Nasib Gadis SMP yang Putuskan Menikah Karena Tak Punya HP untuk Sekolah Online, Harus Bayar Denda

Kisah pernikahan gadis SMP yang menikah dengan remaja 17 tahun karena tak punya HP untuk sekolah online itu sontak menjadi viral di Facebook.

Penulis: Frida Anjani | Editor: eko darmoko
Tribunnews
Ilustrasi pernikahan dini 

Kepala Sekolah SMP 4 Batukliang Utara H Majidin, yang dikonfirmasi, Selasa (26/10/2020) membenarkan sanksi berupa denda bagi siswa yang menikah.

"Denda itu sudah lama berlaku dan merupakan kesepakatan siswa, saya tidak bisa merinci besarannya, karena disesuaikan dengan kemampuan pihak keluarga, itu merupakan kesepakatan komite sekolah," kata Majidin.

Dia juga membenarkan siswinya EB dilaporkan menikah dan pasangan atau pihak laki-lakilah yang dibebankan membayar denda tersebut.

"Benar, itu dilakukan untuk menekan angka pernikahan dini di lingkungan sekolah kami, saya belum bisa memberikan data lengkap jumlah siswa kami yang menikah sejak sanksi itu diberlakukan," kata dia.

Tinggal di kawasan hutan

Pasangan usia belia ini tinggal di kawasan hutan di Desa Seteling. Akses ke sana sulit dengan jalan menanjak dan licin jika hujan tiba.

EB mengaku, menikah karena ingin hidup lebih baik.

"Saya menikah karena mau hidup saya lebih baik," kata dia.

Ilustrasi pernikahan dini
Ilustrasi pernikahan dini (Kompas.com)

Baca juga: Rekaman CCTV Wanita Buang 2 Anak Balita dari Atas Jembatan, Sakit Hati Tak Ikhlas Dicerai Suami

Baca juga: Ayah dan Ibu Meninggal Setelah Keracunan Acar Tak Ada yang Tahu, Dua Bocah Harus Tidur Barsama Mayat

Keluarga dan pihak dusun juga tak melaporkan pernikahan usia anak di wilayah mereka, karena takut dan khawatir pasangan itu dipisahkan.

"Nikahnya di rumah ini, keluarga saja yang datang, kakek saya juga datang menikahkan," kata EB.

Bagi warga, pernikahan usia sekolah dianggap biasa.

"Biasa menikah usia dini di dusun ini, saya juga menikah saat duduk di bangku SD," kata Muslinin, keluarga UD.

Dusun Kumbak Dalem dihuni oleh 200 kepala keluarga atau 600 jiwa.

Sekitar 30 persen di antaranya mengadu nasib sebagai TKI dan TKW ke Malaysia, sisanya menggarap kawasan hutan yang dikenal sebagai pusat durian di Lombok Tengah.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved