Senin, 15 Juni 2026

Kota Malang

Guru Besar UWG : Kenaikan BBM Non Subsidi Bisa Menekan UMKM Lewat Biaya Logistik

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi dinilai tetap berpotensi memengaruhi geliat UMKM

Tayang:
Penulis: Benni Indo | Editor: Eko Darmoko
ISTIMEWA
GURU BESAR - Profesor Ana Sopanah Supriyadi, Guru Besar Akuntansi Sektor Publik FEB Universitas Widyagama (UWG) Malang. Ia berpendapat, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi dinilai tetap berpotensi memengaruhi geliat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), meskipun sebagian besar pelaku usaha akar rumput masih menggunakan BBM subsidi untuk aktivitas sehari-hari. 

Ringkasan Berita:
  • Guru Besar Akuntansi Sektor Publik, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Widyagama (UWG) Malang, Profesor Ana Sopanah Supriyadi mengatakan, dampak kenaikan BBM non subsidi tidak selalu dirasakan secara langsung oleh UMKM
  • Namun, efeknya dapat merambat melalui kenaikan biaya distribusi dan rantai pasok
  • Kenaikan harga BBM non subsidi dinilai tetap berpotensi memengaruhi geliat UMKM, meskipun sebagian besar pelaku usaha akar rumput masih menggunakan BBM subsidi untuk aktivitas sehari-hari

SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi dinilai tetap berpotensi memengaruhi geliat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), meskipun sebagian besar pelaku usaha akar rumput masih menggunakan BBM subsidi untuk aktivitas sehari-hari.

Guru Besar Akuntansi Sektor Publik, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Widyagama (UWG) Malang, Profesor Ana Sopanah Supriyadi mengatakan, dampak kenaikan BBM non subsidi tidak selalu dirasakan secara langsung oleh UMKM. Namun, efeknya dapat merambat melalui kenaikan biaya distribusi dan rantai pasok.

“Menurut saya, kenaikan BBM non subsidi tetap berpotensi memengaruhi geliat UMKM, termasuk sektor ekonomi akar rumput. Meskipun sebagian besar UMKM tidak menggunakan BBM non subsidi secara langsung, dampaknya tetap bisa dirasakan melalui kenaikan biaya transportasi, distribusi, dan logistik,” kata Ana Sopanah kepada SURYAMALANG.COM, Minggu (14/6/2026).

Ia menjelaskan, ketika biaya transportasi meningkat, biaya tersebut akan diteruskan oleh distributor dan pemasok kepada pelaku usaha di tingkat bawah. Akibatnya, harga bahan baku dan berbagai kebutuhan produksi menjadi lebih mahal dibandingkan sebelumnya.

“Pada akhirnya biaya produksi dan operasional UMKM ikut meningkat sehingga margin keuntungan mereka menjadi lebih kecil,” ujarnya.

Selain menekan keuntungan pelaku usaha, kenaikan biaya energi juga berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat. Menurut Ana, masyarakat yang harus mengalokasikan lebih banyak pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari cenderung mengurangi konsumsi barang dan jasa di luar kebutuhan utama.

Padahal kelompok masyarakat tersebut merupakan pasar utama bagi sebagian besar UMKM.

“Kalau biaya hidup masyarakat naik, daya beli juga bisa menurun. Ini tentu berdampak pada penjualan UMKM,” katanya.

Baca juga: Antisipasi Inflasi Imbas Kenaikan BBM, Pemkot Malang Genjot Pasokan Pangan, Kerja Sama Antardaerah

Ana menilai dampak terbesar kenaikan BBM non subsidi justru muncul melalui mekanisme rantai pasok atau supply chain effect. Sebab, banyak perusahaan distribusi, pemasok bahan baku, jasa ekspedisi, hingga transportasi barang menggunakan BBM non subsidi dalam operasionalnya.

Ketika biaya transportasi naik, biaya tersebut akan dibebankan kepada konsumen berikutnya dalam rantai distribusi.

“Distributor, pemasok bahan baku, dan perusahaan ekspedisi banyak menggunakan BBM non subsidi. Ketika biaya transportasi meningkat, biaya itu akan diteruskan ke harga bahan baku dan barang yang diterima UMKM,” ujarnya.

Menurutnya, fenomena tersebut merupakan konsekuensi yang lazim terjadi dalam sistem ekonomi modern yang saling terhubung. Karena itu, dampak kenaikan harga energi tidak hanya dirasakan sektor transportasi, tetapi juga perdagangan, industri, pertanian, hingga usaha mikro.

Ana menjelaskan bahwa dari perspektif ekonomi, kenaikan harga BBM non subsidi merupakan konsekuensi mekanisme pasar yang dipengaruhi oleh harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Harga BBM non subsidi cenderung mengikuti perkembangan biaya produksi dan kondisi ekonomi global.

“Secara ekonomi, penyesuaian harga BBM non subsidi merupakan konsekuensi dari mekanisme pasar. Harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah menjadi faktor yang sangat memengaruhi,” katanya.

Ia mengingatkan pemerintah perlu memastikan agar kenaikan harga energi tidak memicu tekanan inflasi yang berlebihan dan mengganggu aktivitas sektor produktif.

Baca juga: UMKM Kota Malang Mulai Tertekan Akibat Harga BBM Naik, Daya Beli Melemah saat Harga Bahan Baku Naik

Sumber: SuryaMalang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 00:00 WIB
Germany
Jerman
7 - 1
Curacao
Curacao
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 03:00 WIB
Netherlands
Belanda
2 - 2
Japan
Jepang
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ivory Coast
Pantai Gading
1 - 0
Ecuador
Ekuador
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 09:00 WIB
Sweden
Swedia
5 - 1
Tunisia
Tunisia
Grup H - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 23:00 WIB
Spain
Spanyol
VS
Cape Verde
Tanjung Verde
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved