Jendela Dunia

Virus Nipah Potensi Jadi Ancaman Pandemi Berikutnya, Disebut Lebih Berbahaya Ketimbang Virus Corona

Dunia belum bisa mengendalikan virus corona atau Covid-19, kini bakal muncul ancaman pandemi baru dari virus nipah

Editor: eko darmoko
The New York Times
Kelelawar merupakan inang alami bagi virus nipah. 

Mereka fokus pada patogen yang paling mengancam kesehatan manusia, yang berpotensi menjadi pandemi, sementara hingga saat ini virus nipah masuk dalam 10 besar virus yang diperhitungkan.

Karena sejumlah wabah sudah terjadi di Asia, kemungkinan besar kita masih akan menemuinya di masa depan.

Ada beberapa alasan yang membuat virus Nipah begitu mengancam.

Periode inkubasinya yang lama (dilaporkan hingga 45 hari, dalam satu kasus) berarti ada banyak kesempatan bagi inang yang terinfeksi, tidak menyadari bahwa mereka sakit, untuk menyebarkannya.

Dapat menginfeksi banyak jenis hewan, menambah kemungkinan penyebarannya.

Dapat menular baik melalui kontak langsung maupun konsumsi makanan yang terkontaminasi.

Seseorang yang terinfeksi virus nipah dapat mengalami gejala-gejala pernapasan termasuk batuk, sakit tenggorokan, meriang dan lesu, dan ensefalitis, pembengkakan otak yang dapat menyebabkan kejang-kejang dan kematian.

Singkatnya, ini adalah penyakit yang sangat berbahaya bila tersebar. (SONORA.ID)

Jalanan di Kota Wuhan, China, terlihat sepi karena ancaman virus corona, Sabtu (25/1/2020).
Jalanan di Kota Wuhan, China, terlihat sepi karena ancaman virus corona, Sabtu (25/1/2020). (AFP/HECTOR RETAMAL via Kompas.com)

Varian Baru Virus Corona Sudah Menjalari Asia Tenggara

Benua Asia kini sudah terpapar varian baru virus corona, bahkan sudah sampai kawasan Asia Tenggara.

Indonesia yang masuk dalam kawasan Asia Tenggara, hingga kini belum ditemukan kasus varian baru virus corona atau Covid-19.

Namun, dua negara tetangga Indonesia di Asia Tenggara, Malaysia dan Singapura, dilaporkan sudah terkena varian baru virus corona.

Kemunculan varian baru virus corona SARS-CoV-2 yang pertama kali ditemukan di Inggris disebut lebih menular.

Ketua Satgas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Zubairi Djoerban, mengatakan varian baru virus corona B117 ini dapat mencapai 71 persen lebih cepat.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved