Berita Batu Hari Ini
Sejarah Gereja Paroki Santo Simon Stock Batu, Gereja 82 Tahun yang Menyimpan Banyak Cerita (Part 1)
Gereja Santo Simon Stock yang terletak di Jalan Panglima Sudirman No 59 Batu, didirikan pada tahun 1939 dengan kapasitas sekitar 250 orang saja.
Penulis: Benni Indo | Editor: isy
Pada 1939, didirikan gedung gereja dan sekolah.
Dalam catatan sejarah di Keuskupan Malang, bangunan gereja yang terletak di pinggir jalan raya Panglima Sudirman sekarang ini, diberkati oleh Mgr AEJ Albers OCarm pada tanggal 19 Maret 1939.
Bangunan gereja ini sampai sekarang masih bertahan dengan model arsitek yang kokoh.
Gereja yang baru diresmikan ini kemudian diberi nama pelindung Santo Simon Stock.
Nama Santo Simon Stock ini dipakai juga sebagai pelindung Paroki Batu sampai ada perubahan nama kemudian hari.
Nama pelindung paroki Santo Simon Stock tetap terpakai dalam Buku Permandian Paroki.
Orang yang pertama kali masuk dalam catatan Buku Permandian (Liber Baptizatorum I no 1) tertanggal 1 September 1935 dengan nama Raymundus Ronny yang lahir di Surabaya.
“Saat itu yang membaptis adalah Pastor El Wouters OCarm. Sebelum ada buku Permandian ini semua catatan ada di Paroki Hati Kudus Yesus–Kayutangan-Malang,” katanya.
Sedangkan penerimaan Sakramen Krisma yang diberikan oleh Mgr AEJ Albers OCarm pertama kali di Paroki Santo Simon Stock terjadi pada tanggal 13 Agustus 1939 di Gereja yang baru diberkati ini.
Kini, bangunan gereja masih berdiri kokoh namun sudah tidak lagi efektif untuk digunakan kegiatan keagamaan.
Gereja Santo Simon Stock yang terletak di Jalan Panglima Sudirman No 59 Batu, didirikan pada tahun 1939 dengan kapasitas sekitar 250 orang saja.
Di samping itu, gereja yang terletak di tepi jalan raya tersebut, karena perkembangan dan kemajuan, juga terasa bising dan ramai karena kesibukan lalu lintas, sehingga seringkali kekhusyukan umat dalam mengikuti Misa Kudus terganggu.
Mengingat hal di atas, maka pada tahun 1983, mulai timbul niat dalam hati umat dan Romo P J Vollering OCarm, selaku Pastor Paroki Batu, untuk memikirkan kemungkinan membangun sebuah gedung gereja baru.
Sebuah gereja yang lebih besar, luas, serta memadai sebagai tempat beribadah.
Maka dibangunlah gereja baru.
Kini, kegiatan keagamaan dipindah ke Gereja Gembala Baik yang berada di belakangnya.
Hanya kegiatan tertentu saja diselenggarakan di Gereja St Simon Stock. (Bersambung)