Jumat, 5 Juni 2026

Surabaya

Produksi Kopi Jawa Timur Tercatat Tembus 78800 Ton Setahun

Pemprov Jatim terus mendorong pengembangan sektor perkebunan kopi sebagai salah satu komoditas unggulan daerah.

Tayang:
Penulis: Fatimatuz Zahro | Editor: Eko Darmoko
SURYAMALANG.COM/Luluul Isnainiyah
ILUSTRASI - Wisata edukasi kopi di Bungker Kopi Sido Luhur, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang, Minggu (1/2/2026). Lokasi ngopi ini berada di lereng Gunung Kawi. 

Ringkasan Berita:
  • Pemprov Jatim fokus dalam pengembangan sektor perkebunan kopi sebagai salah satu komoditas unggulan daerah
  • Upaya tersebut ditopang oleh tingginya produksi kopi yang pada tahun 2025 mencapai 78.800 ton
  • Besarnya produksi tersebut menempatkan Jawa Timur sebagai salah satu daerah penghasil kopi utama di Indonesia

SURYAMALANG.COM, SURABAYAPemprov Jatim terus mendorong pengembangan sektor perkebunan kopi sebagai salah satu komoditas unggulan daerah.

Upaya tersebut ditopang oleh tingginya produksi kopi yang pada tahun 2025 mencapai 78.800 ton.

Besarnya produksi tersebut menempatkan Jawa Timur sebagai salah satu daerah penghasil kopi utama di Indonesia. 

Meski demikian, konsumsi kopi masyarakat di Jawa Timur masih belum mampu menyerap seluruh hasil panen yang dihasilkan petani.

Plt Kepala Dinas Perkebunan Jawa Timur, Heru Suseno, mengatakan konsumsi kopi di Jawa Timur saat ini diperkirakan berada di angka 34.000 ton per tahun atau sekitar 50 persen dari total produksi.

“Tahun 2025 kemarin, produksi kami bisa sampai 78.800 ton."

"Nah, kalau bicara konsumsi memang Jawa Timur ini walaupun penghasil kopi, tetapi konsumsinya masih 50 persen, sekitar 34.000 ton, tetapi ini data kan masih harus dicek ya,” ujar Heru, Kamis (4/6/2026). 

Baca juga: Hotel Tugu Malang dan Blitar Hadirkan Sensasi Panen Kopi di Lereng Gunung Kelud

Menurut Heru, kondisi tersebut menunjukkan Jawa Timur masih memiliki surplus produksi kopi yang cukup besar.

Kelebihan produksi itu kemudian dipasarkan ke berbagai wilayah lain di Indonesia maupun ke pasar ekspor.

Namun demikian, distribusi kopi antardaerah tidak semata-mata dilakukan karena adanya surplus produksi.

Heru menjelaskan, setiap daerah penghasil kopi memiliki karakteristik varietas dan cita rasa yang berbeda karena dipengaruhi faktor agroklimat.

Karena itu, perdagangan kopi antarwilayah lebih banyak didorong oleh kebutuhan pasar dan industri yang membutuhkan beragam jenis kopi dengan karakter rasa yang berbeda.

“Surplus itu kan kemudian kalau kopi itu polanya tidak bisa punya Jawa Timur dikirim ke luar provinsi misalnya Sulawesi, Sumatra."

"Kami bertukar karena varietas dari masing-masing wilayah itu sangat beda dan agroklimatnya beda-beda,” jelasnya.

Ia menambahkan, Jawa Timur memiliki posisi penting dalam rantai industri kopi nasional.

Sumber: SuryaMalang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved