Bolehkah Pilot Tidur Saat Mengudara Seperti Kasus Pilot dan Kopilot Batik Air? Terungkap Aturannya

Bolehkah pilot tidur saat mengudara seperti kasus pilot dan kopilot Batik Air? terungkap aturannya yang sangat ketat.

|
Penulis: Sarah Elnyora | Editor: Eko Darmoko
Instagram @batikair/Canva.com
Ilustrasi pilot (kiri) dan ilustrasi pesawat Batik Air (kanan). Bolehkah pilot tidur saat mengudara seperti kasus pilot dan kopilot Batik Air? terungkap aturannya. 

SURYAMALANG.COM, - Bolehkah pilot tidur saat mengudara seperti kasus pilot dan kopilot Batik Air yang belakangan ramai. 

Ternyata pilot tidur saat mengudara boleh, namun ada aturan ketat yang harus tetap dilaksanakan dengan baik. 

Sedangkan dalam kasus pilot dan kopilot Batik Air yang tertidur saat mengudara itu termasuk menyalahi aturan. 

Pilot dan kopilot Batik Air itu tertidur selama 28 menit dan kepergok Air Traffic Services (ATS) Jakarta gara-gara pesawat keluar jalur. 

Peristiwa ini berlangsung di maskapai Batik Air BTK6723 jenis Airbus A320 rute Kendari-Jakarta pada Kamis, (25/1/24) lalu.

Baca juga: Viral Karyawan Izin Sakit Dijemput Bos di Rumah Diminta Kerja, Wanita Ini Syok Dikira Mimpi

Baca juga: Profesi Intan Nurliana Turis Malaysia Viral Beri Rating 0 Travelling ke Jakarta, Cuma Betah 4 Jam

Melansir Flight Deck Friend, pilot boleh tidur saat tengah mengudara tetapi dengan aturan yang sangat ketat.

Pilot umumnya diizinkan tidur bagi yang tengah melakukan penerbangan jarak jauh.

Untuk penerbangan jarak pendek, tidur diizinkan guna istirahat demi menghindari efek kelelahan.

Istirahat bagi pilot dikategorikan ke dalam dua jenis, yakni controlled rest (istirahat terkendali) dan bunk rest (istirahat di tempat tidur).

Controlled rest dilakukan di dalam kokpit, sedangkan bunk rest dilakukan di kabin penumpang yang disediakan khusus untuk pilot atau di tempat tidur susun khusus kru yang biasanya ada pada pesawat jarak jauh.

Baca juga: Kondisi 153 Penumpang Batik Air Setelah Pilot dan Kopilot Tertidur, Pesawat Kepergok Keluar Jalur

Baca juga: Viral Bocah SMP Dibully Sampai Dipukuli Berjam-jam, Sang Ibu Curhat Anaknya Gak Mau Ngomong

Istirahat atau tidur menjadi praktik standar di seluruh industri penerbangan karena dinilai dapat meningkatkan keselamatan penerbangan.

Namun demikian, setidaknya ada satu pilot yang terjaga dan memegang kendali saat pilot yang lain tengah istirahat. 

Istirahat terkendali memungkinkan salah satu pilot untuk tidur hingga 45 menit selama fase beban kerja rendah.

Hal ini berguna untuk meningkatkan kewaspadaan untuk fase beban kerja tinggi, misalnya saat mendaratkan pesawat.

Prinsip istirahat terkendali ini setara dengan “power nap”.

Idealnya, pilot tidur selama 10-20 menit untuk membatasi tahapan tidur non-rapid eye motion (NREM) yang lebih ringan.

Tidur 30-60 menit dapat mengakibatkan inersia tidur yang justru membuat pilot berpotensi merasa pening dan lebih lelah.

Aturan Tidur Pilot Saat Terbang

Beberapa aturan penting yang harus dipatuhi saat pilot hendak melakukan istirahat terkendali selama penerbangan, di antaranya:

Harus didiskusikan dan disetujui oleh kedua pilot

Istirahat terkendali dibatasi 10-40 menit.

Hanya satu pilot yang boleh mengambil istirahat terkendali pada satu waktu di kokpit, tetapi kursinya ditarik menjauh dari kendali pesawat.

Baca juga: Kasus Demam Berdarah Dengue Tinggi, Permintaan Trombosit di PMI Kota Blitar Naik Dua Kali Lipat

Baca juga: Jelang Ramadan, Laznas Nurul Hayat Malang Bagikan Paket Sembako Kepada Janda dan Dhuafa

Setelah terbangun dari tidur, pilot harus menghindari pengoperasioan kontrol selama jangka waktu tertentu untuk memastikan ia sudah terbangun dan waspada. Umumnya, hal ini dilakukan 15 menit.

Pilot yang beristirahat harus memastikan pilot yang terjaga diberi pengarahan yang memadai agar pilot tersebut dapat melaksanakan tugasnya selama operasi pilot tunggal.

Tempat Tidur untuk Pilot
 
Sebagian pesawat jarak jauh memiliki tempat tidur tersembunyi yang digunakan pilot dan awak kabun tidur tanpa terlihat oleh penumpang.

Penerbangan jarak jauh umumnya membutuhkan 3-4 pilot agar masing-masing dapat bergantian beristirahat dan menerbangkan pesawat.

Dua pilot yang sama memegang kendali untuk lepas landas dan mendarat, sedangkan pilot lainnya akan mengambil kendali untuk segmen penerbangan lainnya.

Baca juga: Stok Kebutuhan Pokok di Kota Malang Diprediksi Aman Sampai Lebaran 2024

Artikel KompasTV 'Ramai Pilot Batik Air Tertidur Saat Terbang Kendari-Jakarta, Bolehkan Pilot Tidur?'.

Baca juga: Trenyuh Suasana Pengukuhan Gubes UMM Aris Bersama Almarhumah Istrinya, Ada Lagu Cinta Sejati

Pilot tambahan yang tidak memegang kendali saat lepas landas dan mendarat umumnya disebut sebagai Heavy Crew.

Sesaat setelah lepas landas, pilot pertama akan menuju tempat tidur khusus dan istirahat selama jangka waktu tertentu sebelum bergiliran dengan pilot lain.

Selama penerbangan, para pilot akan bergantian. Hingga sekitar satu jam sebelum mendarat, pilot yang bertugas saat lepas landas akan kembali ke kokpit dan memegang kendali.

Kasus pilot dan kopilot Batik Air

Pihak Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) kemudian melakukan investigasi terkait kejadian pilot dan kopilot Batik Air yang tertidur tersebut.

Awalnya pesawat berangkat dari Bandara Soekarno Hatta Cengkareng Banten, pukul 03.14 WIB menuju Bandara Haluoleo Kendari, Sulawesi Tenggara.

Setelah lepas landas, pesawat tersebut melaju dengan ketinggian 36.000 kaki.

Di posisi ini, kopilot memberitahukan pilot dirinya kurang istirahat.

Kemudian, pilot menawarkan kopilot untuk istirahat di kokpit dan tidur sekitar 30 menit lalu pilot mengambil alih tugas kopilot.

Baca juga: Istri Dirantai di Kandang Sapi, Dihajar Suami Hingga Babak Belur di Jember, Dipicu Kerja Tanpa Pamit

Baca juga: Kisah Miben Voice Grup Vokal Asal Malang, Iseng Belajar Nyanyi Agar Tak Sumbang, Malah Sering Juara

Kopilot terbangun saat pesawat mulai turun dan pesawat mendarat di Kendari pukul 07.11 WITA.

Selama transit ini, pilot dan kopilot menyantap mi instan di kokpit.

Setelah penurunan penumpang selesai, proses boarding penumpang dilakukan dan penerbangan kembali ke Jakarta dimulai.

Setelah proses boarding selesai, pesawat mulai bergerak menuju tujuan penerbangan pulang dengan nomor penerbangan BTK6723 pukul 08.05 WITA.

Saat pesawat mencapai ketinggian 36.000 kaki, kedua pilot melepas headset dan mengeraskan volume pengeras suara kokpit.

Selama penerbangan ini, pilot meminta izin kepada kopilot untuk bergantian istirahat sehingga posisi pilot digantikan oleh kopilot.

Beberapa saat kemudian, pilot menawarkan kopilot untuk beristirahat, kopilot menolak.

Mereka lalu berbincang selama 30 menit dan pilot melanjutkan tidur.

Baca juga: 25 Kumpulan Gambar Ucapan Selamat Ramadhan 2024, Cocok Dijadikan Status WhatsApp, IG, X, Facebook

Baca juga: Lastri Full Senyum Ketemu Prabowo, Sempat Viral Nangis DIbully Teman Gegara Bantu Ibu Cari Rongsokan

Kemudian, kopilot melakukan kontak awal dengan Air Traffic Services (ATS) Jakarta dan diinstruksikan menuju waypoin KURUS yang terletak di timur laut Bandara Soekarno Hatta.

Beberapa saat kemudian, kopilot ikut tertidur.

Komunikasi ATS Jakarta dengan kopilot kemudian terputus.

Kemudian ATS Jakarta menelpon BTK6723 namun tidak ada respon dari pilot.

Bahkan, ATS Jakarta menghubungi pesawat lain untuk melakukan kontak dengan pilot BTK6723 tapi tidak ada satu pun yang ditanggapi oleh pilot.

Rupanya, akibat tertidur, pesawat keluar jalur dan pilot langung membangunkan kopilot

"Pada 09.11 WIB atau 28 menit setelah transmisi (komunikasi) terakhir yang direkam dari kopilot, si pilot terbangun dan sadar bahwa pesawat tidak berada pada jalur penerbangan yang benar" tulis Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono dalam laporan investigasinya dikutip Sabtu (9/3/2024).

"Pilot kemudian melihat kopilotnya tertidur, lalu membangunkannya" lanjut Soerjanto Tjahjono.  

Pada waktu yang hampir bersamaan, pilot menanggapi panggilan dari orang lain pilot dan Jakarta ACC.

Dari sini pilot membuat alibi untuk menutupi keteledorannya dengan memberi tahu ATS Jakarta jika BTK6723 mengalami radio masalah komunikasi dan saat ini masalah tersebut telah teratasi.

Kendati pilot sempat beralasan namun KNKT berhasil menemukan penyebab sebenarnya. 

Dari hasil investigasi, pesawat itu membawa 153 penumpang dan beruntung meski pilot dan kopilot tertidur, namun tidak terjadi masalah selama penerbangan. 

Total 153 orang penumpang selamat dan pesawat berhasil mendarat di Jakarta dengan lancar.

Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, serta tidak ada kerusakan pada pesawat.

Ikuti saluran SURYA MALANG di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaMBHbB3rZZeMXOKyL1e

Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved