Surabaya
Produksi Kopi Jawa Timur Tercatat Tembus 78800 Ton Setahun
Pemprov Jatim terus mendorong pengembangan sektor perkebunan kopi sebagai salah satu komoditas unggulan daerah.
Penulis: Fatimatuz Zahro | Editor: Eko Darmoko
Ringkasan Berita:
- Pemprov Jatim fokus dalam pengembangan sektor perkebunan kopi sebagai salah satu komoditas unggulan daerah
- Upaya tersebut ditopang oleh tingginya produksi kopi yang pada tahun 2025 mencapai 78.800 ton
- Besarnya produksi tersebut menempatkan Jawa Timur sebagai salah satu daerah penghasil kopi utama di Indonesia
SURYAMALANG.COM, SURABAYA – Pemprov Jatim terus mendorong pengembangan sektor perkebunan kopi sebagai salah satu komoditas unggulan daerah.
Upaya tersebut ditopang oleh tingginya produksi kopi yang pada tahun 2025 mencapai 78.800 ton.
Besarnya produksi tersebut menempatkan Jawa Timur sebagai salah satu daerah penghasil kopi utama di Indonesia.
Meski demikian, konsumsi kopi masyarakat di Jawa Timur masih belum mampu menyerap seluruh hasil panen yang dihasilkan petani.
Plt Kepala Dinas Perkebunan Jawa Timur, Heru Suseno, mengatakan konsumsi kopi di Jawa Timur saat ini diperkirakan berada di angka 34.000 ton per tahun atau sekitar 50 persen dari total produksi.
“Tahun 2025 kemarin, produksi kami bisa sampai 78.800 ton."
"Nah, kalau bicara konsumsi memang Jawa Timur ini walaupun penghasil kopi, tetapi konsumsinya masih 50 persen, sekitar 34.000 ton, tetapi ini data kan masih harus dicek ya,” ujar Heru, Kamis (4/6/2026).
Baca juga: Hotel Tugu Malang dan Blitar Hadirkan Sensasi Panen Kopi di Lereng Gunung Kelud
Menurut Heru, kondisi tersebut menunjukkan Jawa Timur masih memiliki surplus produksi kopi yang cukup besar.
Kelebihan produksi itu kemudian dipasarkan ke berbagai wilayah lain di Indonesia maupun ke pasar ekspor.
Namun demikian, distribusi kopi antardaerah tidak semata-mata dilakukan karena adanya surplus produksi.
Heru menjelaskan, setiap daerah penghasil kopi memiliki karakteristik varietas dan cita rasa yang berbeda karena dipengaruhi faktor agroklimat.
Karena itu, perdagangan kopi antarwilayah lebih banyak didorong oleh kebutuhan pasar dan industri yang membutuhkan beragam jenis kopi dengan karakter rasa yang berbeda.
“Surplus itu kan kemudian kalau kopi itu polanya tidak bisa punya Jawa Timur dikirim ke luar provinsi misalnya Sulawesi, Sumatra."
"Kami bertukar karena varietas dari masing-masing wilayah itu sangat beda dan agroklimatnya beda-beda,” jelasnya.
Ia menambahkan, Jawa Timur memiliki posisi penting dalam rantai industri kopi nasional.
| Emil Dardak Pastikan Program MBG di Jatim Berjalan Baik, Telah Sasar 8,9 Juta Penerima Manfaat |
|
|---|
| Duka Haji Kloter 12 Malang: Satu Jemaah Meninggal 30 Menit Jelang Landing, Satu Lagi Wafat di Bus |
|
|---|
| Jalan Keluar saat Harga Telur Anjlok, Pemprov Jatim Gelontor Jagung SPHP, Sudah Tersalur 1691 Ton |
|
|---|
| Wajah Jukir Resmi Surabaya Kini Dipajang di 819 Titik Parkir, Dishub: Kalau Beda Silakan Lapor! |
|
|---|
| Tragedi Jalur Pendakian Pasuruan: 2 Mahasiswi Dibegal, Temannya Disabet Sajam Terima 18 Jahitan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/Wisata-edukasi-kopi-di-Bungker-Kopi-Sido-Luhur-Kecamatan-Kromengan-Kabupaten-Malang.jpg)