Berita Malang Hari Ini
Hasil PPDB Zonasi, Banyak Anak Berkebutuhan Khusus di Kota Malang
Dari PPDB zonasi ternyata banyak ditemukan siswa ABK (Anak Berkebutuhan Khusus). Sehingga sekolah harus membuat inovasi agar siswa bisa tetap belajar
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Yuli A
SURYAMALANG.COM, MALANG - Hasil Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) zonasi, banyak Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) sehingga sekolah harus membuat inovasi agar siswa bisa tetap belajar di sekolah.
Hal itu dibenarkan oleh Riatiningsih, Kepala SMPN 2 Malang. "Kami mengetahuinya setelah diadakan assesment tes IQ," jelas Bu Ria, panggilan akrabnya pada suryamalang.com, Selasa (23/7/2024).
Menurutnya, sekolah melayani siswa inklusi sejak 2022. Sekolah lalu membuat inovasi mengembangkan pembelajaran berdiferensiasi lewat program SIMBA ASIA (Sinau Mandiri Bersama Anak Satwimaba Istimewa).
Melalui program ini tercipta lingkungan belajar yang kondusif bagi sebagian anak berkebutuhan khusus. Tapi pelaksanaan SIMBA ASIA sejak 2023 lalu.
"Diawali temuan dari test psikologi dan diketahui ada 17 siswa yang perlu pendampingan khusus. Kemudian sekolah membuat inovasi itu. Sebab ada siswa yang belum bisa baca tulis, tidak bisa berhitung dan keterbelakangan yang lain. Assesment waktu itu dilakukan saat siswa kelas 8 dan sekarang sudah naik kelas 9. Awalnya, kata Ria, orangtua ada yang tidak terima.
Menurutnya, siswa perlu pendampingan dan orang tua perlu memberi dukungan. Jadi orangtua tidak boleh menyembunyikan kekurangan anak. Sebab orangtua juga ada batasannya karena tidak bisa selamanya seperti itu. Dengan inovasi yang disiapkan, selain membantu di pembelajaran juga diberikan kemandirian. Misalkan pasang kancing, kecil-kecil, membuat telor dan menyetrika.
Tujuannya buat kemandirian anak anak terutama sehari-harinya. Sebab ABK juga rentan kena perundungan. Karena itu di sekolah ini juga ada program sahabat siswa. Sedang Suwarjana, Kadis Pendidikan dan Kebudayan Kota Malang membenarkan jika dari zonasi memang tersaring banyak ABK setelah ada assesment. "Sementara untuk mendaftar ke afirmasi kan terbatas kuotanya. Sehingga banyak yang mendaftar ke zonasi," kata Suwarjana di SMPN 2.
Dengan sistem PPDB online, maka sekolah tidak bertemu langsung dengan siswa. Ketika bertemu ternyata menemukan kenyataan itu. "Yang seperti itu tidak bisa tolak karena lolos di zonasi. Maka kita ajari tapi kita tidak punya GPK (Guru Pendamping Khusus)," jelasnya. Mayoritas GPK dari S1 Psikologi dan bukan dari S1 pendidikan. Akhirnya ketika dimasukkan ke dapodik tidak bisa. Sehingga pengakuan kerja mereka tidak bisa direkognisi.
Yang terjaring di zonasi antara lain ABK slow learner, baca tulis belum sempurna, untuk menghitung uang gak bisa. Tapi guru wajib mengajari agar mandiri. Ia menyebut jumlah ABK di seluruh SMP Kota Malang mungkin ada 1000 orang. Atas inovasi yang dilakukan SMPN 2, pada Selasa dilakukan visitasi dan Kemenpan RB karena SIMBA ASIA masuk 10 besar. "Kalau masuk lima besar, SMPN 2 akan diundang ke Jakarta," jelas Suwarjana.
Polemik Beli LPG 3 Kg di Distributor, Pemilik Pangkalan di Kota Malang sampai Bingung |
![]() |
---|
UMKM Kota Malang Tak Peduli Harga Mahal, Yang Penting LPG 3 Kg Selalu Ada |
![]() |
---|
Polemik Beli LPG 3 Kg di Pangkalan, Warga Kota Malang: Kebijakan Jangan Bikin Repot |
![]() |
---|
Bisnis Akademi Wirausaha Mahasiswa Merdeka UB Malang, Maggot Jadi Pakan Kucing dan Busana Big Size |
![]() |
---|
Puluhan Napi di Lapas Malang Lolos Kompetensi, Diwisuda Jadi Guru Al-Quran |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.