Tulungagung

Slogan Bhineka Tunggal Ika Karangan Gayatri yang Abunya Disimpan di Candi Gayatri, Tulungagung

Dri Gayatri, lahirlah raja ke-3 Majapahit, Tribuwana Tunggadewi yang merupakan nenek Hayam Wuruk, raja yang membawa Mapapahit mencapai kejayaan.

Penulis: David Yohanes | Editor: yuli
david yohanes
Grebek Bhineka Tunggal Ika - Sebuah meja panjang berisi aneka tumpeng diserbu oleh warga di Lapangan Desa/Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, Selasa (20/11/2018). 

SURYAMALANG.COM, TULUNGAGUNG - Sebuah meja panjang berisi aneka tumpeng diserbu oleh warga di Lapangan Desa/Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, Selasa (20/11/2018).

Tumpeng aneka jenis, mulai dari tumpeng kuning, tumpeng merah putih, sekul suci ulamsari, tumpeng brokohan ini adalah lambang dari keberagaman.

Aneka tumpeng ini adalah bagian dari kegiatan Grebek Bhineka Tunggal Ika.

Grebek Bhineka Tunggal Ika merupakan buah pemikiran berbagai pihak, termasuk akademisi, tentang lahirnya slogan pemersatu bangsa.

Slogan ini diketahui dicetuskan oleh Gayatri, istri raja pertama Majapahit, Raden Wijaya yang bergelar Kertarajasa Jayawardhana.

Nagarakretagama menyebutkan, Raden Wijaya menikahi empat putri Raja Singhasari, Kertanagara: Tribhuwana bergelar Tribhuwaneswari, Mahadewi bergelar Narendraduhita, Jayendradewi bergelar Prajnyaparamita, dan Gayatri bergelar Rajapatni.

Selain itu, ia juga memiliki seorang istri dari Melayu bernama Dara Petak bergelar Indreswari.

Dri Gayatri, lahirlah raja ke-3 Majapahit, Tribuwana Tunggadewi yang merupakan nenek Hayam Wuruk, raja yang membawa Mapapahit mencapai kejayaan.

Petilasan sang ratu kini bisa dijumpai berupa Candi Gayatri di Desa/Kecamatan Boyolangu. Candi ini diyakini sebagai tempat penyimpanan abu Gayatri.

“Grebek Bhineka Tunggal Ika untuk mengenang sejarah pendirian negara Indonesia. Semangat perekat menuju persatuan dan nilai luhur yang menjadi roh NKRI,” terang Plt Bupati Tulungagung, Maryoto Birowo.

Menurut Ketua Panitia Grebek Bhineka Tunggal, Sukriston, Gayatri telah melahirkan ide Bhineka Tunggal Ika sejak era kerajaan Singosari. Bahkan pemikiran ini sudah ada, sebelum ditulis dalam kitab Sutasoma oleh Empu Tantular.

“Gajah Mada adalah salah satu didikan dari Gayatri. Makanya Gajah Mada punya semangat untuk menyatukan Nusantara,” terang Sukriston.

Karena itu Tulungagung dianggap penting dalam perjalanan Gayatri, dan lahirnya Bhineka Tunggal Ika.

Semangat ini yang kini dihidupkan di tingkat lokal Tulungagung, untuk merangkul semua golongan. Ada sekitar 3000 peserta dari para pemangku adat, penghayat kepercayaan, pondok pesantren dan lintas umat yang terlibat.

“Ini adalah jawaban kegelisahan masyarakat Tulunaggung di tengah isu intoleransi dan perselisihan antar kelompok. Harapannya Tulungagung tetap damai, rukun agar masyarakat bisa bekerja dengan tenang,” tegas Sukriston.

Lebih jauh diharapkan, generasi muda Tulungagung memahami arti penting Bhineka Tunggal Ika dalam perjalanan bangsa. Pemikiran cemerlang Gayatri ini terbukti bisa perekat persatuan di tengah keberagaman.

“Kami berharap anak muda Tulungagung meneruskan cita-cita ibu Gayatri. Menciptakan perdamaian di tengah keberagaman masyarakat,” tandas Sukriston.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved