Tips Kesehatan

Sayangi Saluran Pencernaan daripada Sekadar Ikut Tren Makan Pedas

Yang diperlukan tubuh manusia adalah kandungan gizi berimbang. Bukan sekadar sensasi atau ingin dipuji seseorang karena sanggup makan pedas.

Penulis: Nuraini Faiq | Editor: yuli
ist
Pakar gizi dari Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya Taufiqurrahman 

Yang diperlukan tubuh manusia adalah kandungan gizi berimbang. Bukan sekadar sensasi atau ingin dipuji seseorang karena sanggup makan pedas.

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Maraknya menu pedas yang saat ini ditawarkan hampir di semua warung, cafe, dan penyedia makanan itu lebih karena keinginan pasar. Mereka menciptakan sensasi demi merebut pasar penyuka makanan atau para pemburu kuliner.

Sensasi itu terbukti efektif untuk mendapat dukungan pasar. Tidak saja para penyedia menu hot dan pedas itu selalu ramai dibanjiri pembeli. Namun banyak pula bermunculan warung atau gerai baru dengan menu spesialis pedas tersebut.

Para pemilik warung dan usaha kuliner dengan menu pedas itu diuntungkan saat era serba gudget saat ini. Karena penasaran dengan sensasi yang diciptakan, orang terutama anak muda akan menjajal sensasi pedas itu.

Mereka mengunggah pengalaman sensasi itu di media sosial. Jika yang unggah itu adalah pengunjung dan pelanggan dengan banyak follower malah makin diuntungkan. Namun yang perlu diperhatikan adalah kandungan gizi dan dampak terhadap kesehatan.

Pakar gizi dari Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya Taufiqurrahman, menuturkan bahwa yang diperlukan tubuh manusia adalah kandungan gizi berimbang. Bukan sekadar sensasi atau ingin dipuji seseorang.

Meski demikian menurut Kajur Gizi di kampus khusus bidang kesehatan itu, sensasi pedas yang dilahirkan dari cabai sebenarnya juga diperlukan tubuh. Sebab cabai yang merupakan bagian dari sayur mengandung vitamin A, Vitamin C, serta kandungan gizi lain, potasium.

Kandungan-kandungan vitamin itu diperlukan sebagai antioksidan. Menangkal partikel bebas yang jika menumpuk bisa menyebabkan kanker. Inilah perlunya kandungan vitamin yang ada dalam cabai.

Begitu juga zat gizi potasium juga diperlukan. Dalam sehari diperlukan 4.000 gr. Zat ini diperlukan dalam keseharian. Kandungan gizi ini jika dikonsumsi dengan tepat dan sesuai anjuran nutrisi bisa mencegah penyakit stroke dan jantung.

cabai yang memberi citra rasa dan sensasi pedas biasanya dimunculkan dari cabai rawit. Sementara cabai merah besar itu tidak memberi sensasi pedas. Namun keduanya tetap merupakan mengandung nutrisi nabati.

Namun yang perlu diwaspadai adalah bahwa sensasi pedas yang ditunjukkan dari cabai itu bisa memicu masalah kesehatan. Apalagi tidak semua orang mempunyai kemampuan merespons pedas dengan baik.

Ada yang karena kepedasan perutnya sakit hingga mencret. Ada pula yang akan berdampak serius lain. Sebaiknya memang jika perut tidak kuat pedas tak perlu dipaksakan.

"Rasa pedas yang berlebihan itu akan berdampak pada saluran pencernaan. Bagi penderita dan yang rentan terhadap penyakit saluran pencernaan tidak dianjurkan memakan pedas-pedas," kata Taufiq.

Jika dipaksakan makan pedas maka bisa berakibat pada saluran pencernaan. Biasanya usai makan akan diikuti rasa nyeri pada pencernaan. Ini yang patut diwaspadai. Jika ada yang bermasalah pada saluran pencernaan maka sebaiknya dihindari memakan sensasi pedas.

Begitu juga bagi mereka yang dalam tahap pemulihan dari penyakit saluran pencernaan, merasakan sensasi pedas harus dihindari.

"Jika saat makan pedas berdampak sakit pada pencernaan sebaiknya tidak usah ikut-ikut tren makan pedas. Memang ada orang yang terbiasa makan pedas," kata Taufiq.

Dalam konteks pemenuhan gizi tubuh, perlu sajian makan dengan gizi berimbang. Taufiq menyinggung Gizi berimbang adalah dari isi piring. Dari porsi piring makanan kita sebaiknya dibagi sesuai anjuran nutrisi.

Dosen gizi itu menyebutkan bahwa dalam satu piring harus dibagi dua. Satu bagian pertama karbohidrat dan protein (nabati dan hewani). Satu bagian berikutnya adalah sayur dan buah.

Namun ada kecenderungan tidak sedikit orang menyukai pedas. Bahkan ada orang tertentu yang selalu makan pedas. Sejauh mana tubuh seseorang merespons pedas juga berbeda. "Jadi kalau sesekali merasakan sensasi pedas tidak masalah," kata Taufiq.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved