Kabar Jombang

Harga Gabah Kering Jatuh, Petani Di Jombang Pada Kelimpungan Meski Panen

Memasuki musim panen, petani padi di Jombang justru mengeluh. Hal ini setelah rendahnya harga gabah kering di tingkat petani.

Harga Gabah Kering Jatuh, Petani Di Jombang Pada Kelimpungan Meski Panen
suryamalang.com/Sutono
Musim panen, petani di Jombang memisahkan bulir padi dengan mesin perontok, untuk dijadikan gabah. 

SURYAMALANG.COM, JOMBANG – Memasuki musim panen, petani padi di Jombang justru mengeluh. Hal ini setelah rendahnya harga gabah kering di tingkat petani yang hanya sebesar Rp 3.500 per kilogramnya.

Padahal, sesuai Inpres Nomor 5 Tahun 2015 tentang Harga Pembelian Pemerintah (HPP) terendah ditentukan sebesar Rp 3.750 per kilogram gabah kering panen (GKP). Tahun lalu, harga jual GKP rata-rata Rp 4.500 per kilogram.

Menurut para petani, rendahnya harga gabah itu dipicu musim panen yang terjadi secara bersamaan di sejumlah daerah. Selain itu, penyebab anjloknya harga gabah juga disebabkan faktor cuaca.

“Tepat saat panen, hujan terus-terusan, jadi mutu gabah jadi kurang bagus,” kata Rozak (38) petani asal Desa Betek, Kecamatan Mojoagung, Jombang.

Meski harga jual gabah saat ini dinilai terlalu rendah, Rozak tak punya pilihan lain kecuali segera melepas gabahnya kepada tengkulak.

“Saya lepas seharga Rp 3.500 per kilogram. Sebab, saya sudah terpepet butuh biaya untuk mulai tanam padi lagi,” imbuhnya, Minggu (31/3/2019).

Dengan harga jual sebesar itu, katanya, petani tidak untung, hanya bisa balik modal. Bahkan bisa rugi jika lahannya bukan milik sendiri, melainkan menyewa.

Lebih-lebih jika kualitas padi merosot, volume panen juga lebih rendah, kerugian lebih besar. Menurutnya, untuk lahan seluas satu hektare basanya menghasilkan gabah sekitar 7-8 ton GKP. Namun musim ini, banyak pateni hanya mampu panen 6 ton GKP saja.

“Sehingga jika dibandingkan dengan biaya produksi padi sekitar Rp 15 juta per hektare, petani dipastikan merugi. Maksimal hanya kembali modal garap saja. Padahal untuk biaya garap kami utang bank,” keluh petani lainnya.

Petani lainnya, Hadi asal Desa Mlaras, Kecamatan Sumobito punya solusi lain. Dia mengaku bersama beberapa temannya memanen sendiri padinya guna menekan biaya produksi. Selain itu, dia menahan dengan menyimpan dulu gabahnya di gudang.

“Tidak langsung saya jual. Sebab harganya sekarang masih rendah. Nanti kalau harga gabah sudah baik, baru jual,” imbuhnya.

Itu bisa dilakukan Hadi karena dia dan beberapa rekannya saat ini tak punya tanggungan utang di bank. "Baru untuk biaya garap musim tanam ini kami berencana berutang," kata Hadi.

Para petani berharap, HPP dinaikkan. Petani juga berharap dipermudah menjual hasil panen mereka langsung ke Bulog, sehingga agar gabah mereka tidak terjual kepada tengkulak.

Penulis: Sutono
Editor: Achmad Amru Muiz
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved