UPDATE Cewek 15 Tahun Ditemukan di Hotel Setelah Hilang 19 Hari, Terbukti Dicekoki Sabu dan Dijual
Remaja perempuan yang sebentar lagi akan naik kelas sembilan di SMP Negeri Kota Surabaya itu, memang menunjukkan hasil tes positif mengonsumsi sabu
Penulis: Luhur Pambudi | Editor: Dyan Rekohadi
"Pakai sabu, bilangnya, semenjak kabur ini. Jadi ketemu orang-orang yang sama dia itu. Sudah 2 kali, katanya. Nanti hasil dari assessmen dari BNN seperti apa, kami akan cari tahu, kan kelihatan," katanya
Disinggung mengenai adanya dugaan bahwa sang anak juga menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Ida tak menampiknya.
Bahwa, sang anak diketahui sudah tiga kali dijajakan oleh salah satu teman perempuan berusia dewasa dalam kelompok tersebut untuk menjajakan kemolekan tubuhnya kepada pria hidung belang.
"Kemarin, ya dia sama teman-temannya itu. Ada perempuan dewasa 1 orang, yang mungkin jadi iya (muncikari). (Berhubung badan layani pelanggan) lupa saya, berapa kalinya. Tapi kalau selama kabur, kalau engga salah 3 kali, kayaknya, dapat pelanggan. Ya berkeliaran di hotel-hotel tengah kota," jelasnya.
Menurut Ida, sang anak terlibat dalam kelompok orang dewasa itu, karena terpengaruh pergaulan yang salah.
Selama ini, sang anak tinggal bersama ayah, kakek, dan pamannya. Ibunya, sudah tidak lagi tinggal bersama, semenjak berpisah dari ayahanda sang anak.
Mungkin, lanjutnya, sang anak merasa kehilangan sosok orangtua yang utuh dan selalu ada untuk mendampingi dirinya bertumbuh.
Apalagi, sang ayah selalu bekerja sampai larut malam. Sehingga, pertemuan dan komunikasi antara sang anak dengan ayahanda, terbilang kurang.
"Mungkin dia mau mencari sosok figur keluarga. Informasinya, ayahnya kerja sampai malam terus. Sepertinya dia mencari figur yang salah di tempat lain. Motifnya kabur karena murni karena pergaulan saja yang salah. Ya itu baru kali ini saja untuk kabur sampai 19 hari," ungkapnya.
Menurut Ida, peran keluarga dan keharmonisan hubungan kedua orangtua juga menentukan kondisi tumbuh kembang dan mentalitas sang sang anak.
Diharapkan komunikasi yang terjalin baik antara anak dan orangtua dapat memastikan anak memperoleh hak-haknya untuk tumbuh dan berkembang secara layak.
Perlu kiranya menciptakan situasi yang harmonis di dalam keluarga, sehingga anak dapat menyampaikan segala sesuatu secara jujur dan terbuka, mengenai kehidupan dengan temannya, gurunya, dan orang-orang di sekitarnya tempat tinggal.
Agar, para orangtua dapat memantau dan mengetahui apa yang baik dan tidak baik dilakukan oleh sang anak.
"Selama ini kami menggaungkan terus bahwa ketahanan keluarga itu yang sangat penting. Karena keluarga itu akan berefek kemana-mana. Kalau keluarga itu pecah pasti akan berdampak ke anak ke istri," pungkasnya.
Seperti diberiytakan sebelumnya, Kapolsek Tegalsari Polrestabes Surabaya Kompol Rizki Santoso mengatakan, sang anak berhasil ditemukan di sebuah hotel kawasan Kecamatan Tegalsari bersama lima orang temannya.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.