Senin, 13 April 2026

Malang Raya

Kampung Warna-Warni Kota Malang Butuh ‘Bapak Asuh’, Ini Alasannya . . .

Dampak dari pola asuh nanti, sebagai objek wisata binaan, tamu bisa didatangkan untuk wisata city tour. Usaha perjalanan wisata bisa menjual paketnya

SURYAMALANG.COM/Hayu Yudha Prabowo
Kondisi pemukiman warga di pinggiran Sungai Brantas yang dicat warna-warni di RW 9, Kelurahan Jodipan, Kota Malang, Kamis (16/6/2016). Pengecatan warna warni puluhan rumah ini membuat pemukiman yang semula nampah kumuh ini terlihat lebih berwarna dan segar 

SURYAMALANG.COM, BLIMBING - Faidhal Rahman, pengamat pariwisata dari Universitas Brawijaya (UB) Malang menyatakan, Kampung Warna-Warni Jodipan adalah sebuah terobosan baru yang berdampak positif pada wisata. Sebab sekarang lokasinya menjadi destinasi wisata.

"Wisata saat ini sedang lesu," kata Faid, dosen di Pendidikan Vokasi UB ini kepada SURYAMALANG.COM, Kamis (1/9/2016). Namun jika hanya mengandalkan kondisi atau warna-warni, maka berpotensi tidak bertahan lama. Sehingga harus digagas memberi tambahan wisata baru.

Misalkan dengan menggelar festival, kesenian dll untuk mendukung keberadaannya. Dengan memperbanyak even, maka bisa memperpanjang usia wisata di lokasi itu.

Misalkan dengan mengundang wisatawan. Atau mengundang mahasiswa internasional di Malang untuk mempromosikan kampung itu dan daya tariknya.

Setidaknya ketika selfie di kampung itu dan mengunggahnya di media sosial lewat alat komunikasi, maka mudah dilihat orang lain. Untuk mengawal kampung wisata itu, perlu bekerja sama semua pihak.

"Butuh komitmen dari pengelola dari kampung dan pemerintah memfasilitasi. Misalkan lewat pendanaan, program, promosi agar mendapatkan akses CSR, misalnya," kata Ketua Prodi D4 Manajemen Perhotelan UB ini.

Agar hidup, maka perlu bapak asuh. "Ya kampung ini bisa menjadi semacam model wisata asuh dari banyak perusahaan," kata dia. Namun jangan digarap sendiri-sendiri, namun bersama.

"Bisa hotel, mal dll. Dengan pola asuh, maka kemitraan akan jelas. Dengan begitu akan selalu ada pendampingan," kata dia. Untuk skimnya bagaimana, Pemkot Malang Bisa membuat regulasinya. Untuk legitimasinya, pemerintah bisa memberikan sertifikat.

Dampak dari pola asuh nanti, sebagai objek wisata binaan, tamu bisa didatangkan untuk wisata city tour. Usaha perjalanan wisata bisa menjual paketnya. Produk warga bisa ditampilkan untuk dijual dsb. Sehingga perekomian di sana bisa berkembang.

Menurut dia, model bapak asuh wisata di Kota Malang belum pernah ada. Namun di luar negeri, seperti Jerman sudah ada. Ini bisa diadopsi. Untuk even-even, Pemkot Malang bisa mengomunikasikan ke bapak asuhnya.

Menurut dia, kalau hanya berhenti di kampung warna warni, maakan mengalami stagnansi. "Warna warni, keberagaman bisa diambil spiritnya keberadaan dan kulturismenya dalam konteks pariwisata," kata dia.

Ditegaskan dia, Prodi Manajemen Perhotelan (D4) dan Prodi Usaha Perjalanan Wisata (D3) Pendidikan Vokasi UB siap menjadi bapak asuh.

"Kita nanti bisa melatih dan kami siap berkomunikasi dengan pemerintah dan pengelola untuk menjadi bapak asuh kampung warna-warni," kata Faid. Soal mekanismenya, pihaknya akan mengikuti Pemkot Malang dan pengelola.

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved