Berita Malang Hari Ini
Dosen UB Teliti Aplikasi e-Service di Malang Raya, Sebut Kurang Maksimal Pengunaannya
Tim Peneliti dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Brawijaya (LPPM UB) meneliti produk e-Service di Malang Raya
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: isy
Meski sudah ada e-Service, namun masih kurang maksimal karena masih belum bisa ngopeni.
Di sisi lain, juga karena masih ada masyarakat generasi baby boomer yang lebih suka layanan langsung.
Wawan menuturkan generasi itu menganggap e-service malah ruwet.
Ini, lanjutnya, sebagai ketidaksiapan masyarakat juga, sehingga terjadi kesenjangan adanya digitalisasi, otomatisasi dengan pemerintah.
"Maka solusinya adalah selain e-Service yang penuh, juga dikombinasikan dengan manual," kata Nusrizal.
Kurang maksimalnya penggunaan e-Service bisa jadi karena kurang maksimalnya sosialisasi ke masyarakat.
Wawan mencontohkan seperti aplikasi marketplace yang terus berpromosi meski sudah dikenal.
Harusnya aplikasi e-Service juga dipromosikan terus agar lebih dikenali.
Namun pemerintah atau OPD pengelolanya kurang ada jiwa marketingnya.
"Sebagai akademisi, kami melihat kurangnya pemerintah melakukan branding agar aplikasi itu dipakai," jelas Wawan.
Dalam menyelenggarakan e-Service, Pemda di Malang Raya menghadapi tantangan pengembangan e-Service, yaitu kesiapan sumber daya manusia (SDM) pengelola.
Kesiapan pengguna, fleksibilitas e-Service, integrasi antaraplikasi e-Service sejenis yang belum dilakukan, sehingga akseptabilitas dan utilitas e-Service masih rendah, dan penyediaan infrastruktur implementasi e-Service.
"Untuk mempraktikkan kearifan lokal maka pemda di Malang Raya dalam menghadapi tantangan Revolusi 4.0 untuk pelayanan publik bisa dilakukan bertahap mengikuti perkembangan kebutuhan, permintaan, dan kemampuan masyarakat," pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/aplikasi-e-service-di-kota-malang.jpg)