Nasional

7 Fakta Gadis Matic Semarang, Bertarif Rp 150.000 hingga Penuturan Warga Setempat

Julukan Gadis Matic merupakan nama yang disematkan untuk para wanita penghibur di Semarang.

7 Fakta Gadis Matic Semarang, Bertarif Rp 150.000 hingga Penuturan Warga Setempat
suryamalang/ tribun
wanita penghibur di Semarang 

warga sekitar, Slamet, menerangkan keberadaan wanita penghibur semakin malam semakin banyak.

Rata- rata datang lebih malam untuk menghindari adanya razia.

“Kalau mau aman datang ke sini pukul 00.00,” tuturnya.

Menurutnya, gerebekan biasa terjadi sekitar pukul 23.00.

Para wanita penghibur tersebut datang setelah adanya razia.

“Biasanya mereka kabur dulu. Baru datang lagi sekitar Pukul 01.00,” jelasnya.

5. Wanita Penghibur Berasal dari Luar Kota

Slamet juga mengatakan wanita penghibur yang mangkal bukan merupakan warga sekitar.

Para wanita penghibur merupakan pendatang yang tinggal jauh dari tempat mangkalnya.

“Mereka biasanya ngekos di daerah Kokrosono,” tutur dia.

Berbeda dengan ucapan Kokom dan Lala, Slamet justru mengungkapkan bahwa selama Ramadan banyak razia dilakukan oleh Satpol PP.

Razia dilakukan belum lama ini di hotel-hotel yang ada di jalan tersebut.

“Kemarin hotel digerebek. Satpol PP sampai bilang suruh datangin suaminya kalau mau aman,” ungkapnya.

6. Keterangan Ketua Resos Argorejo

Di sisi lain, Ketua Resos Argorejo, Suwandi, mengatakan tidak semua anak asuhnya pulang ke kampung halaman.

“Kemarin dari tanggal 5 Mei 2019 sudah pada pulang. Paling tinggal 10 persen yang ada di sini,” tuturnya, Kamis (16/5/2019)

Suwandi menuturkan tidak akan menerima PSK baru setelah Lebaran.

Dirinya akan melakukan pemulangan jika mendapati PSK baru.

“Karena anak asuh yang tercatat 476 orang,” tuturnya.

7. LSM Melakukan Patroli

Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Lentera Asa, Ari Istiyadi mengkhawatirkan ditutupnya tempat hiburan di Bandungan selama Ramadhan akan terjadi adanya eksodus besar-besaran di Kota Semarang.

Oleh sebab itu pihaknya minta pengurus Sunan Kuning untuk menolak kehadiran para wanita penghibur.

“Kami setiap malam melakukan patroli keliling di wisma-wisma tersebut,” tuturnya.

Dirinya menyebut kekhawatiran tersebut berembus isu dari para LSM yang ada di Kabupaten Semarang akan terjadi perpindahan besar-besaran para wanita penghibur Bandungan ke Kota Semarang.

“Namanya urusan perut tidak melihat bulan Ramadan,” jelasnya.

Perjalanan Spiritual Felixia Yeap, Mantan Model Playboy yang Jadi Mualaf & Berhijab Hingga Sepi Job

Penulis: Raras Cahyaning Hapsari
Editor: Adrianus Adhi
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved