Malang Raya

Tiga Ormas ini Bubarkan Demo Papua Merdeka di Malang

“Mereka yang ada di Papua adalah saudara kami. Tapi kalau ada keinginan untuk lepas, berarti mereka menjadi lawan kami,”

Penulis: Aflahul Abidin | Editor: fatkhulalami
SURYAMALANG.COM/Hayu Yudha Prabowo
Polisi memisahkan aksi Aliansi Mahasiswa Papua dan Ormas FKPPI yang bergabung dengan Banser NU di Jalan Tugu, Kota Malang, Jumat (1/7/2016). Massa aksi FKPPI dan Banser NU berusaha membubarkan aksi AMP yang dinilai mengkampanyekan pemisahan diri wilayah Papua Barat dari NKRI. 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN – Demo Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Komite Kota Malang di jalan depan Gedung DPRD Kota Malang di Jalan Tugu, Kecamatan Klojen, dilawan dengan demo penentangan dari tiga ormas sekaligus, yakni Pemuda Pancasila (PP), Forum Komunikasi Putra-putri Purnawirawan TNI Polri (FKPPI), dan Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser).

Meski sempat bersitegang lewat kata-kata dan orasi, tak ada bentrok fisik dalam demo itu.

Demo AMP yang diikuti oleh puluhan anggota AMP itu menyuarakan tentang kemerdekaan Papua dan keinginan untuk lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Para orator secara bergantian meneriakkan dengan pengeras suara mini tentang perlunya perlepasan status kenegaraan wilayah tertimur Indonesia itu.

Di saat yang bersamaan demonstran dari PP, FKPPI, dan Banser juga meneriakkan ketidaksepahaman mereka terhadap aksi AMP itu. Mereka menganggap aksi tersebut berpotensi mengulik Kota Malang yang mereka nilai sudah kondusif.

Bahkan, untuk menentang aksi itu, para demonstran dari tiga ormas ini membawa spanduk besar bertuliskan “Tidak Ada Tempat bagi Gerakan Separatis di Malang”.

Seratusan aparat Polres Malang Kota berjaga dalam aksi demo itu. Akibat banyaknya masa dari keempat ormas itu, arus lalu lintas di Jalan Tugu yang mestinya satu arah sempat diberlakukan dua arah selama demo berlangsung. Demo berakhir setelah masa PP, FKPPI, dan Banser menggiring pendemo AMP meninggalkan lokasi.

Bagi tiga ormas yang menolak demo itu, aksi AMP dinilai mengganggu keutuhan negara.

“Tidak sekadar kebebasan berpendapat. Kami hormati kebebasan itu. Tapi kalau itu mengganggu keutuhan negara, itu adalah suatu hal yang akan kami sikapi,” kata Umar Usman, Kasat Korwil Banser Jawa Timur, usai membubarkan AMP.

Dalam kurun dua bulan terkahir, demo AMP ini adalah aksi yang kedua. Sebelumnya demo yang menyuarakan hal yang sama juga digelar di lokasi yang sama persis. Menurutnya, aksi AMP bisa membuat suasana damai di Kota Malang pecah.

“Mereka yang ada di Papua adalah saudara kami. Tapi kalau ada keinginan untuk lepas, berarti mereka menjadi lawan kami,” tambah pria asal Malang itu.

Aksi para mahasiswa itu juga dianggap tidak menghormati warga asli tempat mereka berdemo. Kota Malang, kata dia, adalah kota yang terbuka bagi seluruh warga daerah lain. Akan tetapi, Banser tidak bisa menerima toleransi apabila warga luar membuat aksi-aksi yang berpotensi membawa kerusuhan dan keamanan.

Sementara Ketua Umum PD XIII GM FKPPI Jawa Timur Agoes Soerjanto berharap, demo-demo semacam tidak akan terjadi lagi. Pihaknya akan mendatangi AMP untuk berdiskusi dan meminta agar aksi semacam tak diulangi kembali. Jika aksi tetap terulang, pihaknya FKPPI siap untuk kembali menentang tanpa aksi kekerasan.

“Tidak bisa ditawar lagi. Komponen bangsa itu sudah final. Jangan mempertanyakan kembali soal kedaulatan dan sebagainya. Setelah ini, kami dan akan masuk ke teman-teman Papua. Kalau mereka tetap kaku, kami akan berada di depan. Ini tugas kami,” tambahnya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved