Berita Viral

Nasib Siswa Korban Squat Jump 100 Kali Juga Kerja Angkut Pakan Ternak, Ombudsman: Fisik Pasti Ngaruh

Nasib siswa korban squat jump 100 kali juga kerja angkut pakan ternak, tulang punggung keluarga, ombudsman: fisik pasti ngaruh.

Tribun-Medan.com/Indra Gunawan/Youtube TribunnewsBogor.com
Siswa korban squat jump 100 kali juga kerja angkut pakan ternak, tulang punggung keluarga, ombudsman: fisik pasti ngaruh. 

SURYAMALANG.COM, - Sosok RSS siswa korban squat jump 100 kali ternyata bukan pelajar biasa, namun juga seorang pekerja keras. 

Di umurnya yang masih 14 tahun, RSS ternyata jadi tulang punggung keluarga dengan bekerja setiap hari mengangkut pakan ternak. 

Kondisi inilah yang diduga membuat kondisi fisik RSS berbeda dari teman-temannya yang mendapat hukuman serupa. 

RSS dinyatakan meninggal di Rumah Sakit Sembiring Delitua, Deli Serdang, pada Kamis (26/9/2024) lalu setelah seminggu sebelumnya mendapat hukuman squat jump 100 kali karena tidak mengerjakan tugas.

Oknum guru honorer berinisial SW yang memberikan hukuman squat jump telah dilaporkan dan menjalani pemeriksaan di Mapolresta Deli Serdang pada Senin (30/9/2024).

Baca juga: Sosok Maria Livia Begal Cewek di Surabaya, Tusuk Sopir Taksi Online Karena Butuh Ongkos ke Australia

SW kemudian dipanggil ke kantor Ombudsman Sumatra Utama untuk memberikan keterangan.

Kepala Ombudsman Sumut, James Panggabean menjelaskan, RSS tidak cuma siswa biasa namun setiap hari bekerja sebagai pengangkut pakan ternak.

"Anak itu selain pelajar juga pekerja angkat pakan ternak keluarganya, bisa dibilang tulang punggung" tutur James Panggabean Selasa, (1/10/24) melansir TribunMedan.com (grup suryamalang).

Situasi itu yang membuat James beranggapan kondisi fisik RSS tidak bisa disamakan dengan siswa lain yang menerima hukuman serupa tapi sampai sekrang masih sehat. 

"Secara fisik pasti ngaruh. Soal kematiannya kita menunggu forensik," tutur James. 

Menurut James, kepala sekolah hingga guru BK dianggap lalai sehingga mengakibatkan siswa meninggal.

"Pertama mereka akui kesalahan itu. Lalu peran kepala sekolah kurang pengawasan" ungkap James

"Ketiga guru BK, anak ini bukan sekali gak ngerjai tugas, harusnya BK masuk membimbing dan konsuling apa yang jadi beban anak, dan jadi kendala ngerjakan tugas sekolah, karena antar pakan pakai pundak dan becak ke tempat orang," lanjut James.

Baca juga: Alasan Verrell Bramasta Tak Akan Ambil Gajinya Jadi Anggota DPR RI, Uang Akan Dialokasikan ke Sini

Dalam pertemuan tersebut, SW menceritakan awal mula muncul hukuman squat jump bisa terjadi. 

Menurut SW, para siswa yang tidak mengerjakan tugas enggan untuk diberi hukuman menghafal dan memilih dihukum squat jump.

Halaman
123
Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved