Breaking News:

Jendela Dunia

Apakah Virus Corona Bisa Dibasmi? Ada Peluang Pandemi Jadi Endemik, Covid-19 Akan Hidup Lebih Lama

Apakah Virus Corona Bisa Dibasmi? Ada Peluang Pandemi Jadi Endemik, Covid-19 Akan Hidup Lebih Lama

Editor: eko darmoko
SHUTTERSTOCK/LIGHTSPRING
Ilustrasi 

Weiskopf dan rekan-rekannya masih melacak memori kekebalan orang yang terinfeksi Covid-19 untuk melihat apakah itu berlanjut.

Jika kebanyakan orang mengembangkan kekebalan seumur hidup terhadap virus, baik melalui infeksi alami atau vaksinasi, maka virus itu tidak mungkin menjadi endemik, katanya.

Tetapi kekebalan mungkin berkurang setelah satu atau dua tahun - dan sudah ada petunjuk bahwa virus dapat berevolusi untuk menghindarinya.

Lebih dari separuh ilmuwan yang menanggapi survei Nature berpendapat penurunan kekebalan akan menjadi salah satu pendorong utama virus menjadi endemik.

Karena virus tersebut telah menyebar ke seluruh dunia, tampaknya virus tersebut sudah dapat digolongkan sebagai endemik.

Tetapi karena infeksi terus meningkat di seluruh dunia, dan dengan begitu banyak orang yang masih rentan, para ilmuwan secara teknis masih mengklasifikasikannya sebagai fase pandemi.

Pada fase endemik, jumlah infeksi menjadi relatif konstan selama bertahun-tahun, memungkinkan terjadinya kekambuhan.

Kondisi ini bisa memakan waktu beberapa tahun atau dekade, tergantung pada seberapa cepat masyarakat mengembangkan herd immunity.

Membiarkan virus menyebar tanpa terkendali akan menjadi cara tercepat untuk sampai ke titik itu - tetapi itu akan mengakibatkan jutaan kematian.

“Jalan itu memiliki biaya yang sangat besar. Jalur yang paling cocok adalah melalui vaksinasi," jelasnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Covid-19 Diprediksi Bakal Jadi Endemik, Apa Artinya untuk Kita?

Ilustrasi Virus Corona
Ilustrasi Virus Corona (Stocktrek Images/Getty Images via Kompas.com)

Virus Nipah Potensi Jadi Ancaman Pandemi Berikutnya

Dunia belum bisa mengendalikan virus corona atau Covid-19, kini bakal muncul ancaman pandemi baru dari virus nipah.

Sejak virus corona muncul di Wuhan, China, pada akhir 2019, hingga awal 2021, pandemi Covid-19 belum reda meskipun sejumlah vaksin sudah ditemukan.

Bak gayung bersambung, ilmuwan dunia sedang dikhawatirkan oleh eksistensi virus nipah yang disebut-sebut akan menjadi pandemi berikutnya setelah virus corona.

Dikutip SURYAMALANG.COM dari SONORA.ID (27/1/2021), virus nipah diperkirakan sangat mematikan dan hingga saat ini belum ada vaksin yang mampu menanggulanginya.

Ilmuwan dunia mengatakan bahwa virus nipah memiliki angka kematian cukup tinggi yakni sekitrar 75 persen.

Pada Januari 2020, seorang peneliti bernama Supaporn Wacharapluesadee ditunjuk oleh pemerintah Thailand untuk menganalisis sampel dari penumpang pesawat yang baru tiba dari Wuhan.

Wacharapluesadee adalah pemburu virus kelas pertama.

Ia memimpin Thai Red Cross Emerging Infectious Disease-Health Science Centre, lembaga penelitian yang meneliti penyakit-penyakit infeksi baru (emerging), di Bangkok.

Sepanjang kariernya, Wacharapluesadee dan para koleganya telah meneliti ribuan sampel kelelawar dan menemukan banyak virus baru.

Sebagian besarnya adalah virus corona. Namun tak berselang lama dirinya dan tim menemukan virus nipah.

Virus ini dibawa oleh kelelawar buah, yang merupakan inang alaminya.

"Ini sangat mengkhawatirkan karena belum ada obatnya... dan tingkat kematian yang disebabkan virus ini tinggi," kata Wacharapluesadee.

Dia menemukan, tingkat kematian virus nipah berkisar antara 40 hingga 75 persen, tergantung lokasi terjadinya wabah.

Bukan cuma Wacharapluesadee yang khawatir, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga melakukan meninjau daftar panjang patogen yang dapat menyebabkan darurat kesehatan masyarakat untuk memutuskan prioritas anggaran riset dan pengembangan mereka.

Mereka fokus pada patogen yang paling mengancam kesehatan manusia, yang berpotensi menjadi pandemi, sementara hingga saat ini virus nipah masuk dalam 10 besar virus yang diperhitungkan.

Karena sejumlah wabah sudah terjadi di Asia, kemungkinan besar kita masih akan menemuinya di masa depan.

Ada beberapa alasan yang membuat virus Nipah begitu mengancam.

Periode inkubasinya yang lama (dilaporkan hingga 45 hari, dalam satu kasus) berarti ada banyak kesempatan bagi inang yang terinfeksi, tidak menyadari bahwa mereka sakit, untuk menyebarkannya.

Dapat menginfeksi banyak jenis hewan, menambah kemungkinan penyebarannya.

Dapat menular baik melalui kontak langsung maupun konsumsi makanan yang terkontaminasi.

Seseorang yang terinfeksi virus nipah dapat mengalami gejala-gejala pernapasan termasuk batuk, sakit tenggorokan, meriang dan lesu, dan ensefalitis, pembengkakan otak yang dapat menyebabkan kejang-kejang dan kematian.

Singkatnya, ini adalah penyakit yang sangat berbahaya bila tersebar. (SONORA.ID)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved