Berita Malang Hari Ini

Pedagang di Kota Malang Temukan Penyusutan Kapasitas Beras SPHP yang Diterima dari Distributor

Pedagang di Kota Malang Temukan Penyusutan Kapasitas Beras SPHP yang Diterima dari Distributor

Penulis: Benni Indo | Editor: Eko Darmoko
SURYAMALANG.COM/Benni Indo
Supriyono menunjukan beras kemasan 5 Kg yang ia kemas sendiri setelah menerima pasokan beras SPHP. 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Seorang pedagang di Pasar Bunul, Kota Malang, menerima pasokan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang beratnya tidak sesuai dengan keterangan tertera. Supriyono yang menerima pasokan beras SPHP mendapatkan 13 sak beras pada Rabu (28/2/2024).

Kapasitas tertera yang ia terima seberat 50 Kg. Setelah ditimbang ulang, ia mengetahui menerima 47 Kg. Penyusutan berat beban ini sudah ia dengar informasinya dari distributor.

Ditemui di sela-sela kegiatannya hendak menutup ruko, Supriyono mengatakan telah diberitahu distributor bahwa akan terjadi penyusutan akibat kerusakan. Distributor menyebut, kerusakan itu terjadi karena adanya benturan saat mobilisasi beras.

"Hari ini saya timbang ada penyusutan, yang awalnya 50 Kg menjadi 47 Kg. Penyusutan karena kehancuran. Itu keterangan dari distributor. Saya tidak melaporkan penyusutan ini ke Bulog atau pemerintah," terang Supriyono, Kamis (29/2/2024).

Supriyono mencoba untuk memastikan hasil yang ia lihat dengan membandingkan hasil timbangan lain. Ada perbedaan antara timbangan duduk dengan timbangan meja. Ia timbang lagi di timbangan duduk manual milik pedagang lainnya.

Setelah 3 kali proses menimbang, ternyata beras 5 Kg kantong plastik yang ia timbang menggunakan timbangan meja jumlahnya lebih banyak, yakni 5,3 Kg.

Supriyono mengatakan, timbangan meja miliknya sudah ditera pada November 2023. Adapun soal beras Bulog yang ia jual ke konsumen melebihi 5 Kg per kemasan, hal itu  tidak menjadi masalah. Supriyono masih ingin memastikan kebenaran soal beras SPHP kemasan 50 Kg.

"Saya akan membuat pembanding dengan menimbang beras pada timbangan digital. Nanti hasilnya dilihat," tegasnya.

Supriyono menyatakan tidak terlalu mempersoalkan penyusutan yang terjadi. Untuk menghindari kerugian, Supriyono terpaksa harus menaikan harga beras. Pasalnya, ia tetap harus membeli harga beras dengan kapasitas 50 Kg, meskipun yang diterima tidak sampai di angka itu.

Harga beras yang seharusnya dijual Rp 10.900 menjadi Rp 12.000. Ia juga berharap bisa difasilitasi timbangan dari distributor sehingga angka berat beras bisa diketahui bersama. Hal itu juga untuk menghindari kecurigaan adanya permainan tersendiri.

"Kalau dari pedagang, solusi yang ditawarkan bisa difasilitasi timbangan, Perlu timbangan yang lebih akurat lagi. Mungkin nyari timbangan yang elektrik," paparnya.

Kata Supriyono, beras SPHP sangat banyak diburu warga. Selain harga yang murah, kualitasnya juga tidak kalah bagus. Hal itulah yang menyebabkan beras SPHP cepat habis di Pasar Bunul.

"Di pasar ini ada enam pedagang yang menerima pasokan SPHP. Berasnya cepat terjual karena sangat murah jika dibandingkan dengan beras lain," paparnya.

Ia juga menyatakan, stok beras premium yang dijual cukup untuk kebutuhan konsumen. Tidak terjadi kelangkaan pasokan, meskipun terjadi fluktuasi harga.

Analisis Perdagangan Diskopindag Kota Malang, Eka Wilantari mengatakan belum pernah mendengar adanya informasi penyusutan kapasitas beras SPHP yang terima pedagang. Beras SPHP didistribusikan oleh BUMD Tugu Aneka Usaha.

Jika mendengar adanya laporan penyusutan tersebut, Eka mengaku akan mengkonfirmasi langsung kepada pedagang. Ia juga akan mengkonfirmasi kepada pihak terkait seperti BUMD Tugu Aneka Usaha dan Bulog.

"Kami akan jembatani untuk mencari solusi, tapi kami klarifikasi dulu. Kan, tidak bisa dari satu pihak," ujar Eka.

Bulog Cabang Malang mengaku cukup kewalahan dengan permintaan pasar soal beras SPHP kemasan 5 kilogram. Sebab, sejauh ini yang paling banyak penyaluran adalah beras SPHP kemasan 50 kilogram.

Kepala Bulog Cabang Malang, Siane Dwi Agustina mengatakan, jika ada perbedaan kapasitas yang diterima pedagang, maka akan ada pemantauan langsung ke lapangan. 

"Memang ada ketentuan dari Bapanas untuk mengemas 50 Kg karena kadang kemampuan masyarakat bisa membeli 1 Kg. Kalau ada yang kurang,  kami cek lagi. Memang kemasannya  untuk 50 Kg. Soal nanti ditimbang berkurang, ya kami cek lagi," tegas Siane.

Pihaknya selama ini sudah melakukan penyaluran beras SPHP ke 18 pasar tradisional serta 61 toko dan toko ritel modern. Ia menyebut, sejak awal Februari 2024 hingga saat ini, setidaknya 1.186 ton beras sudah tersalurkan.

"Penyaluran setiap Minggu wajib ke masing-masing toko. Satu Minggu dua ton per toko, itu maksimal. Karena tergantung kemampuan pedagang juga," ujar Siane, Kamis (29/2/2024).

Siane juga mengakui bahwa SPHP kemasan 5 kilogram saat ini sulit didapatkan. Sebab, biasanya ia menyuplai pada kemasan 50 kilogram dan pedagang sendiri yang akan mengakomodir menjadi kemasan 5 kilogram.

Siane menyebut bahwa peningkatan permintaan suplai beras mulai meningkat sejak Januari 2024 lalu. Mengingat, kini beras-beras premium di pasaran semakin mahal, sehingga masyarakat mulai beralih ke beras SPHP milik Bulog.

 

Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved