Malang Raya
Program Menyongsong Meteor Milik Gus Romli Jadi Isu Hangat
Di Pondok Pesantren Miftahul Falahil Mubtadiin, Desa Sukosari, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang memiliki program Menyongsong Meteor.
Penulis: Sany Eka Putri | Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM, KASEMBON - Di Pondok Pesantren Miftahul Falahil Mubtadiin, Desa Sukosari, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang memiliki program Menyongsong Meteor.
Program ini sudah berjalan sejak tiga tahun lalu hingga sekarang.
Program inilah yang diduga dijadikan bahan untuk membuat isu tidak benar.
Pengasuh Ponpes Romli Soleh Syaifudin mengatakan program ini adalah bentuk antisipasi terjadinya salah satu dari 10 tanda kiamat yakni adanya hantaman meteor di bulan ramadhan.
“Program itu sudah sejak tiga tahun berjalan lalu. Kenapa kok baru sekarang ramai. Itu yang saya herankan,” jawabnya santai saat di temui di Ponpes, Kamis (14/3/2019).
Ia menjelaskan kalau program Menyongsong Meteor itu mencakup 10 tanda besar kiamat.
Dan itu diawali dari hantaman meteor. Yang disampaikan olehnya adalah bentuk kewaspadaan kekhawatiran dia kepada jamaah.
Pihaknya juga memperbolehkan menjalankan ramadhan disini tapi dianjurkan membawa perbekalan untuk satu tahun kedepan.
“Karena saya khawatir jika ramadhanmu kali ini adalah ramadhan meteor.”
“Itu yang saya sampaikan, dan ada di dalam hadits,” imbuhnya.
Sebenarnya pengajian yang ia sampaikan sama dengan yang disampaikan Ustad Zulkifli.
Yaitu ustadz yang cukup dikenal dikalangan masyarakat Ponorogo dan sekitarnya.
Berdasarkan hadits-hadits tentang akhir zaman, tanda pasti munculnya dajjal itu adalah keringnya Tiberius yang ada di wilayah Israel. Terjadi kekeringan sudah sangat parah.
“Saya tidak memberi fatwa kiamat, yang saya sampaikan ini adalah waspada meteor.”
“Selama itu kita memperbanyak dzikir sampai selesai ramadan,” imbuhnya.
Apabila terjadi meteor mereka sudah bergabung dengan gurunya dan sudah membawa makanan sendiri-sendiri.
Apabila tidak terjadi, mereka pulang sendiri sendiri lagi membawa bekal yang dibawa ketika ke sini.
Polisi Kaji Lebih Dalam Materi Menyongsong Meteor
Adanya hal ini Kapolres Kota Batu AKBP Budi Hermanto juga ikut memantau lokasi Ponpes.
Ia juga berinteraksi dengan santri Ponpes itu. Dalam interaksinya ia memastikan bahwa tidak ada paksaan untuk belajar agama di ponpes ini.
“Tadi lihat sendiri kan, kami pun ikut memastikan jika mereka ke sini tidak ada yang dipaksa. Atau terhipnotis lah,” kata Budi.
Terkait dengan isu mengenai kiamat dalam menyongsong meteor di bulan ramadhan, pihaknya masih akan mengkaji lebih dalam.
Pasalnya isu yang berkaitan dengan keagamaan juga harus dikroscek oleh ahli bidang keagamaan.
“Ya nanti kami juga melihat dan memeriksa warga sekitar. Serta perbekalan yang dibawa jamaah dari berbagai Kota itu,” imbuhnya.
Saat memasuki area Ponpes ini ada banner yang bertuliskan ‘Selamat Datang Peserta Mondok Rajabiyahan dan Biatan Plus Romadhonan. Dalam rangka Persiapan Akhir Zaman di Ponpes Dusun Pulosari’.
Dari jalan raya Kasembon jarak sekitar 2 kilometer.
• Polisi Buru Katimun, Guru Tarekat di Ponorogo yang Ajak Hijrah 52 Orang ke Malang