Kisah Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW Lahir saat Wabah Penyakit Berkecamuk di Arab, Ibu Susuan Rasulullah dapat Berkah

Nabi Muhammad SAW Lahir saat Wabah Penyakit Berkecamuk di Arab, Ibu Susuan Rasulullah dapat Berkah

Penulis: Eko Darmoko | Editor: Eko Darmoko
Al Arabi
Rumah tempat lahirnya Nabi Muhammad SAW di Mekkah. Foto diambil dari buku Sejarah Hidup Muhammad karya Muhammad Husain Haekal terbitan Pustaka Jaya cetakan kelima 1980. (Al Arabi) 

SURYAMALANG.COM - Dalam buku Sejarah Tuhan, Karen Armstrong menulis: Muhammad adalah seorang jenius yang sangat luar biasa. Tatkala wafat pada tahun 632, dia telah berhasil menyatukan hampir semua suku Arab menjadi komunitas baru, atau ummah.

Buku yang dalam bahasa Inggris berjudul History of God itu menjadi buku laris di Indonesia, diterbitkan oleh Mizan.

Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir yang diutus Allah SWT ke dunia untuk menyempurnakan ajaran agama Islam, menyampaikan risalah sekaligus kabar baik kepada seluruh manusia.

Nabi Muhammad SAW merupakan putra dari pasangan Abdullah bin Abdul Muttalib dan Aminah bin Wahab bin Abd Manaf bin Zuhra.

Muhammad lahir pada Tahun Gajah atau tahun 570 Masehi, dikutip SURYAMALANG.COM dari Sejarah Hidup Muhammad karya Muhammad Husain Haekal terbitan Pustaka Jaya cetakan kelima 1980.

Baca juga: Nabi Muhammad SAW Pernah Singgah di Al Aqsa, Ini Alasan Lain Mengapa Muslim Harus Membela Palestina

Lahir ke dunia dengan predikat nabi terakhir pilihan Allah SWT, sudah tentu Muhammad dibekali dengan rupa-rupa sikap mulia, serta kesempurnaan lainnya.

Sejak masih dalam kandungan Aminah, Muhammad sudah mendapatkan perhatian lebih dari keluarganya, tak terkecuali sang kakek Abdul Muttalib yang merupakan orang penting dalam tatanan masyarakat Quraisy.

Saat Muhammad lahir, di Arab termasuk Mekkah sedang ada wabah penyakit yang menyebabkan angka kematian bayi sangat tinggi, dikutip SURYAMALANG.COM dari biografi Muhammad Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik karya Martin Lings atau Abu Bakr Siraj al-Din, terbitan Serambi cetakan kedua 2014.

Situasi Mekkah yang sedang dihantam wabah penyakit, membuat Aminah dan Abdul Muttalib mengirim Muhammad ke daerah gurun.

Selain itu, pengiriman bayi ke daerah gurun untuk disusui oleh ibu susu merupakan tradisi bangsa Arab.

Martin Lings menyebutkan, alasan lain mengirim bayi untuk disusui oleh wanita gurun adalah karena di sahara udaranya lebih segar dibandingkan dengan Mekkah.

Tentunya udara segar sangat baik untuk pertumbuhan bayi, tak terkecuali bayi Muhammad.

Muhammad pun kemudian disusui oleh perempuan dari suku Badui bernama Halimah yang memiliki suami bernama Harits.

Sebelum mengambil Muhammad untuk disusui, Halimah sama sekali tidak memiliki air susu ibu (ASI) pada payudaranya.

Halaman
12
Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved