Berita Malang Hari Ini
Potret Perkebunan Sawit di Malang Selatan, Harga Panen Murah Hingga Terbengkalai
Sepetak tanah di Desa Bandungrejo, Bantur, Kabupaten Malang, mengungkap fakta terkini potret perkebunan sawit di Kabupaten Malang.
Penulis: Mohammad Erwin | Editor: isy
Tanaman sawit yang tumbuh tinggi ditambah duri-duri yang menyertai bagian pelepah buah sawit, menguras tenaga warga yang memanennya.
"Cara memanen sawit juga manual, ada mesin yang otomatis tapi ya mahal," ungkapnya.
Parmin kini memilih tidak lagi mengurus perkebunan sawitnya.
Ia memutuskan menanami lahannya yang sebagian masih kosong dengan tanaman tebu.
Parmin menggeluti profesi lain di bidang non pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Alhasil, tanaman sawit yang pernah ia tanam dibiarkan tumbuh liar.
Pasalnya, ongkos menebang tanaman sawit dipikirnya malah membuat rugi.
“Seandainya ditebang, dan ada ditanam tanaman pengganti seperti kelapa harus nunggu 3 sampai 4 tahun agar dapat hasil. Istilahnya udah kapok menanam sawit," bebernya galau.
Parmin mengenang petak-petak tanah ditanami sawit dulunya lahan basah mirip rawa-rawa.
Namun, sejak ditanami sawit tanah tersebut tampak mengering tidak seperti dulu lagi.
"Sangat rakus air. Dulu saya dibilangi (per tanaman) sawit itu butuh 16 sampai 20 liter air (agar tumbuhnya bagus)," ungkapnya.
Di sisi lain, masih ada warga yang memilih mempertahankan tanaman sawitnya tumbuh.
Petani yang masih betahan itu adalah Sunjoto (70).
Merasa memasuki usia senja, Sunjoto tak punya pilihan pekerjaan lain.
Alhasil, ia menerima saja harga hasil sawitnya dihargai murah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/petani-sawit-malang.jpg)