Kota Malang
Guru Besar UWG : Kenaikan BBM Non Subsidi Bisa Menekan UMKM Lewat Biaya Logistik
Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi dinilai tetap berpotensi memengaruhi geliat UMKM
Penulis: Benni Indo | Editor: Eko Darmoko
Ringkasan Berita:
- Guru Besar Akuntansi Sektor Publik, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Widyagama (UWG) Malang, Profesor Ana Sopanah Supriyadi mengatakan, dampak kenaikan BBM non subsidi tidak selalu dirasakan secara langsung oleh UMKM
- Namun, efeknya dapat merambat melalui kenaikan biaya distribusi dan rantai pasok
- Kenaikan harga BBM non subsidi dinilai tetap berpotensi memengaruhi geliat UMKM, meskipun sebagian besar pelaku usaha akar rumput masih menggunakan BBM subsidi untuk aktivitas sehari-hari
SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi dinilai tetap berpotensi memengaruhi geliat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), meskipun sebagian besar pelaku usaha akar rumput masih menggunakan BBM subsidi untuk aktivitas sehari-hari.
Guru Besar Akuntansi Sektor Publik, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Widyagama (UWG) Malang, Profesor Ana Sopanah Supriyadi mengatakan, dampak kenaikan BBM non subsidi tidak selalu dirasakan secara langsung oleh UMKM. Namun, efeknya dapat merambat melalui kenaikan biaya distribusi dan rantai pasok.
“Menurut saya, kenaikan BBM non subsidi tetap berpotensi memengaruhi geliat UMKM, termasuk sektor ekonomi akar rumput. Meskipun sebagian besar UMKM tidak menggunakan BBM non subsidi secara langsung, dampaknya tetap bisa dirasakan melalui kenaikan biaya transportasi, distribusi, dan logistik,” kata Ana Sopanah kepada SURYAMALANG.COM, Minggu (14/6/2026).
Ia menjelaskan, ketika biaya transportasi meningkat, biaya tersebut akan diteruskan oleh distributor dan pemasok kepada pelaku usaha di tingkat bawah. Akibatnya, harga bahan baku dan berbagai kebutuhan produksi menjadi lebih mahal dibandingkan sebelumnya.
“Pada akhirnya biaya produksi dan operasional UMKM ikut meningkat sehingga margin keuntungan mereka menjadi lebih kecil,” ujarnya.
Selain menekan keuntungan pelaku usaha, kenaikan biaya energi juga berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat. Menurut Ana, masyarakat yang harus mengalokasikan lebih banyak pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari cenderung mengurangi konsumsi barang dan jasa di luar kebutuhan utama.
Padahal kelompok masyarakat tersebut merupakan pasar utama bagi sebagian besar UMKM.
“Kalau biaya hidup masyarakat naik, daya beli juga bisa menurun. Ini tentu berdampak pada penjualan UMKM,” katanya.
Baca juga: Antisipasi Inflasi Imbas Kenaikan BBM, Pemkot Malang Genjot Pasokan Pangan, Kerja Sama Antardaerah
Ana menilai dampak terbesar kenaikan BBM non subsidi justru muncul melalui mekanisme rantai pasok atau supply chain effect. Sebab, banyak perusahaan distribusi, pemasok bahan baku, jasa ekspedisi, hingga transportasi barang menggunakan BBM non subsidi dalam operasionalnya.
Ketika biaya transportasi naik, biaya tersebut akan dibebankan kepada konsumen berikutnya dalam rantai distribusi.
“Distributor, pemasok bahan baku, dan perusahaan ekspedisi banyak menggunakan BBM non subsidi. Ketika biaya transportasi meningkat, biaya itu akan diteruskan ke harga bahan baku dan barang yang diterima UMKM,” ujarnya.
Menurutnya, fenomena tersebut merupakan konsekuensi yang lazim terjadi dalam sistem ekonomi modern yang saling terhubung. Karena itu, dampak kenaikan harga energi tidak hanya dirasakan sektor transportasi, tetapi juga perdagangan, industri, pertanian, hingga usaha mikro.
Ana menjelaskan bahwa dari perspektif ekonomi, kenaikan harga BBM non subsidi merupakan konsekuensi mekanisme pasar yang dipengaruhi oleh harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Harga BBM non subsidi cenderung mengikuti perkembangan biaya produksi dan kondisi ekonomi global.
“Secara ekonomi, penyesuaian harga BBM non subsidi merupakan konsekuensi dari mekanisme pasar. Harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah menjadi faktor yang sangat memengaruhi,” katanya.
Ia mengingatkan pemerintah perlu memastikan agar kenaikan harga energi tidak memicu tekanan inflasi yang berlebihan dan mengganggu aktivitas sektor produktif.
Baca juga: UMKM Kota Malang Mulai Tertekan Akibat Harga BBM Naik, Daya Beli Melemah saat Harga Bahan Baku Naik
Universitas Widyagama (UWG)
UWG Malang
Kota Malang
Bahan Bakar Minyak (BBM)
SURYAMALANG.COM
UMKM
BBM nonsubsidi
Ana Sopanah Supriyadi
| UMKM Kota Malang Mulai Tertekan Akibat Harga BBM Naik, Daya Beli Melemah saat Harga Bahan Baku Naik |
|
|---|
| Antisipasi Inflasi Imbas Kenaikan BBM, Pemkot Malang Genjot Pasokan Pangan, Kerja Sama Antardaerah |
|
|---|
| Warga Gadingkasri Kota Malang Bareng BINUS University Sukses Dongkrak Nilai Jual Limbah Plastik |
|
|---|
| Rute Trans Jatim Malang–Kepanjen Segera Rilis Tahun Ini, Tarif Tetap Rp5.000 Jauh-Dekat |
|
|---|
| Latja di Malang, Taruna Akpol Angkatan 58 Kunjungi Korban Tragedi Kanjuruhan hingga Carikan Kerja |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/Profesor-Ana-Sopanah-Supriyadi-Guru-Besar-Akuntansi-Sektor-Publik-FEB-Universitas-Widyagama.jpg)