Kabar Jember
Riwayat Letkol Sroedji (1915 - 1949), Pejuang dari Jember yang Diusulkan jadi Pahlawan Nasional
Letkol Muhammad Sroedji, lahir di Bangkalan 1 Februari 1915 dan gugur pada 4 Februari 1949 dalam usia 34 tahun.
SURYAMALANG.COM, JEMBER - Pemerintah Kabupaten Jember mengusulkan dua tokoh Jember menjadi pahlawan nasional, yakni KH Achmad Siddiq dan Letkol Muhammad Sroedji, Minggu (25/8/2019).
• Pemkab Jember Usulkan KH Achmad Siddiq dan Letkol Muhammad Sroedji jadi Pahlawan Nasional
• Riwayat KH Achmad Siddiq (1926 - 1991), Ulama dari Jember yang Diusulkan jadi Pahlawan Nasional
Berikut ini riwayat singkat Letkol Muhammad Sroedji yang dirangkum Wikipedia:
Letkol Muhammad Sroedji, lahir di Bangkalan 1 Februari 1915 dan gugur pada 4 Februari 1949 dalam usia 34 tahun.
Letkol infanteri (Anumerta) Mohammad Sroedji merupakan tentara yang berjuang di Kabupaten Jember melawan penjajah Belanda.
Beliau wafat akibat berondongan peluru pasukan Belanda pada tahun 1949. Pada tahun 2016, Presiden Joko Widodo menganugerahkan Tanda Kehormatan Republik Indonesia Bintang Mahaputera Utama kepada Alm. Letkol inf. (Anumerta) Mohammad Sroedji.

Sroedji adalah putra dari pasangan H Hasan dan Hj Amni.
Istri Sroedji bernama Hj Mas Roro Rukmini, yang lahir dari pasangan Mas Tajib Nitisasmito dan Siti Mariyam.
Dari perkawinan tersebut terlahir 4 orang anak, di antaranya H Sucahjo, H Supomo, Sudi Astuti, Pudji Redjeki Irawati.
Moch. Sroedji mengenyam pendidikan di Hollands Indische School (HIS). Kemudian menimba ilmu di Ambacts Leergang (semacam sekolah pertukangan). Bidang pertukangan dibagi menjadi dua. Yang pertama, Ambacthsshool. Sekolah ini menerima lulusan dari HIS, HCS, dan sekolah Peralihan.
Berikutnya, Ambachts Leergang, yang menerima lulusan Sekolah Bumiputra Kelas Dua dan vervolgschool. Keduanya memiliki masa pendidikan 3 tahun. Ambachts leergang mencetak tukang listrik, mebel, dan lain-lain, sedangkan Ambacthsshool mencetak mandornya.
Pada tahun 1938 sampai tahun 1943, Moch. Sroedji bekerja sebagai Pegawai Jawatan Kesehatan sebagai Mantri Malaria di RS Kreongan Jember (kini menjadi RS Paru).
Moch. Sroedji memulai karier militernya di Jember pada akhir tahun 1943. Semula pangkatnya adalah komandan kompi alias Chuudanchoo (Chuu: menengah, Danchoo: pimpinan/perwira) di Peta Besuki.
Jabatan sebagai komandan kompi ia dapat setelah mengikuti Pendidikan Perwira Tentara PETA angkatan I di Bogor (sengkatan dengan Ahmad Yani dan Soeharto - sumber sang patriot).
Setelah lulus PETA, ia ditugaskan sebagai komandan kompi untuk Karesidenan Besuki – Batalyon 1 Kencong – Jember di bawah Daidancho Soewito Soediro. Moch. Sroedji juga turut berperan aktif dalam memelopori terbentuknya BKR dan TKR untuk wilayah Karesidenan Besuki.
Pada bulan September 1945 sampai dengan Desember 1946, ia berturut-turut dilantik sebagai Komandan Batalyon 1 Resimen IV Divisi VII TKR yang berdomisili di wilayah Kencong, Jember.