Selasa, 7 April 2026

Berita Malang Hari Ini

Tak Ada Jembatan, Warga Bantur Malang Seberangi Sungai Pakai Perahu Rakit

Sebuah lintasan jalan tanpa penghubung jembatan masih ditemui di Desa Rejoyoso, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang.

Penulis: Mohammad Erwin | Editor: Eko Darmoko
SURYAMALANG.COM/M Erwin
Sebuah lintasan jalan tanpa penghubung jembatan masih ditemui di Desa Rejoyoso, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang. Alhasil, warga terpaksa menyeberangi Sungai Lesti dengan menggunakan perahu rakit yang biasa disebut getek. 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Sebuah lintasan jalan tanpa penghubung jembatan masih ditemui di Desa Rejoyoso, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang.

Alhasil, warga terpaksa menyeberangi Sungai Lesti dengan menggunakan perahu rakit yang biasa disebut getek.

Mariyam (50) warga sekitar Sungai Lesti bercerita, sejak dirinya tinggal Desa Rejoyoso, ia mengandalkan penyeberangan getek untuk dapat menuju wilayah Desa Kanigoro Kecamatan Pagelaran.

"Kalau mau ke pasar harus menyebrang pakai getek karena gak ada jembatannya," ucap Mariyam ketika ditemui SURYAMALANG.COM pada Selasa (25/5/2021).

Berdasarkan pantauan di lokasi, getek yang digunakan untuk menyebrang sungai dapat mengangkut 5 sepeda motor.

Kapasitas perahu dapat ditumpangi 10 orang dengan asumsi setiap sepeda motor ditumpangi 2 orang.Tarif sekali jalan menyebrangi sungai sebesar Rp 2 ribu.

Mariyam merasa menyebrang Sungai Lesti menggunakan perahu getek, merupakan satu-satunya akses  terdekat untuk menjangkau wilayah Desa Kanigoro, Pagelaran.

Kata warga Sungai Lesti juga cukup dalam. Meski airnya tenang, menyebrang sungai pakai getek menyimpan resiko yang berbahaya.

Sebenarnya Mariyam mengetahui jalan alternatif menuju Desa Kanigoro. Namun harus memutar jalan sejauh 12 kilometer.

Wanita yang bekerja sebagai petani ini kerap menemui kendaraan roda empat tersesat menuju jalan penyebrangan getek tersebut.

Para pengendara yang tersesat kebanyakan menuruti petunjuk navigasi gawai.

Jalan itu relatif sempit sehingga bisa kendaraan roda dua.

"Kata cerita mereka (pengendara mobil) katanya yang menuntun ke jalan itu ya pakai maps di HP. Jadi mereka tersesat. Roda empat harus balik karena memang adanya getek dan gak ada jalan jembatan penghubungnya," katanya.

Mariyam membayangkan situasi akan semakin mudah jika terdapat jembatan di wilayah tersebut.

"Karena kalau muter (tidak sebrang pakai getek) jadinya jauh. Jika ada jembatan kan enak yang lewat juga banyak," kesannya.

Sebagai rakyat, Mariyam hanya bisa berharap Pemerintah Kabupatem Malang bisa membangun jembatan penghubung jalan dan sungai.

"Dulu sepertinya sudah pernah bolak balik ditinjau. Tapi engga tau mau apa. Sampai sekarang juga engga ada jembatannya," tutup Mariyam.

Sumber: SuryaMalang
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved