Kota Malang
Rupiah Tembus Rp 18000 per Dolar AS, Guru Besar UM Ungkap Penyebab hingga Dampaknya bagi Masyarakat
Pelemahan nilai tukar rupiah yang mencapai Rp 18.038 per dolar Amerika Serikat (AS) menjadi perhatian banyak pihak
Penulis: Mochammad Rifky Edgar Hidayatullah | Editor: Eko Darmoko
Ringkasan Berita:
- Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Malang (UM), Prof Dr Puji Handayati SE MM Ak CA CMA, menilai melemahnya rupiah bukan semata-mata akibat penguatan dolar Amerika Serikat
- Menurutnya, terdapat berbagai faktor ekonomi global dan domestik yang saling berinteraksi sehingga menekan nilai tukar mata uang Indonesia
- Berdasarkan teori permintaan dan penawaran valuta asing, kurs mata uang ditentukan oleh interaksi antara kebutuhan dan ketersediaan mata uang asing di pasar
SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG - Pelemahan nilai tukar rupiah yang mencapai Rp 18.038 per dolar Amerika Serikat (AS) menjadi perhatian banyak pihak, Jumat (5/6/2026).
Kondisi tersebut sebagai salah satu titik terendah rupiah dalam lima tahun terakhir dan dinilai berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat, iklim investasi, hingga stabilitas ekonomi nasional.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Malang (UM), Prof Dr Puji Handayati SE MM Ak CA CMA, menilai melemahnya rupiah bukan semata-mata akibat penguatan dolar Amerika Serikat.
Menurutnya, terdapat berbagai faktor ekonomi global dan domestik yang saling berinteraksi sehingga menekan nilai tukar mata uang Indonesia.
Prof Puji menjelaskan, berdasarkan teori permintaan dan penawaran valuta asing, kurs mata uang ditentukan oleh interaksi antara kebutuhan dan ketersediaan mata uang asing di pasar.
"Ketika permintaan terhadap dolar AS meningkat, sementara pasokan dolar di pasar domestik relatif terbatas, maka nilai dolar akan menguat dan rupiah akan terdepresiasi," ucapnya.
Baca juga: Dolar Naik, Produsen Keripik Tempe Sanan Kota Malang Menjerit, Harga Kedelai dan Plastik Ikut Naik
Ia menambahkan, kondisi global saat ini turut mempercepat arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Ketegangan geo politik seperti konflik Israel-Iran, perang Rusia-Ukraina, hingga lonjakan harga minyak dunia membuat investor lebih memilih instrumen investasi yang dianggap aman.
Menurut Prof Puji, fenomena tersebut sejalan dengan teori Interest Rate Parity (IRP), yakni perbedaan tingkat suku bunga antarnegara dapat memengaruhi perpindahan modal internasional.
"Ketika bank sentral AS mempertahankan tingkat suku bunga yang tinggi untuk mengendalikan inflasi, investor global cenderung memindahkan dana mereka ke instrumen keuangan AS yang menawarkan imbal hasil lebih menarik dan risiko relatif rendah," jelasnya.
Tidak hanya terhadap dolar AS, rupiah juga mengalami pelemahan terhadap mata uang regional seperti dolar Singapura dan ringgit Malaysia.
Kondisi itu menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak semata berasal dari Amerika Serikat.
Ia menilai, Singapura dan Malaysia saat ini memiliki daya tarik investasi yang kuat karena didukung sektor manufaktur berteknologi tinggi dan posisi sebagai pusat keuangan regional.
Akibatnya, sebagian investor memilih menempatkan modalnya di negara-negara tersebut dibandingkan di Indonesia.
Selain faktor ekonomi, ia juga menyoroti pentingnya komunikasi kebijakan pemerintah dan otoritas moneter dalam menjaga kepercayaan pasar.
| J&T Express Dukung Mahasiswa Kembangkan Bisnis dan Buka Easy Drop di Universitas Brawijaya Malang |
|
|---|
| Lawan Limbah Makanan, Grand Mercure Malang Mirama dan Unikama Luncurkan Gerakan Beyond Waste |
|
|---|
| Perda Penyelenggaraan Parkir di Kota Malang yang Baru Beri Penjelasan Tarif Gratis di Lahan Parkir |
|
|---|
| Penambahan Koridor dan Armada Bus Trans Jatim di Malang Raya Masih Menunggu Kepastian Pemprov Jatim |
|
|---|
| Jeritan Pedagang Lalapan Malang: Omzet Turun 30 Persen, Terbantu Cabai Murah Warung Tekan Inflasi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/Universitas-Negeri-Malang-UM-Prof-Dr-Puji-Handayati-SE-MM-Ak-CA-CMA.jpg)