Ramadan

Apa Keistimewaan Lailatul Qadar? Berikut Penjelasan dari Prof Quraish Shihab dan Ustaz Abdul Somad

Kedatangan Lailatul Qadar sangat ditunggu-tunggu oleh umat Islam di seluruh dunia.

Apa Keistimewaan Lailatul Qadar? Berikut Penjelasan dari Prof Quraish Shihab dan Ustaz Abdul Somad
Surya Malang/ Tribun
Lailatul Qadar 

Segala aktivitas kebajikan bermula di masjid.

Di masjid pula seseorang diharapkan merenung tentang diri dan masyarakatnya, serta dapat menghindar dari hiruk pikuk yang menyesakkan jiwa dan pikiran guna memperoleh tambahan pengetahuan dan pengkayaan iman.

Itu sebabnya ketika melaksanakan itikaf, dianjurkan untuk memperbanyak doa dan bacaan Al Quran, atau bahkan
bacaan-bacaan lain yang dapat memperkaya iman dan takwa.

Malam Qadar yang ditemui atau yang menemui Nabi pertama kali adalah ketika beliau menyendiri di Gua Hira, merenung tentang diri beliau dan masyarakat.

Saat jiwa beliau telah mencapai kesuciannya, turunlah Ar-Ruh (Jibril) membawa ajaran dan membimbing beliau sehingga terjadilah perubahan total dalam perjalanan hidup beliau bahkan perjalanan hidup umat manusia.

Karena itu pula beliau mengajarkan kepada umatnya, dalam rangka menyambut kehadiran Lailatul Qadar itu, antara lain
adalah melakukan itikaf.

Walaupun itikaf dapat dilakukan kapan saja, dan dalam waktu berapa lama saja --bahkan dalam pandangan Imam Syafi'i, walau sesaat selama dibarengi oleh niat yang suci-- namun Nabi Muhammad SAW selalu melakukannya pada 10 hari dan malam terakhir bulan puasa.

Di sanalah beliau bertadarus dan merenung sambil berdoa.

Salah satu doa yang paling sering beliau baca dan hayati maknanya adalah:

Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat, dan peliharalah kami
dan siksa neraka (QS Al-Baqarah [2]: 201).

Doa yang dimaksud bukan hanya permohonan untuk memperoleh kebaikan dunia dan akhirat namun juga untuk memantapkan langkah untuk mendapatkan kebaikan.

Permohonan itu juga berarti upaya untuk menjadikan kebajikan dan kebahagiaan yang diperoleh dalam kehidupan dunia ini, tidak hanya terbatas dampaknya di dunia, tetapi berlanjut hingga hari kemudian kelak.

Adapun menyangkut tanda alamiah, maka Al-Quran tidak menyinggungnya.

Muslim, Abu Daud, dan Al-Tirmidzi antara lain meriwayatkan melalui sahabat Nabi Ubay bin Ka'ab, sebagai berikut:

Tanda kehadiran Lailatul Qadar adalah matahari pada pagi harinya (terlihat) putih tanpa sinar.

Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan:

Tandanya adalah langit bersih, terang bagaikan bulan sedang purnama, tenang, tidak dingin dan tidak pula
panas ...

Hadis ini dapat diperselisihkan kesahihannya, dan karena itu kita dapat berkata bahwa tanda yang paling jelas tentang
kehadiran Lailat Al-Qadar bagi seseorang adalah kedamaian dan ketenangan.

Disisi lain, Ustaz Abdul Somad menyebutkan ciri-ciri malam Lailatul Qadar dan ciri umat yang mampu mendapatkan malam kemuliaan tersebut.

Salah satu ciri akan datangnya malam Lailatul Qadar ialah satu hari dengan cahaya redup.

"Pagi hari cahaya matahari redup karena cahaya malaikat mengalahkan cahaya matahari," ujar Ustaz Abdul Somad seperti dikutip TribunStyle.com dari Youtube Channel Dakwah.

Selain itu tanda orang mendapatkan kemuliaan malam Lailatul Qadar ialah perubahan.

"Dulu pelit setelah bulan puasa menjadi dermawan,"

"Dulu azan sudah berkumandang dia nyantai saja, tapi saat 5 atau 10 menit setelah azan sudah duduk di masjid."

"Itulah ciri dapat Lailatul Qadar," ungkap Ustadz Abdul Somad.

Doa & Amalan yang Dianjurkan pada Lailatul Qadar

Ada dua doa yang dibaca Rasulullah SAW pada Lailatul Qadar.

Doa pertama adalah Allahumma Innaka Afuwun Karim Tuhibbul Afwa Wa'fu Anna.

Doa ini dibaca setelah Salat Tarawh.

Doa kedua kedua adalah Subhanal Malikil Quddus.

“Ulama mengimbau doa tersebut dibaca setelah Salat Tarawih.”

“Itu adalah trik ulama agar umat Islam memperbanyak membaca doa tersebut,” ungkap Ustaz Abdullah Sattar, Kajur Komunikasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) kepada SURYAMALANG.COM, Jumat (24/5/2019).

Menurutnya, dua kalimat tersebut adalah kalimat thoyyibah.

Jadi dua kalimat itu sangat dianjurkan dibaca setiap hari pada Ramadan.

Selain itu, umat Islam bisa melakukan dua amalan yang dianjurkan oleh Rasulullah.

Bahkan dua amalan tersebut tidak bisa dilakukan para malaikat.

“Nabi Muhammad SAW bersabda ada dua amalan manusia yang tidak bisa ditiru malaikat, dan menjadi kebanggaan Allah SWT.”

“Amalan pertama adalah tangisan orang bertubat yang sadar akan dosanya, lalu dia menangis untuk minta ampun kepada Allah.”

“Amalan kedua adalah santunan kepada orang yang membutuhkan,” jelasnya.

Menurutnya, dua amalan itu tidak akan bisa ditiru oleh malaikat dan sangat dianjurkan dilakukan saat Lailatul Qadar.

“Pertama, karena malaikat tidak punya hawa nafsu. Kedua, malaikat tidak suka duit,” terangnya gurau.

Penulis: Raras Cahyaning Hapsari
Editor: eko darmoko
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved