Kamis, 7 Mei 2026

Rokok Elektrik

Omzet Penjualan Rokok Elektrik Tembus Rp 6 Triliun Setahun

ASOSIASI PERSONNAL VAPORIZER memperkirakan, pengguna vape di Indonesia mencapai 1 juta orang. Selamat tinggal untuk rokok kuno?

Tayang:
Editor: yuli
Harian SURYA
Harian SURYA, 18 Februari 2018. 

SURYAMALANG.COM | SURABAYA - Bisnis rokok elektrik atau terkenal dengan sebutan vape di Indonesia menunjukkan tren positif pada 2017.

Sejak pertama kali beredar luas pada 2013, bisnis vape sempat mengalami naik turun dan mencapai puncaknya pada tahun lalu.

Berdasarkan data Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI), penjualan mencapai Rp 5–6 triliun.

Perhitungan omzet vape tersebut mengalami kenaikan 100 persen dibandingkan 2016.

“Faktor yang membuat omzet meningkat tajam adalah jumlah pedagang,” kata Humas APVI Rhomedal.

Data APVI menunjukkan, ada sekitar 3.500 pedagang vape di Indonesia.

Selain itu, juga banyak pedagang vape yang berjualan di market place (online).

Jika ditotal, Rhomedal memperkirakan jumlahnya mencapai 5.000.

“Paling dominan pulau Jawa. Jawa adalah barometernya,” sambungnya.

Sebagai industri baru, omzet tersebut terbilang cukup besar.

Meskipun jika dibandingkan dengan omzet rokok, nilai itu masih terbilang kecil.

Dari hasil perhitungan itu, APVI juga memperkirakan jumlah pengguna vape di Tanah Air sudah mencapai 1 juta orang.

Tren menjamurnya vape di Indonesia bermula pada 2013.

Saat itu, terang Rhomedal, para penjual peralatan dan cairan untuk vape mulai bermunculan.

Sebenarnya vape sudah masuk di Indonesia sejak 2010. Ketika itu, kondisinya masih belum booming.

“2014 baru mulai kelihatan, 2015 booming, dan 2017 betul-betul di titik puncaknya. Ini terlihat dari skalanya yang mulai membesar,” ungkap dia.

Pada 2016, kondisi bisnis vape di Indonesia sempat drop.

Menurut dia, tidak adanya ketidakpastian dari pemerintah ketika itu membuat para pedagang takut berkomitmen.

“Karena belum ada yang mengatur, industrinya kurang kompak,” pungkasnya.

Khusus di Surabaya, tren vape sedikit berbeda.

Di Kota Pahlawan ini, vape mulai menjamur pada 2014.

Setahun setelahnya, penjulan vape justru anjlok karena berbagai macam isu.

Tahun 2016, vape justru booming. Sementara tahun lalu, kondisi bisnisnya justru menurun.

Agung Subroto (33), salah satu pengusaha vape di Surabaya, mempercayai penurunan bisnis vape pada tahun ini bukan sekadar akibat isu pengenaan cukai 57 persen.

Ia lebih percaya bisnis vape turun, karena kondisi ekonomi yang kurang baik.

“Buktinya semua bisnis juga banyak yang turun. Tidak cuma ini,” ujarnya.

Sebagai pebisnis, ia tak khawatir ihwal rencana pengenaan cukai 57 persen.

Meski angka itu besar, ia menganggap regulasi tersebut justru membuat bisnis vape lebih mudah untuk berkembang.

“Sekarang ini, kita dibilang legal juga enggak, dibilang ilegal juga enggak,” tuturnya.

Dari pengalaman Agung berbisnis vape sejak 2014, liquid atau cairan vape yang dijual di pasar Surabaya mayoritas adalah produk lokal.

Di tokonya yang juga sebuah kafe di Jalan Kombes M Duryat, 70 produk yang dijual adalah produk lokal.

“Yang impor mayoritas dari USA (Amerika), Tiongkok. Kalau yang lokal banyak. Sekarang ini lebih banyak lokal yang kenceng lakunya di pasaran,” katanya.

Cairan vape lokal, kata dia, lebih menarik bukan karena harga.
Alasannya, liquid lokal yang berkualitas harganya juga berimbang dengan liquid impor.

Agung, yang juga pengguna vape, menyebut, vape lokal lebih laris karena karakteristik rasa yang lebih cocok bagi orang Indonesia.

Di Surabaya, penjualan liquid lokal mulai tinggi sejak 2016.

“Kalau produsen, mereka ada yang buat di Tiongkok, kemudian dilabeli di Indonesia. Ada juga yang buatnya di sini,” ungkapnya.

Untuk liquid impor, Agung lebih memilih untuk membeli dari distributor.
Beberapa tahun lalu, ia pernah mencoba mendatangkan langsung dari negara asal.

Namun cara itu akhirnya justru membuat susah.

“Liquid saya tertahan sampai beberapa bulan. Susah kalau tidak ada kejelasan,” tambah Agung.

Catatan APVI, secara nasional liquid lokal juga mendominasi, bahkan mencapai 80 persen.

Pasar liquid impor cukup tinggi di Surabaya ketimbang nasional, karena distributor besar liquid vape dari Amerika ada di Surabaya.

“Kalau di Surabaya, produk USA mungkin banyak. Tapi kalau kita bilang nasional, seperti Jawa dan Bali keseluruhan, mayoritas pasti lokal,” ujar Rhomedal. (Aflahul Abidin/M Taufik)

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved