BMKG Prediksi Musim Kemarau 2025 Dimulai Bertahap, Puncaknya di Pertengahan Tahun Ini

BMKG mengumumkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia telah mulai memasuki musim kemarau secara bertahap sejak April 2025.

|
Editor: iksan fauzi
SURYAMALANG.COM/ISTIMEWA/BMKG
PERGANTIAN MUSIM : Ilustrasi ladang jagung terkena pergantian musim. BMKG memprediksi musim kemarau 2025 dimulai bertahap dari April dan puncaknya di pertengahan tahun ini. 

Berdasarkan data BMKG, dari 699 ZOM yang dianalisis, sekitar 60 % wilayah atau 416 ZOM diprediksi mengalami musim kemarau normal.

Sementara itu, sekitar 26 % wilayah (185 ZOM) berpotensi mengalami kondisi lebih basah dari biasanya (atas normal), dan 14 % wilayah (98 ZOM) diprediksi akan lebih kering (bawah normal).

Adapun wilayah dengan prediksi musim kemarau normal mencakup sebagian besar Sumatera, Jawa bagian timur, Kalimantan, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

Di sisi lain, wilayah yang kemungkinan akan mengalami kemarau lebih basah dari rata-rata historisnya meliputi Aceh, Lampung, Jawa bagian barat dan tengah, Bali, NTB, NTT, beberapa wilayah Sulawesi, serta Papua tengah.

Sedangkan daerah yang diprediksi lebih kering dari biasanya termasuk wilayah utara Sumatera,
sebagian kecil Kalimantan Barat, Sulawesi bagian tengah, Maluku Utara, dan Papua bagian selatan.

Antisipasi Dampak: Perlu Strategi Adaptif Sektor Pertanian

Menghadapi prediksi ini, sektor pertanian dan kehutanan menjadi salah satu sektor paling krusial yang perlu waspada.

Variasi sifat kemarau dapat berdampak langsung terhadap produktivitas hasil panen dan risiko kebakaran hutan serta lahan, terutama di wilayah-wilayah dengan kecenderungan lebih kering dari biasanya.

Pemerintah daerah pun diimbau untuk segera melakukan mitigasi, seperti manajemen irigasi
pertanian, pemantauan hotspot secara berkala, dan edukasi masyarakat mengenai bahaya
kebakaran hutan saat musim kemarau.

Puncak Kemarau: Juni hingga Agustus 2025

BMKG juga menyampaikan bahwa puncak musim kemarau 2025 diprediksi terjadi pada pertengahan tahun, yaitu bulan Juni, Juli, dan Agustus.

Pada periode ini, suhu udara cenderung lebih tinggi dan curah hujan sangat minim, sehingga masyarakat diimbau untuk menghemat penggunaan air serta menjaga kesehatan dari paparan panas ekstrem.

"Puncak musim kemarau 2025 di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi terjadi pada Juni, Juli, dan Agustus 2025," tutup Dwikorita.

Dengan kondisi iklim yang semakin dinamis, masyarakat diharapkan lebih responsif terhadap
informasi cuaca dan iklim dari lembaga resmi seperti BMKG, guna meminimalisir dampak buruk dari perubahan musim yang terjadi. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved