Selasa, 7 April 2026

Lintami Terus Nangis Liat Rumahnya Roboh Tertimpa Longsor

Di rumah itu, yang tersisa hanyal bantal, guling, kasur, dan tilam bambu, tempat ia duduk saat ini. Selain itu, semuanya hilang.

Editor: fatkhulalami

SURYAMALANG.COM, BLIMBING - Air mata Ny Lintami (55), masih keluar saat bertemu SURYAMALANG.COM, Sabtu (7/3/2015) siang. Ibu empat anak ini sedih karena bangunan rumahnya hancur akibat longsor.

Lintami merupakan warga jalan Wiroto II, Kelurahan Polehan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Jawa Tumur yang menjadi korban longsor.

"Semua barangnya ada di bawah. Tidak ada yang berani mengambilnya," ungkap Lintami sambil menunjuk jurang yang dalamnya sekitar 50 meter. Jurang tersebut ada di samping kanan rumah Lintami.

Lintami bercerita, peristiwa nahas itu berlangsung pada Jumat (6/3/2015) sore. Ketika itu hujan deras, disertai angin kencang sedang mengguyur Kota Malang. Lamanya, dua jam.

Saat itu rumah Lintami dihuni suaminya, Sujito (63). Sementara, ibu empat anak ini saat itu sedang bekerja di sebuah pabrik tembakau. Ia baru pulang sekitar pukul 16.00.

"Saat saya baru sampai, suami saya langsung bilang. 'Bu, iki omahe rubuh (ini rumahnya roboh)," kata Lintami.

Seketika itu, Lintami menangis. Ia merasa terpukul karena rumahnya, yang semula berukuran 5 x 5 meter kini tinggal separuhnya. Sepeda, pakaian, kasur dan beberapa perapot lain di dalam rumah tersebut juga tertimbun longsor.

Di rumah itu, yang tersisa hanyal bantal, guling, kasur, dan tilam bambu, tempat ia duduk saat ini. Selain itu, semuanya hilang. Rumah yang sudah 25 tahun ia tempati, tinggal kenangan.

Tidak hanya Lintami yang menjadi korban longsor. Maimunah (45), dan Sumiati (46), dua tetangga lintami yang lain, yang rumahnya berhimpitam dengan keluarga pasukan kuning di Kota Malang juga harus menanggung akibat longsoran tadi.

Meski demikian, rumah dua tetangga Lintami ini masih beruntung. Rumah mereka hanya mengalami dinding retak di bagian dapur. Sementara, Lintami rumahnya sudah rubuh ke jurang.

Diduga, penyebab rumah itu ambruk karena tak adanya plengsengan, yang dapat menahan tanah dibawah rumah. Satu-satunya penahan tanah di sana, dari pantauan Surya adalah dua akar bambu yang pohonnya sudah mati. Pohon itu juga ikit jatuh ke jurang kemarin.

(Adrianus Adhi)

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved