Tulungagung

Dampak Buruk Turun Hujan di Musim Kemarau, Sekitar 400 Hektar Lahan Tembakau di Tulungagung Mati

Dampak Buruk Turun Hujan di Musim Kemarau, Sekitar 400 Hektar Lahan Tembakau di Tulungagung Mati

Penulis: David Yohanes | Editor: Eko Darmoko
SURYAMALANG.COM/David Yohanes
TANAMAN TEMBAKAU MATI - Kondisi tanaman tembakau di Desa Waung, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur mati setelah dilanda hujan deras di saat musim kemarau basah. Hujan selama 2 hari di pekan lalu membuat lebih dari 400 hektar area tanam tembakau rusak. 

SURYAMALANG.COM, TULUNGAGUNG - Diperkirakan lebih dari 400 hektar tanaman tembakau di Kabupaten Tulungagung mati karena hujan di musim kemarau.

Hujan dalam intensitas tinggi terjadi hanya sekitar 2 hari di pekan lalu, namun kerusakan yang disebabkan pada tanaman tembakau meluas.

Lahan yang basah hingga terendam membuat tembakau mati secara perlahan-lahan.

Hujan di musim kemarau basah ini masih menjadi ancaman bagi tanaman tembakau yang masih selamat.

"Banyak yang mati, kerusakan tanaman tembakau hampir di semua desa yang punya area tanam," ujar Bendahara Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Tulungagung, Endri Cahyono, kepada SURYAMALANG.COM.

Kerusakan terjadi di Desa Bono dan Desa Waung di Kecamatan Boyolangu, Desa Gondosuli dan Desa Tawing Kecamatan Gondang, juga di Desa Kendalbulur Kecamatan Boyolangu yang selama ini menjadi andalan.

Baca juga: Wartawan Gadungan dari Malang dan Tulungagung Peras Kades di Trenggalek, Divonis Salah dan Dipenjara

Endri yang juga Ketua Kelompok Petani Tembakau Tani Makmur Desa Kendalbulur, mengatakan ada sekitar 20 hektar yang mati.

Jumlah ini tergolong minim jika dibanding wilayah desa-desa lain yang terendam air.

“Yang lain selamat karena lahannya lebih tinggi. Yang 20 hektar mati itu di lahan bengkok,” ungkapnya.

Saat ini luas tanam tembakau di Kabupaten Tulungagung sekitar 900 hektar.

Dari total luas area tanam ini, hampir setengahnya dipastikan mati dan gagal panen.

Tanaman tembakau yang mati mayoritas berusia 1 bulan hingga 2 bulan.

“Ada juga yang hampir panen di Desa Waung dan Desa Bono. Kurang 20 hari lagi sudah panen,” tambahnya.

Baca juga: Duda dan Janda Kencan Sambil Nginep di OYO Tulungagung, Endingnya Berakhir Tragis di Kantor Polisi

Endri memperkirakan, jika luas tanam yang rusak 400 hektar saja, kerugian yang dialami mencapai Rp 2 miliar.

Tanaman yang sudah wiwil pertama bisa dimanfaatkan untuk krosok, atau daun tembakau yang dikeringkan.

Harganya pun turun jauh, hanya sekitar Rp 15.000 hingga Rp 20.000 per kilogram.

“Harganya jauh sekali jika dijadikan tembakau rajangan kering. Paling tidak sedikit mengurangi kerugian,” ucapnya.

Saat ini harga tembakau Tulungagung tembus Rp 130.000 per kilogram.

Endri meyakini harga akan terus naik karena jumlah panen yang terbatas karena banyak yang mati.

Karena itu Endri berharap agar hujan intensitas tinggi tidak lagi turun agar tanaman tembakau yang ada bisa panen.

“Kalau selamat dari hujan, pertengahan September (2025) ini sudah panen. Harganya pasti mahal karena barangnya langka,” tegasnya.

Saat ini Endri juga mendatangkan daun tembakau basah dari wilayah Kabupaten Magetan.

Tembakau ini dirajang dengan metode patik, atau dirajang dengan gagangnya untuk memasok permintaan pabrik rokok di Tulungagung.

Namun harganya masih di bawah tembakau hasil dari Tulungagung sendiri. 

Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved