Kamis, 16 April 2026

Berita Malang Hari Ini

Sarjana Sastra Mau Jadi Apa? Novelis Mim Yudiarto Bagi Tips di Workshop Entrepreneurship UIN Maliki

Sarjana Sastra Mau Jadi Apa? Novelis Mim Yudiarto Bagi Tips di Workshop Entreprenership UIN Maliki

|
SURYAMALANG.COM/Sylvianita Widyawati
Workshop entrepreneurship Sarjana Sastra Mau Jadi Apa? di gedung rektorat lantai 5 UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang, Selasa (7/5/2024). Narasumber kegiatan itu adalah penulis novel Mim Yudiarto serta Miss Whida, pengusaha salon yang juga dosen Fakultas Humaniora UIN Malang. 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Workshop entrepreneurship 'Sarjana Sastra Mau Jadi Apa?' digelar di gedung rektorat lantai 5 UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang, Selasa (7/5/2024).

Narasumber kegiatan itu adalah penulis novel "Tak Kenal Maka Ta'aruf" Mim Yudiarto serta Miss Whida, pengusaha salon yang juga dosen Fakultas Humaniora UIN Malang

Ia memberikan bocoran soal novelnya yang akan diangkat jadi film. Di mana sekarang sedang casting untuk pemeran pembantu utamanya. Diperkirakan film itu akan ditayangkan di bioskop pada November 2024 mendatang.

"Malang akan jadi premier rilis pertama di Malang. Itu sudah direncanakan. Sedang soundtrack filmnya sedang digarap dosen ISI," kata dia.

Kehadirannya di UIN adalah kampus ke-12 yang didatanginya.

Ia sudah tiga kali ke Malang dengan datang ke kampus-kampus. Di acara itu, Mim banyak ditanya mahasiswa Fakultas Humaniora tentang kreatifitas menulisnya. Mahasiswa juga menanyakan tips menulis pada penulis asal Banyuwangi ini.

Ada yang bertanya mengapa dirinya bisa cerita tapi tidak bisa menulis. Bahkan ketika dituliskan sempat dibilang tidak kredibel. Padahal ia sudah ada ide tentang pernikahan dini di desa.

"Sebenarnya jika sudah pintar ngomong itu modal karena bisa meyakinkan orang, bisa beropini. Saran saya, setelah moment ini, tulis saja apa yang diomongkan. Seberantakannya, tulis saja. Nanti dibenarkan lagi soal kosa kata."

"Seperti soal nikah muda itu bisa diangkat jadi novel karena ada tradisi itu. Hasilnya akan keren karena relate dengan situasinya," jawab Mim.

Ia juga menjelaskan fenomena yang terjadi seperti uang paniai/mahar yang mahal. Hasilnya jadi ide novelnya Mahar dari Langit.

"Uang paniai itu kan jadi barrier dalam menyatakan cinta. Inspirasinya didapat dari Makasar," kata Mim.

Dikatakan, meski novel fiksi juga harus bisa dipertanggungjawabkan. Ia juga melakukan riset dengan bertanya pada orang Bugis ketika menulis Mahar dari Langit.

"Saran saya kalau buat cerita fiksi, jika mengangkat tempat-tempat harus nyata," kata dia.

Menurutnya, jika mau menulis itu tulislah yang tuntas.

"Jangan khawatir ada yang tidak baca. Pasti ada yang baca. Modalnya untuk menulis adalah membaca untuk memperkaya kosa kata."

Sumber: SuryaMalang
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved