Berita Malang Hari Ini
Seminar Pendidikan Peringati Hari Guru Nasional YDSF di Malang , Learning Loss Sudah Terjadi !
Yang menjadi perhatiannya adalah adanya learning loss. Tanda-tanda adanya learning loss adalah hilangnya keterampilan dan pengetahuan.
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Dyan Rekohadi
SURYAMALANG.COM, MALANG - Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) menggelar seminar pendidikan untuk memperingati Hari Guru Nasional di auditorium lantai 7 MCC, Minggu (17/11/2024).
Seminar dengan Tema Harapan pada Arah Pendidikan untuk Indonesia Emas itu menghadirkan Prof Dr Dedi Kuswandi MPd dari Universitas Negeri Malang (UM) dan Sherly Annavita Rahmi SSos MSIPHI, motivator, influencer dan dosen Universitas Paramadina Jakarta sebagai narasumber.
"Guru jadi sentral dalam pendidikan kita," kata Dedi di acara itu.
Yang menjadi perhatiannya adalah adanya learning loss.
Ia memutar video dari medsos di mana ada keprihatinan pemerhati pendidikan di medsos tentang para siswa yang kurang menguasai pengetahuan umum.
Ada cuplikan-cuplikan di konten itu bahwa siswa tidak bisa menjawab pertanyaan pengetahuan umum termasuk hitungan.
"Saya ingin memberikan pemikiran tentang kurikulum dan pembelajaran masa kini untuk menghadapi Indonesia emas. Jika tidak disiapkan, maka akan jadi Indonesia cemas. Satu permasalahan di pendidikan kita adalah learning loss. Apalagi sempat covid dan strateginya. Menurutnya, permasalahan seperti di video itu akan selalu ada dan harus diatasi," kata dosen FIP UM ini.
Tanda-tanda adanya learning loss adalah hilangnya keterampilan dan pengetahuan.
"Di sekolah mungkin bisa merasakan setelah Covid 19. Penyebabnya karena kurang interaksi siswa dan guru. Juga terkait keahlian kompetensi guru," kata Dedi.
Tapi jauh sebelum pandemi, learning loss sudah terjadi karena ada kesenjangan kualitas pendidikan antar wilayah.
Hanya di Jawa, Bali dan beberapa daerah di Sumatera yang masuk klaster satu.
Tapi daerah lain di luar itu sudah berbeda. Sehingga kehilangan roh belajarnya.
Siswa putus sekolah juga banyak dengan berbagai alasan termasuk ekonomi.
Bahkan ada yang sengaja berhenti. Di beberapa daerah, anak-anak sengaja berhenti sekolah untuk bekerja karena mendapat uang.
Salah satu contoh timbulnya learning loss adalah jika masa liburan sangat lama.
Agar tak terjadi itu, dukungan sekolah juga orangtua diperlukan agar saat libur, anak juga tetap berliterasi misallan dengan membaca agar tidak terjadi penurunan.
"Nah, saat Covid 19 itu, makin membuat penurunan tinggi. Sebab ada PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) dan tidak maksimalnya pembelajaran daring. Juga ada kebosanan karena tidak ketemu teman dan guru," ujar Dedi.
Namun upaya pembelajaran daring di saat ini, terutama di zaman digital masih bisa digunakan.
Di mana sekolah bisa mengembangkan LMS (Learning Management System) agar siswa terus bisa belajar.
Ia berharap setiap sekolah bisa memiliki LMS. Bisa juga memakai media sosial.
"Medsos jika diperlakukan dengan baik, maka akan memberi manfaat," tandasnya.
Untuk meningkatkan kualitas pendidikan, sekolah tidak harus sendiri tapi dengan seluruh stakeholder.
Maka keterlibatan pihak stakehokder, usaha dan industri harus dilakukan dan ditingkatkan agar tidak ada learning loss.
"Bahwa adanya leaning loss itu bukan kesalahan semuanya pada siswa," katanya. Guru sebagai motivator adalah dengan selalu memberi semangat belajar.
Sedang guru bisa jadi motivator dan fasilitator belajar. Guru sebagai fasilitator adalah mempermudah belajar misalkan dengan teknologi.
"Jadi guru harus bisa mengorkestrasi. Jadi dirigen. Karena kualitas anak-anak tidak sama dan perlu strategi belajar yang bervariasi. Selain itu ada beberapa cara untuk mengatasi learning loss dengan memberikan personalisasi belajar," katanya.
Ia bersyukur bahwa di pemerintahan sekarang ada dua menteri di bidang pendidikan tinggi dan dasar.
"Saya merasa dua menteri memberi angin segar. Tapi mungkin ada perubahan kurikulum lagi," pungkasnya.
Sedang Sherly Annavita Rahmi menjelaskan setengah penduduk Indonesia adalah generasi muda.
Maka perubahan itu adalah kepastian.
"Kita memaksimalkan masa sekarang adalah mempersiapkan masa depan," katanya.
Untuk membentuk karakter harus dibayar dengan penuh daya, disipilin dan waktu.
Ia lalu memceritakan pengalamannya saat diundang di sekolah-sekolah.
Dimana siswa sudah terpapar informasi di HP dengan sangat losnya.
"Saya kaget ketika bertanya pada seorang siswa SMP, 15 tahun lagi cita-citanya apa? Dia menjawab jadi koruptor," ceritanya.
Ia tak habis pikir siswa itu mendapatkan informasi dari mana. "Kalau jadi koruptor kan di penjara," kata Sherly pada siswa itu.
Tapi ia menjawab di penjara kan juga masih bisa enak.
"Saya sampai tak bisa bertanya lagi. Kenapa anak SMP sudah punya pemikiran seperti itu," ujarnya.
Juga ada pertanyaan dari guru SD di sebuah kesempatan di kota lain yang tidak habis pikir kenapa siswa kelas 3 SD sudah bertanya pada gurunya apa arti BO.
Gurunya sampai bingung mau menjawab apa.
"Anak muda sekarang sudah los dengan gadget. Ada peran candu HP," kata dia.
Jadi yang dikuasai pada anak muda adalah leher ke atas (cara berpikir).
"Ada judi online yang tanpa sadar muncul iklannya, pornografi. Mereka melihat di FYP," jawabnya. Sehingga tanpa sadar sudah diinjeksi informasi yang tidak baik. Sylvianita Widyawati
| Polemik Beli LPG 3 Kg di Distributor, Pemilik Pangkalan di Kota Malang sampai Bingung |
|
|---|
| UMKM Kota Malang Tak Peduli Harga Mahal, Yang Penting LPG 3 Kg Selalu Ada |
|
|---|
| Polemik Beli LPG 3 Kg di Pangkalan, Warga Kota Malang: Kebijakan Jangan Bikin Repot |
|
|---|
| Bisnis Akademi Wirausaha Mahasiswa Merdeka UB Malang, Maggot Jadi Pakan Kucing dan Busana Big Size |
|
|---|
| Puluhan Napi di Lapas Malang Lolos Kompetensi, Diwisuda Jadi Guru Al-Quran |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/seminar-YDSF.jpg)