Kabar Lumajang

Mengenal Desa Sombo Setting Utama 'Suami Gadaikan Istri' dan Lasmi sebagai Objek 'yang Digadaikan'

Mengenal Desa Sombo Setting Utama 'Suami Gadaikan Istri' dan Lasmi sebagai Objek 'yang Digadaikan' di Kecamatan Gucialit, Kabupaten Lumajang.

Mengenal Desa Sombo Setting Utama 'Suami Gadaikan Istri' dan Lasmi sebagai Objek 'yang Digadaikan'
SURYAMALANG.COM/Sri Wahyunik
Hartono dan Lasmi yang terseret dalam kasus pembunuhan salah sasaran dan suami gadaikan istri di Lumajang. 

Surya : Setelah menikah kemudian ikut Hori pulang ke Lumajang?

Lasmi : iya (kembali menjawab lupa kapan keduanya ke Lumajang. Lasmi juga lupa berapa lama menikah dengan Hori)

Surya : Sekitar 10 tahun menikah sama Hori?

Lasmi : lupa, mungkin ya, ada segitu.

Tentang pernikahan ini, Lasmini menceritakan hanya menikah secara siri, meskipun kepada polisi, Hori mengaku menikah secara resmi di KUA.

Lasmini bersikukuh, keduanya tidak menikah di KUA, alias hanya menikah secara aturan agama (siri).

Pulang ke Lumajang bersama Hori, dia tinggal di Desa Jenggrong Kecamatan Ranuyoso, desa tempat tinggal Hori.

Surya : Mbak disebut sebagai jaminan utang Rp 250 juta oleh Hori kepada Hartono?

Lasmi : Nggak, itu tidak benar. Tidak ada jaminan utang-utang itu.

Surya : Lalu, bisa ikut dengan Pak Hartono?

Lasmi : Saya yang pergi sendiri dari rumah Hori. Dia itu kasar kepada saya. Beberapa kali saya dipukul, ya di tangan, di tubuh. Dia itu sering mukul. Kalau kalah judi marah, kemudian mukul saya. Tidak punya uang juga mukul saya.

Lasmi : saya pergi juga karena tidak diberi makan sama dia. Tidak ada makanan di rumahnya. Hori juga sudah nyuruh saya pergi. Dia pergi begitu saja ke Kalimantan. Kata dia sudah tidak mau sama saya. Saya juga tidak betah karena sering dipukul dan dimarahi. Saya takut sama dia.

Surya : Kenal sama Hartono, kemudian ikut ke rumahnya?

Lasmi : ya

Jawaban tentang tindak kekerasan Hori, juga ketakutannya itulah yang terbilang panjang selama perbincangan.

Lasmi memilih tidak menceritakan perihal perjalanan pernikahannya dengan Hori. Lasmi kembali menjawab cukup panjang, ketika ditanya tentang anak lelakinya.

Surya : informasi tentang anak sampeyan dijual Hori itu benar?

Lasmi : iya. (Lasmi menyebut nama orang yang kini memelihara anaknya)

Surya : dijual berapa?

Lasmi : Rp 500 ribu. Dijual saat anak saya usinya 10 bulan. Itu anak ketiga saya. Yang pertama dan kedua meninggal dunia saat masih bayi.

Surya : Alasan Hori menjual?

Lasmi : saya tidak tahu. Tapi Hori juga punya utang ke orang yang kini memelihara anak saya. Katanya untuk melunasi utang itu, anak saya dijual. Terus uang Rp 500 ribu yang dia dapat dipakai untuk judi, sabung ayam.

Surya : Berapa usia anaknya sekarang?

Lasmi : tiga tahun. (Lasmi beberapa kali menjawab keliru ketika ditanya tahun, dan perihal jangka waktu)

Surya : sudah sekolah?

Lasmi : ya, SD kelas tiga.

Jawaban ini diperkuat oleh tetangga, Ny Lima yang menjadi saksi dalam kasus pembunuhan Hola.

Lima menuturkan, anak lelaki Lasmi sudah disunat, dan kini duduk di bangku kelas tiga SD. Lima menduga usia anak lelaki Lasmi sekitar 9 tahun.

Surya : sering ketemu anaknya mbak?

Lasmi : ya sering, tapi dia tidak mau ikut saya. Manggil saya 'ibu' tapi nggak mau ikut saya. Saya pinginnya anak saya ikut saya, saya ngopeni dia.

Surya : masih tetangga kah?

Lasmi : ya masih satu desa. Memang dulu Hori jual waktu di Riau. Tapi dia kan orang Sombo, dan kami bertetangga jadi saya sering ketemu sama anak saya.

(Bersambung)

Penulis: Sri Wahyunik
Editor: eko darmoko
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved