Kamis, 16 April 2026

Kota Malang

Tahun Kuda Api 2026, Kelenteng Eng An Kiong Kota Malang Ajak Pemimpin dan Warga Jaga Harmoni

Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 di Kelenteng Eng An Kiong Kota Malang berlangsung khidmat, Selasa (17/2/2026).

Penulis: Benni Indo | Editor: Frida Anjani
SURYAMALANG.COM/PURWANTO
IMLEK - Umat Tionghoa melakukan sembahyang saat Tahun Baru Imlek 2026 di Klenteng Eng An Kiong Kota Malang, Jawa Timur, Selasa (17/2/2026). Tahun Baru Imlek 2026 atau 2577 Kongzili di Klenteng Eng An Kiong Kota Malang tidak hanya menjadi pusat ibadah umat Tri Dharma (Tao, Buddha, dan Konghucu), tetapi juga dikenal sebagai ruang terbuka bagi masyarakat lintas keyakinan. 

Ia menegaskan bahwa doa bagi keselamatan negara selalu menjadi bagian penting dari sembahyang di kelenteng.

“Kami selalu berdoa agar negara terhindar dari hal-hal buruk. Itu harapan rakyat Indonesia, bukan hanya umat Tridharma,” imbuhnya.

Perayaan Tahun Baru Imlek di Kelenteng Eng An Kiong dijadwalkan berlangsung hingga beberapa hari ke depan, dengan rangkaian sembahyang lanjutan dan kegiatan kebudayaan.

Laily Lin, warga DKI Jakarta yang mengikuti Imlek di Klenteng Eng An Kiong mengaku takjub dengan kemeriahan yang ada. Lon yang juga mahasiswa tersebut baru pertama kali mengikuti kegiatan Imlek di Klenteng Eng An Kiong.

Ia senang melihat corak bangunan yang menurutnya sangat tradisional. Paduan warna merah yang mendominasi semakin menyemarakan klenteng.

"Saya tadi juga melihat ada patung di pojokan yang saya kira itu bercorak Budha," terangnya.

Lin sendiri adalah umat Muslim, namun memiliki garis keturunan Tionghoa. Dalam suasana kebahagiaan itu, Lin menilai Imlek selalu menjadi momentum merekatkan nilai-nilai kemanusiaan tanpa melihat latar belakang agama.

"Kami selalu berkumpul dan berbahagia bersama," katanya.

Mariana, umat Muslim asal Sawojajar mengaku sengaja datang ke Klenteng Eng An Kiong untuk melihat suasana Imlek. Ia datang bersama rekannya.

"Ingin tahu saja sih, jadi tadi melihat lihat di dalam klenteng. Suasananya meriah, banyak yang sembahyang," kata Mariana. 

Ia juga mengaku merasakan nilai toleransi yang kuat di dalam Klenteng Eng An Kiong. Sebab, para tamu umum juga dipersilahkan masuk untuk sekedar melihat ataupun berkunjung. 

"Toleransinya ada, kami dipersilahkan masuk dan diterima dengan baik meski kami berhijab. Malah kami berdua ngobrol enak sama umat Tionghoa," ungkapnya. 

Ia berharap semua umat dapat hidup rukun berdampingan dimanapun berada. Baginya, toleransi adalah ajaran yang kuat untuk mempersatukan bangsa. 

Ikuti saluran SURYAMALANG di >>>>> WhatsApp 

Sumber: SuryaMalang
Halaman 2/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved