Hikmah Ramadan 2021

Ketua Komisi MUI Jatim, Moh Ersyad: Puasa dan Kerukunan Umat Beragama

Di penghujung Ramadan kali ini sudah seharusnya kita mengisi keseharian dengan aktivitas ibadah terbaik.

Editor: Zainuddin
Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah dan Hubungan antar Umat Beragama MUI Jatim, Moh Ersyad 

Sementara ini, kita diberikan pertolongan oleh Allah untuk hidup yang relatif damai, rukun berdampingan tanpa ada perseteruan berarti.

Perlu diketahui bahwa Rasulullah Muhammad SAW dalam menjalani kehidupannya baik di Makkah maupun di Madinah juga di tengah kondisi sosial masyarakat yang majemuk.

Mereka ada yang muslim dan kafir. Di Makkah, Rasulullah dicemooh, dihina, diludahi, dilempari batu saat salat, dianggap berbohong, dituduh sebagai tukang sihir, dan lain sebagainya.

Karena tidak ada perintah dari Allah, Rasulullah bertahan dalam kondisi demikian selama 13 tahun, tanpa melawan.

Begitu pula saat di Madinah. Masyarakat Madinah juga tidak seratus persen muslim. Kabilah dan suku pun beragam.

Semuanya bisa hidup berdampingan dengan Rasulullah. Bahkan, dalam kisah yang masyhur, saat Rasulullah kembali ke rahmatullah, ada satu pakaian zirah atau baju perang milik Rasul yang masih digadaikan kepada seorang Yahudi.

Artinya, Rasulullah bisa berdampingan dengan mereka dalam urusan tatanan sosial kemasyarakatan. Adapun urusan tauhid, sudah jelas bahwa Rasulullah selalu mengajak mengesakan Allah , tidak hanyut atau terbawa dengan masyarakat sekitar.

Akan tetapi dalam ranah berkehidupan dalam masyarakat, Rasulullah ketika berkuasa, tidak lantas menumpas habis orang kafir yang ada.

Ketika ditawari malaikat untuk menimpakan gunung Uhud kepada orang-orang yang membangkang, Rasulullah tidak berkenan.

Kata Rasul, barangkali nanti, apabila tidak orang tuanya yang masuk Islam, anak-anaknya kelak akan masuk Islam.

Padahal, Rasulullah bisa saja berdoa sebagaimana yang dilakukan Nabi Nuh supaya umatnya tenggelam, atau tertimpa bencana besar.

Itulah keistimewaan Nabi Muhammad, tidak melakukan hal tersebut.

Melalui akhlak Nabi-lah, Umar bin Khattab yang semula sangat memusuhi Islam, Khalid bin Walid yang ganas melawan Islam, begitu pula Wahsyi, seorang budak yang membunuh paman Nabi Muhammad saat perang Uhud, akhirnya juga masuk Islam di kemudian hari.

Tak hanya itu, Umar bin Khattab juga menjadi mertua Rasulullah, juga menjadi amirul mukminin, khalifah kedua setelah Rasulullah tiada.

Khalid bin Walid di kemudian hari justru menjadi panglima perang umat Islam waktu itu.

Halaman
1234
Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved