Senin, 11 Mei 2026

Kabupaten Malang

Karnaval Sound Horeg di Sutojayan Malang, Gambaran Mesin Penggerak Ekonomi Pedesaan

Citra Puji Lestari salah satu MUA yang merias peserta karnaval mengaku jika selama musim karnaval bisa mendapatkan cuan jutaan rupiah. 

Tayang:
Penulis: Purwanto | Editor: Dyan Rekohadi
SURYAMALANG.COM/PURWANTO
SOUND HOREG - Warga mengikuti gelaran karnaval Sutojayan Carnival dengan sound horeg di Desa Sutojayan, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten pada Sabtu (27/9/2025). 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Fenomena sound horeg, kini telah menjamur di Jawa Timur, salah satunya di Kabupaten Malang

Terlepas dari pro dan kontra ditengah masyarakat seperti volume suara yang ekstrem bisa mencapai 130 dB (desibel) ke atas, karnaval sound horeg menyimpan banyak cerita di dalamnya. 

Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Jawa Timur dan Jember mengeluarkan fatwa haram terhadap sound horeg karena dinilai lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. 

Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Kepolisian berusaha menyeimbangkan antara kebolehan penggunaan sound system dengan aturan keamanan di jalan, batas desibel, dan norma agama. 

Meski banyak pro dan kontra namun Sound Horeg juga mendapat respon dari para pelaku yang terlibat didalamnya. 

Mulai dari penjual makanan atau UMKM, perias atau MUA hingga pengusaha sound itu sendiri. 

Selain itu bagi pecinta musik, sound horeg menjadi ajang rekreasi yang menyenangkan. 

Ini adalah kesempatan untuk melepas penat, menikmati musik dengan teman-teman, dan bersosialisasi dengan orang baru. 

Sound Horeg juga dapat mempererat hubungan sosial antar warga atau komunitas tertentu.

Tribun Jatim Network berkesempatan melihat secara langsung salah satu karnaval budaya dengan menggunakan sound horeg di Kabupaten Malang yakni di Desa Sutojayan, Kecamatan Pakisaji, pada Sabtu (27/9/2025). 

Kemeriahan karnaval sudah terjadi sejak, Jumat (26/9/2025) malam. Mereka melakukan cek sound serta gladi bersih sebelum pelaksanaan. 

Salah satu peserta karnaval, Eka Putri (17) warga Desa Sutojayan RT 2 RW 2 itu mengaku telah mempersiapkan gelaran tersebut sejak dua bulan terakhir. 

Ia bersama warga RT nya juga rela merogoh kocek untuk menyewa sound dan kostum serta merias saat karnaval. 

"Kami sudah sejak lama mempersiapkan, mulai dari iuran warga hingga melatih gerakan sejak dua bulan terakhir," terang Eka sapaan akrabnya. 

Ia mengaku meski dada dan telinga sakit tidak menyurutkan niatnya untuk mengikuti karnaval. 

Sumber: SuryaMalang
Halaman 1/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved