Kamis, 30 April 2026

Kota Malang

Janji Menanam Kembali Pohon di Jalan Suhat Berpotensi Diingkari oleh Pemkot Malang

DLH Kota Malang menyebut kendala utama untuk menanam kembali pohon ada pada keterbatasan ruang tanam akibat dominasi beton di area gorong-gorong

Tayang:
Penulis: Benni Indo | Editor: Dyan Rekohadi
SURYAMALANG.COM/Benni Indo
TIDAK BISA DITANAM POHON - Kondisi proyek gorong-gorong di Jalan Sukarno-Hatta yang telah rampung dikerjakan, Rabu (21/1/2026). Penanaman kembali pohon di area jalan ini tidak memungkinkan karena lahan telah berubah menjadi beton. 

“Kalau model pot, bisa ditaruh. Ukurannya satu meter lebih tingginya. Tapi kemarin dalam rapat dibicarakan, karena masih masa pemeliharaan finishing, kalau dipasang pot sekarang dikhawatirkan bisa terbongkar,” ujarnya.

Alasan ini justru memperlihatkan kebingungan arah kebijakan.

Di satu sisi, pemerintah ingin cepat menghadirkan wajah kota yang memiliki ruang terbuka hijau.

Di sisi lain, urusan dasar seperti konsep penghijauan justru belum matang ketika proyek selesai.


Raymond juga menyebut ada lebih dari 2.000 bibit sebagai bentuk pengganti pohon yang ditebang.

Namun bibit-bibit tersebut tidak ditanam di Jalan Sukarno-Hatta. Bibit-bibit pohon ditanam di lokasi lain.

“Polinema menanam 1.000 bibit. Sisanya kami sebar ke Wonokoyo, Kedungkandang, Tunggulwulung dan ke 57 kelurahan. Setiap kelurahan dapat 56 bibit,” jelasnya.

Raymond mengatakan untuk menanam kembali, tidak harus pohon pelindung. Bisa pohon hias. 

Kini publik hanya bisa menunggu hasil rapat koordinasi yang belum jelas ujungnya.

Baca juga: Awalnya Berlubang, Kini Tembok Proyek Gorong-gorong Jalan Soekarno Hatta Kota Malang Dibongkar

 

Pesan Kritis dari Walhi


Di tempat terpisah, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Timur menilai proyek tersebut terlalu menekankan aspek infrastruktur, namun mengabaikan fungsi ekologis pohon dan kawasan resapan air.

Direktur Eksekutif WALHI Jatim, Pradipta Indra, mengatakan sejak awal, mereka menyoroti isu penebangan pohon dan hilangnya area resapan akibat pembangunan drainase.

“Yang jadi highlight waktu itu soal pohon dan resapannya. Drainase ini harus memotong dan menutup resapan. Dengan dalih pohon di dalam pot, itu tidak menjawab masalah,” kata Pradipta.

Menurutnya, pohon yang tumbuh di sempadan jalan dan sungai memiliki fungsi penting sebagai penyerap air dan penyangga lingkungan.

Jika pohon ditebang lalu diganti dengan tanaman dalam pot, fungsi ekologisnya tidak akan maksimal.

“Kalau menanam dari awal pun, itu memulai dari nol. Dengan pot, fungsinya tidak maksimal juga,” ujarnya.

Sumber: SuryaMalang
Halaman 2/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved