Malang Raya
Pedagang Pasar Dinoyo Tak Keberatan Retribusi, tapi
“Kami juga menunggu seluruh perjanjian hitam di atas putih. Misalnya untuk besaran nilai retribusi, selama ini baru ada pembicaraan dan kesepakatan,"
Penulis: Aflahul Abidin | Editor: fatkhulalami
SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Pedagang Pasar Terpadu Dinoyo Kota Malang yang sudah menyelesaikan proses administrasi dan bisa menempati kios atau meja mengaku tak keberatan dengan retrebusi yang disampaikan investor, PT Citra Gading Asritama (CGA), sebesar Rp 2000 sampai Rp 3500 per hari.
Nilai itu dianggap lebih masuk akal meski lebih besar dibanding retribusi rata-rata pasar tradisional.
Pedagang setuju sebab besaran retribusi sudah direvisi. Beberapa waktu lalu, mereka mendapat edaran yang salah satu isinya menyampaikan bahwa besaran retribusi mencapai Rp 8000 per hari.
“Kalau Rp 8000 per hari tentu memberatkan pedagang yang bisa jadi pendapatan bersih mereka tak sebanyak itu. Cuma kalau Rp 2000, masih normal lah,” kata Juru Bicara Paguyupan Pedagang Pasar Dinoyo, Khusaini, Minggu (27/12/2015).
Meski sudah sepakat dengan retribusi, pedagang masih menunggu waktu untuk berpindah kembali ke pasar tersebut. Mereka baru mau menempati pasar itu apabila investor sudah menuntaskan pembangunan fisik dan tuntutan para pedagang.
Meski investor mengklaim pembangunan sudah mendekati 100 persen, para pedagang yang sudah menyelesaikan adminstrasi meminta agar kekurangan yang sudah mereka sampaikan diperbaiki dulu.
Kekurangan yang dimaksud meliputi, jarak beberapa meja yang masih terlalu dekat dengan dinding pembatas bagian belakang, salurah air yang belum menyeluruh untuk semua kios, dan pemasangan alat penerangan yang belum merata.
Khusaini mengatakan, para pedagang siap menempati apabila seluruh masalah itu tuntas. “Kalau saluran air ke kios-kios belum merata, misalnya, bagaimana para pedagang yang membutuhkan air untuk berjualan bisa beraktivitas? Jadi, kami sepakat menunggu investor menyelesaikan PR-nya terlebih dulu,” tambah dia.
Pedagang akan menunggu sebelum setelah soft-opening dibuka 26 Desember lalu. Jangka waktu itu juga akan dimanfaatkan untuk penyelesaian adminstrasi para pedagang yang belum menyelesaikannya. Para pedagang, lanjutnya, akan berpindah jika adminstrasi beres dan mayoritas pedagang sudah menerima kunci kios dan kartu tanda serah terima meja.
Pada hari pertama pembukaan, para pedagang memang masih belum berencana memindah barang-barang. Hanya terlihat beberapa orang datang untuk menilik dan mengecek stan masing-masing.
“Kami juga menunggu seluruh perjanjian hitam di atas putih. Misalnya untuk besaran nilai retribusi, selama ini baru ada pembicaraan dan kesepakatan lisan. Kami ingin ada perjanjian tertulisnya,” tambah dia.
Berbagai permintaan itu membuat operasional Pasar Terpadu Dinoyo molor.
“Molor-molor sedikit tak apa lah. Yang penting beres pengerjaannya,” ujarnya. Sekadar diketahui, Pasar Dinoyo mestinya harus beroperasi sebelum tahun berakhir. Namun, beberapa kendala membuat membukaan itu mundur hingga Februari tahun depan.
Sebelumnya, Direktur Opersional PT CGA Jufri Naz menjelaskan, besaran retribusi Rp 2500 sampai Rp 3500 per hari sebenarnya belum menutup pengeluaran investor untuk biaya keamanan dan kebersihan. Sebab itu, investor mengaku harus mensubsidi retribusi untuk para pedagang. Meski pasar belum beroperasi, sebanyak 46 petugas sudah disiagakan.
“Ada atau tidak ada pedagang dan aktivitas jual-meli, mereka tetap stand by di pasar,” ungkap Jufri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/pedagang-pasar-dinoyo_20151119_131351.jpg)