koperasi, Industri, dan Perdagangan Kota Malang, Eko Sri Yuliadi telah menyadari munculnya potensi pendapat yang pro dan kontra mengenai rencana pembangunan pasar terpadu.

Ia berkeyakinan, bahwa rencana pembangunan tersebut bertujuan untuk kesejahteraan rakyat, terutama pedagang. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak pernah melarang warganya untuk berdagang.

“Yang dilarang adalah tempat berdagangnya. Usaha macam apa boleh, tapi tempatnya harus diatur. Yang jelas tujuan pembangunan itu untuk rakyat, untuk meningkatkan perekonomian, pendapatan per kapita masyarakat. Tujuannya baik,” katanya.

Pasar terpadu juga digadang-gadang akan menjadi magnet ekonomi baru di Kota Malang bagian timur. Bahkan Eko menyatakan akan menggeser pusat ekonomi dan perdagangan ke Kota Malang bagian timur.

“Konsepnya nanti ada pasar rakyat tapi bangunan modern. Pusat bongkar muat barang, pusat distribusi barang yang nantinya di sana akan berkumpul barang-barang dari Kabupaten Malang, Lumajang, Blitar, Probolinggo dan sebagainya. Bongkar muat di sana, terkait barang dagangan kami pusatkan ke sana,” ujarnya.

Pasar terpadu tersebut direncanakan berdiri di atas lahan seluas 10 hektare dan dapat menampung hingga 2.000 pedagang dari Pasar Kebalen, Gadang, dan Kedungkandang.

Eko juga mengatakan, pemerintah memiliki kepentingan untuk memecah kemacetan dan titik keramaian. Pemindahan pedagang ke pasar terpadu tersebut dinilai bisa memecah kemacetan di jalanan yang selama ini menjadi tempat aktivitas jual beli. 

 

Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved