Kota Malang
Rupiah Tembus Rp 18000 per Dolar AS, Guru Besar UM Ungkap Penyebab hingga Dampaknya bagi Masyarakat
Pelemahan nilai tukar rupiah yang mencapai Rp 18.038 per dolar Amerika Serikat (AS) menjadi perhatian banyak pihak
Penulis: Mochammad Rifky Edgar Hidayatullah | Editor: Eko Darmoko
Mengacu pada Expectation Theory, ekspektasi pelaku pasar sering kali lebih berpengaruh dibandingkan kondisi ekonomi aktual.
"Apabila investor menilai bahwa pemerintah dan otoritas moneter mampu menjaga stabilitas ekonomi melalui komunikasi yang jelas dan konsisten, maka kepercayaan pasar akan meningkat."
"Sebaliknya, ketidakpastian komunikasi kebijakan dapat memicu sentimen negatif yang mendorong pelemahan nilai tukar," katanya.
Meski demikian, peelemahan rupiah tidak selalu membawa dampak negatif.
Di sektor ekspor, kondisi ini justru dapat menjadi keuntungan karena produk Indonesia menjadi lebih murah dan kompetitif di pasar internasional.
Pendapatan eksportir yang diterima dalam dolar AS juga akan meningkat nilainya ketika dikonversi ke rupiah.
Namun, Prof Puji mengingatkan bahwa manfaat tersebut hanya akan terasa apabila kinerja ekspor mampu mengimbangi kebutuhan impor nasional.
Jika tidak, Indonesia berisiko mengalami inflasi impor, yakni kenaikan harga barang akibat mahalnya biaya impor bahan baku dan produk dari luar negeri.
"Kenaikan harga produk impor akan meningkatkan biaya produksi pada berbagai sektor sehingga mendorong kenaikan harga barang dan jasa secara umum," ujarnya.
Baca juga: Rupiah Makin Melemah Terhadap Dolar AS, Pakar UB Malang Ingatkan Masyarakat Jangan Panik
Menurutnya, risiko yang lebih besar adalah penurunan daya beli masyarakat serta meningkatnya beban pembayaran utang luar negeri yang sebagian besar menggunakan denominasi dolar AS.
"Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengurangi daya beli masyarakat dan memperlambat pertumbuhan ekonomi."
"Risiko lainnya adalah meningkatnya beban pembayaran utang luar negeri pemerintah maupun sektor swasta yang sebagian besar berdenominasi dolar AS," ungkapnya.
Karena itu, Prof Puji mendorong Bank Indonesia untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar dan langkah-langkah pengendalian volatilitas jangka pendek.
Di sisi lain, pemerintah juga perlu memperkuat fundamental ekonomi nasional agar kepercayaan investor tetap terjaga.
Ia menilai pelemahan rupiah seharusnya menjadi momentum untuk mempercepat transformasi ekonomi Indonesia menuju sistem yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
"Pemerintah perlu memperkuat fundamental ekonomi, sementara masyarakat perlu meningkatkan literasi keuangan, mencintai produk dalam negeri, serta mendorong peningkatan ekspor," tandasnya.
Baca juga: Distributor Kedelai di Kota Malang Sebut Pelemahan Rupiah Terhadap Dolar Tak Berdampak Signifikan
| J&T Express Dukung Mahasiswa Kembangkan Bisnis dan Buka Easy Drop di Universitas Brawijaya Malang |
|
|---|
| Lawan Limbah Makanan, Grand Mercure Malang Mirama dan Unikama Luncurkan Gerakan Beyond Waste |
|
|---|
| Perda Penyelenggaraan Parkir di Kota Malang yang Baru Beri Penjelasan Tarif Gratis di Lahan Parkir |
|
|---|
| Penambahan Koridor dan Armada Bus Trans Jatim di Malang Raya Masih Menunggu Kepastian Pemprov Jatim |
|
|---|
| Jeritan Pedagang Lalapan Malang: Omzet Turun 30 Persen, Terbantu Cabai Murah Warung Tekan Inflasi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/Universitas-Negeri-Malang-UM-Prof-Dr-Puji-Handayati-SE-MM-Ak-CA-CMA.jpg)