Kisah Soesilo Toer, Baru Saja Pulang dari Rusia Langsung Dipenjara 6 Tahun (2)

SOESILO TOER. Doktor asal Blora. Dia dituding antek komunis hanya karena dia lulus dari jurusan politik dan ekonomi di Rusia.

KOMPAS.com/PUTHUT DWI PUTRANTO
Soesilo Toer saat ditemui Kompas.com di rumahnya di Jalan Sumbawa Nomor 40, Kelurahan Jetis, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Kamis (31/5/2018) sore. 

"Saya dapat ganti untung ratusan juta. Uang itu saya pakai modal hidup di Blora termasuk renovasi rumah," kata Soes.‎

Rumah di Blora adalah warisan keluarga besar Toer.

Rumah sederhana yang sudah rapuh termakan usia dengan segala macam kenangannya.

Rumah yang menyimpan memorinya bersama kakaknya, Pramoedya Ananta Toer.

Kini, rumah bersejarah berdinding kayu usang dan tembok retak itu tidak terawat.

Bahkan, pagar masuk menuju rumah itu reyot memprihatinkan.‎ Pagar bersusun kayu setinggi 70 meter‎ itu sudah tak kuat berdiri karena konstruksinya hancur di mana-mana, diganjal kayu dan tali.‎

Di sekitar rumah, terdapat berbagai jenis tanaman. Ada pohon pisang, srikaya, dan pepaya. Di rumah itu dibangun sebuah perpustakaan kecil yang diberi nama Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa (Pataba).

Selain untuk mengenang sang kakak, perpustakaan mini itu juga diwujudkan untuk mendorong generasi muda setempat gemar membaca.‎

Soes sendiri mewarisi bakat kakaknya dalam menulis. Hingga saat ini Sus sudah menerbitkan sekitar 20 buku hasil karyanya.

"Katanya rumah ini mau dibangun oleh pemerintah‎. Tapi belum tahu kapan," kata Soes.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Soes memulung, juga bercocok tanam, beternak ayam dan kambing bersama istrinya.

Ada sekitar 50 ekor ayam dan 16 ekor kambing. Hewan-hewan ternaknya itu dibiarkan saja berkeliaran.

Bahkan terkadang kambing dan ayam itu masuk rumah.‎ Soes bergerak memunguti sampah bernilai jual mulai sehabis maghrib hingga dini hari di wilayah perkotaan Blora.

Tak menentu juga durasinya, bergantung banyak tidaknya barang bekas yang menumpuk di keranjang yang ditumpang di atas jok motor bututnya.‎

Hasil memulungnya itu tidak hanya untuk diuangkan, tetapi juga dimanfaatkan untuk makan ternak.‎

Sepulang memulung, hasilnya dipilah-pilah dan ditata rapi di halaman rumah.‎ Bagi Soes yang bergelar doktor politik dan ekonomi di Rusia, memulung sampah bukanlah pekerjaan hina.

Soes malah bangga karena selain halal, dia secara tak langsung ikut membantu membersihkan sampah kota.

Apalagi, Soes sudah tidak menanggung beban berat karena anak semata wayangnya, Benee Santoso, telah dewasa dan bekerja di luar kota.

"Saya menikmati apa pun itu proses kehidupan. Saya tidak menyesal, malu, dan menangis. Ini sudah suratan takdir Tuhan.‎ Memulung itu pekerjaan mulia dan halal. Apa yang salah. Biarkan mereka ngomong apa. Dari hasil memulung, kami bisa hidup‎. Seminggu sekali bisa kantongi Rp 150.000," pungkasnya.

ARTIKEL TERKAIT:

Kisah Soesilo Toer, Doktor asal Blora Kini Jadi Pemulung (1)

Kisah Soesilo Toer, Baru Saja Pulang dari Rusia Langsung Dipenjara 6 Tahun (2)

Kisah Soesilo Toer: Mas‎ Pram itu PNI, Bukan PKI (3)

 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kisah Soesilo Toer Dituding PKI, Jadi Pemulung Lalu Bangun Perpustakaan untuk Sang Kakak (2)", https://regional.kompas.com/read/2018/06/04/15430691/kisah-soesilo-toer-dituding-pki-jadi-pemulung-lalu-bangun-perpustakaan-untuk?

Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved