Berita Malang Hari Ini
Daging Kerbau Lebih Sehat Dibanding Daging Sapi, Profesor UB Ungkap Strategi Kelahiran Kembar Kerbau
Prof Dr Ir Nurul Isnaini MP menyebut populasi kerbau juga sedikit dibanding sapi. Sehingga ia menggagas tentang kelahiran kembar pada kerbau.
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Dyan Rekohadi
Penulis : Sylvianita Widyawati , Editor : Dyan Rekohadi
SURYAMALANG.COM, MALANG - Salah satu guru besar baru Universitas Brawijaya (UB) yang akan dikukuhkan, Prof Dr Ir Nurul Isnaini MP menyebut manfaat daging kerbau yang lebih sehat dibandingkan dengan daging sapi.
Tapi Guru Besar Fakultas Peternakan UB yang akan dikukuhkan sebagai profesor pada Sabtu (20/3/2021) itu juga menyebut 'masalah' reproduksi pada kerbau yang minim di Indonesia.
Nurul yang merupakan profesor dalam bidang Ilmu Manajemen Reproduksi Ternak.mengangkat pidato ilmiah di pengukuhannya tentang " Strategi Teknologi Reproduksi untuk Menghasilkan Kelahiran Kembar pada Kerbau".
"Saya memang konsen di aspek ini, khususnya ternak kerbau," jelas Nurul dalam konpres daring, Jumat sore (19/3/2021).
Ia menyebut populasi kerbau juga sedikit dibanding sapi. Sehingga ia menggagas tentang kelahiran kembar pada kerbau.
Dari sisi konsumsi, daging kerbau juga hanya populer di daerah-daerah tertentu.
"Padahal daging kerbau lebih sehat dari daging sapi. Terutama pada kadar kolesterol dan lemaknya," kata Nurul pada suryamalang.com.
Penyebanya karena kurang banyak diketahui oleh masyarakat akibat sosialisasi yang masih minim dari pemerintah.
Selain itu, tempat pemotongan untuk kerbau juga kurang banyak. Sehingga kehadiran daging kerbau di pasar juga kurang.
"Karena itu, konsumsi daging kerbau rendah," jawabnya.
Pada daerah tertentu di Jawa Tengah, konsumsi daging kerbau banyak. Juga di Aceh.
Biasanya menjelang puasa, Idul Fitri, di Aceh selalu menyembelih daging kerbau.
Tingkat pemotongan kerbau yang tinggi tidak diimbangi dengan populasinya.
Kerbau adalah hewan yang performa reproduksinya kurang maksimal.
Untuk meningkatkan populasi dan produktivitas kerbau adalah dengan menghasilkan kelahiran kembar.
Pada kondisi normal, kerbau hanya bisa menghasilkan satu ekor anak pada setiap periode kebuntingan.
Akan tetapi, kelahiran kembar memungkinkan untuk terjadi secara alami namun dengan frekuensi yang sangat rendah.
Ada tiga metode strategi kelahiran kembar pada kerbau.
Pertama, dengan tahapan induksi superovulasi dan inseminasi buatan (IS-IB).
Kedua, dengan tahapan induksi superovulasi, inseminasi buatan, dan transfer embrio (IS-IB-TE).
Ketiga, dengan tahapan maturasi oosit in vitro, fertilisasi in vitro, dan transfer embrio (MOIV-FIV-TE).
"Namun juga ada risikonya," jelas Ketua Lab Reproduksi dan Pemuliaan Ternak di Fakultas Peternakan UB.
Yaitu kesulitan melahirkan, pertambahan bobot badan anak yang rendah, serta terjadinya sindrom freemartin pada anak betina.
Untuk mengatasi itu, maka perlu ada kandang khusus bagi kerbau yang akan melahirkan sehingga ada pengawasan khusus menjelang beranak.
Seperti memberikan pakan dengan densitas nutrien tinggi selama bunting dan laktasi.
Ke depannya, perempuan yang menjadi dosen sejak 1990 ini berharap adanya pengembangan teknologi deteksi birahi dan kebuntingan dini.
Saat ini, produksi daging sapi dan kerbau dalam negeri hanya dapat berkontribusi sebesar 50,6 persen terhadap pemenuhan ketersediaan nasional. Sisanya, 49,4 persen dipenuhi melalui impor.
Ternak kerbau sampai saat ini juga masih tradisional.
Populasi kerbau di Indonesia cenderung mengalami penurunan selama 10 tahun terakhir.
Berdasarkan data Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan (Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan), populasi kerbau di Indonesia pada 2011 adalah 1,31 juta ekor.
Sedang tahun 2020 yaitu 1,18 ekor atau turun 9,92 persen.
Nurul akan dikukuhkan sebagai profesor bersama 2 calon Gubes lain di UB besok.
Selain Nurul, juga ada dua profesor baru lainnya yaitu Prof Dr Ir Muhammad Halim Natsir SPt MP yang juga dari Fakultas Peternakan serta Prof Dr Ir Ludji Pantja Astuti MS dari Fak Pertanian.
Ikuti berita terkait Guru Besar UB dan Berita Universitas Brawijaya di SURYAMALANG.COM