Hikmah Ramadan 2021
Ketua Komisi MUI Jatim, Moh Ersyad: Puasa dan Kerukunan Umat Beragama
Di penghujung Ramadan kali ini sudah seharusnya kita mengisi keseharian dengan aktivitas ibadah terbaik.
Namun, dalam tataran sosial, kita perlu berinteraksi atau bermuamalah dengan baik kepada siapa saja, apa pun keyakinannya. Demikian lah yang dicontohkan di masa Rasulullah.
Menjaga Indonesia
Dengan adanya contoh seperti ini hendaknya kita semua sebagai warga negara Indonesia, mari, jangan mudah terprovokasi dengan sentimen-sentimen keagamaan, suku maupun ras.
Kita menjalankan syariat agama di Indonesia terlindungi undang-undang, kita diberi kebebasan. Oleh karena itu, marilah terus jaga Indonesia.
Jika kita menjaga Indonesia, secara otomatis sedang melindungi umat muslim se-Indonesia untuk bebas melaksanakan ajaran agamanya.
Namun apabila kita mudah tersulut emosi sesaat sehingga mudah terprovokasi dengan pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab, apabila terjadi perang saudara, yang rugi adalah kita semua.
Kita tidak bisa bebas leluasa menjalankan ibadah, semua diawasi, dikekang, ada jam malam dan lain sebagainya.
Kasus Papua belakangan ini, seharusnya memberikan pelajaran bagi kita, sekecil apa pun perbedaan pandangan, sebagai masyarakat sipil biasa, jangan mudah melawan dengan jalan-jalan inkonstitusional.
Mari kita bersatu dalam bingkai keislaman kita yang terwadahi dengan wadah rumah bernama Indonesia.
Karenanya yang mendesak dilakukan saat ini adalah perlunya menjaga kerukunan di tengah kompleksitas perbedaan yang sudah menjadi keniscayaan ini.
Dengan demikian kerukunan dalam kebinekaan ini harus terus kita jaga sebagai wujud dari implementasi ajaran agama juga sebagai komitmen anak bangsa untuk melanjutkan perjuangan para pendiri bangsa ini.
Hakikatnya, tidak ada agama yang menghendaki perpecahan, mengajarkan permusuhan, apalagi mengajak saling bertikai.
Oleh karenanya, Islam memandang kebinekaan sebagai tanda-tanda kebesaran Allah. Sekalipun mampu, Allah tidak menjadikan segenap manusia secara seragam, melainkan beragam.
Hal itu didasarkan berdasar atas firman Allah dalam Al-Qur’an surat Yunus ayat 99: Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya.
Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?
Maksud manusia diciptakan secara beragam itu bukan untuk saling menegasikan, saling berperang, melainkan untuk saling mengenal, saling kolaborasi, saling kerja sama, untuk menjalankan amanah dan mandat Allah kepada manusia sebagai penguasa yang bertanggung jawab di muka bumi ini.
Karena itu, Islam memberikan jaminan akan tumbuh kembangnya kebinekaan. Hal tersebut tentu saja berujung kepada mengajak seluruh pemuka agama untuk bersama menjaga kedamaian dan kerukunan di Bumi Pertiwi.
Saatnya seluruh pemuka agama untuk saling bergandengan tangan, bekerja sama untuk menciptakan Indonesia dan dunia yang damai, tenteram, dan rukun.