Memilih Takjil Sehat Ramadan 2026
Waspadai Makanan dan Minuman Berwarna Mencolok saat Berburu Takjil di Bulan Ramadhan
Ia sadar bahwa tidak semua jajanan aman dari penggunaan bahan kimia, apalagi permintaan meningkat ketika Ramadhan.
Penulis: Benni Indo | Editor: Eko Darmoko
Ringkasan Berita:
- Taman Krida Budaya Kota Malang berubah menjadi arena berburu takjil saat bulan Ramadhan
- Deretan pedagang takjil memenuhi sisi jalan, menghadirkan aroma bermacam jajanan yang menggoda
- Aneka hidangan disajikan mulai dari kolak pisang, pastel, es buah, sate ayam, cilok, hingga aneka kue basah yang disusun rapi dalam tampah
SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG – Menjelang waktu berbuka puasa, Taman Krida Budaya di Kota Malang selalu berubah menjadi lautan manusia.
Setiap sore sepanjang Ramadhan, deretan pedagang takjil memenuhi sisi jalan, menghadirkan aroma bermacam jajanan yang menggoda, mulai dari kolak pisang, pastel, es buah, sate ayam, cilok, hingga aneka kue basah yang disusun rapi dalam tampah.
Suasana yang bising namun hangat itu menjadi pemandangan khas Ramadhan bagi warga.
Di antara keramaian tersebut, seorang mahasiswa bernama Azka Awaludin tampak menyusuri lapak-lapak takjil dengan tas selempang di pundak dan mata yang teliti menelusuri setiap pilihan makanan. Ia bersama teman-temannya yang lain berburu takjil.
Mahasiswa semester empat itu mengaku hampir setiap hari berburu takjil di Taman Krida karena variasi makanannya sangat beragam dan harganya ramah di kantong mahasiswa.
Namun, di tengah banyaknya pilihan, Azka tetap selektif. Ia sadar bahwa tidak semua jajanan aman dari penggunaan bahan kimia, apalagi permintaan meningkat ketika Ramadhan.
Untuk mengantisipasi makanan yang memiliki bahan kimia tidak baik, Azka melihat dari corak warnanya.
Baca juga: Pedagang di Kota Malang Utamakan Kualitas dan Keamanan Minuman di Tengah Ramainya Pembeli Takjil
“Saya biasanya lihat dari warnanya dulu. Kalau warnanya terlalu mencolok, apalagi terang banget, saya langsung skip. Biasanya itu pakai pewarna yang bukan untuk makanan,” ujarnya.
Ia melanjutkan langkahnya sambil mengamati cara pedagang menyiapkan makanan. Bagi Azka, kebersihan menjadi indikator lainnya.
Ia lebih memilih pedagang yang memakai sarung tangan atau penjepit, serta menutup dagangan dengan plastik mika.
"Kalau jajanan yang dibiarkan terbuka, rawan kena debu atau asap motor. Jalanan kan ramai banget, lalu lintasnya padat,” katanya.
Keramaian itu benar adanya. Antrean pembeli terus mengular, suara tawar-menawar terdengar nyaring, sementara aroma makanan hangat bercampur dengan suara klakson kendaraan yang merayap pelan di ruas jalan.
Ramadan seolah menjadi magnet bagi seluruh warga sekitar untuk datang ke Pasar Takjil ini.
Baca juga: Dosen FK UB Malang Ingatkan Bahaya Boraks dan Formalin di Balik Segarnya Takjil Ramadhan
Azka kemudian berhenti di lapak es buah. Ia menilai kesegaran bahan merupakan poin penting.
"Saya lihat dulu buahnya. Kalau sudah kecoklatan atau terlalu bening karena kebanyakan es, biasanya saya hindari."
| Belum Ditemukan Kandungan Makanan Berbahaya, Dinkes Kabupaten Malang Cek Pasar Takjil Secara Senyap |
|
|---|
| Pedagang di Kota Malang Utamakan Kualitas dan Keamanan Minuman di Tengah Ramainya Pembeli Takjil |
|
|---|
| Dosen FK UB Malang Ingatkan Bahaya Boraks dan Formalin di Balik Segarnya Takjil Ramadhan |
|
|---|
| Penjual Takjil di Kota Batu Pakai Bahan Sehat Karena Makanan yang Dijual Juga Dikonsumsi Keluarganya |
|
|---|
| Cermati Sebelum Membeli, Dinkes Kota Batu Bagi-bagi Tips Memilih Takjil yang Aman Selama Ramadhan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/Suasana-Pasar-Takjil-di-Taman-Krida-Kota-Malang-saat-Ramadan-1447-H-Minggu-2222026.jpg)