LIPSUS Entas Pengangguran di Malang Raya
Bingung Cari Kerja di Malang? Coba Bisnis Pengharum Ruangan
Akza Yusri Rafiqi berjualan pengharum ruangan dengan brand Your24 baru setahun ini.
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM, MALANG - Mahasiswa tidak harus menghabiskan waktunya di kampus. Mahasiswa juga bisa menciptakan peluang usaha sehingga bisa menghasilkan cuan sambil kuliah.
Seperti yang owner Your24, Akza Yusri Rafiqi yang berjualan pengharum ruangan dengan brand Your24. Mahasiswa Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) UNiversitas Brawijaya (UB) ini baru setahun menekuni usaha ini.
"Saya sudah terjual ribuan buah botol pengharus ruangan. Alhamdullilah penjualannya selalu meningkat," kata Akza kepada SURYAMALANG.COM.
Akza mengaku didukung oleh UB dalam mengembangkan usaha ini. Bahkan UB juga mengikutkan Akza dalam berbagai lomba.
Azka membuat beberapa varian pengharus rungan, seperti Maldives dan Berlin. Dari berbagai produknya, Maldives yang menjadi best seller. Untuk memenuhi permintaan pasar, Azka membuat varian Maldives bisa sampai 400 botol.
"Kekhasan dari produk saya adalah memakai atsiri yang memberikan khasiat menenangkan," tambahnya.
Azka mengali usaha ini dari riset saat pandemi Covid-19 lalu. Saat itu masyarakat memang butuh aromaterapi.
"Saat pandemi Covid-19. banyak masyarakat yang stres karena tidak bisa keluar. Akhirnya saya membuat produk pengharum ruangan yang masih bisa digunakan dalam kondisi sekarang," tuturnya.
Azka mematok harga sekitar Rp 55.000 untuk setiap varian pengharum ruangan. "Aroma pengharum ruangan ini bisa tahan sampai 60 hari," imbuhnya.
Rajutan
Sementara itu, Triata Mahendra Pesona Putra membuka usaha rajutan. Mahasiswa Prodi PG PAUD Universitas Negeri Malang (UM) ini membuat beragam produk rajutan, mulai dari gantungan kunci, tas, sampai buket bunga wisuda.
Pria asal Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang ini memiliki ide berbisnis rajutan saat melihat banyak perempuan di daerahnya yang bisa merajut. "Tapi mereka tidak bisa memasarkan produknya," kata Triata.
Triata merasa tertantang untuk belajar merajut, dan memasarkan produknya. Selama ini Triata memasarkan produknya melalui bazar atau Car Free Day (CFD) di Kota Malang. Triata mematok harga produknya berkisar antara RP 5.000 sampai RP 50.000. "Saya jual produk rajutan secara offline. Tapi saya juga jual produk saya melalui TikTok," urainya.
Triata sudah sering mendapat pertanyaan dari teman-temannya terkait usaha rajutannya. Apalagi Triata adalah cowok yang seharusnya memiliki usaha di bidang lain yang lebih sesuai. "Saya jawab, kan saya wirausaha, jadi bebas memilih jenis usahanya dong," urainya.
Mahasiswa UM lain, Kiki juga menekuni usaha rajutan. Mahasiswa Prodi Bahasa Inggris UM ini menekuni bisnis ini bersama teman sekolah dulu yang bernama Ayu.
"Kami mengembangkan brand Yukicrochet. Saya mendapat ide ini dari scroll-scroll di medis sosial (medsos)," kata Kiki.
Selama ini Kiki cenderung membuat rajutan bunga, dan Ayu membuat rajutan berbentuk gantungan kunci. Dari seluruh produknya, rajutan bunga matahari menjadi best seller. "Kami memang jualan bareng, tapi omzetnya dibedakan," kata Ayu.
| Jumlah Pengangguran Capai 31.286 Orang, Ternyata Tak Semua Warga Malang |
|
|---|
| Pengangguran di Malang Raya Tinggi, Pemula Bisa Belajar Bisnis dari Medsos |
|
|---|
| Tekan Angka Pengangguran di Kota Malang, Pemkot Perlu Perkuat Data PDKT SAM |
|
|---|
| Kurang Skill dan Profesional, Gen Z Dominasi Jumlah Pengangguran di Kabupaten Malang |
|
|---|
| Upaya Tekan Pengangguran, Ini yang Dilakukan Pelaku Ekonomi Kreatif di Kota Malang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/mahasiswa-UB-pengharum-Your24.jpg)