Senin, 13 April 2026

Berita Malang Hari Ini

Psikolog UGM, Prof Kuncoro: Saat Malam, Individu Muncul Rasa Anominitas

Ada beberapa pemicu yang menyebabkan kisruh setelah laga Arema FC vs Persebaya saat tragedi Kanjuruhan.

Penulis: Tony Hermawan | Editor: Zainuddin
TribunJatim/Syamsul Arifin
Pengadilan Negeri Surabaya 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Ada beberapa pemicu yang menyebabkan kisruh setelah laga Arema FC vs Persebaya saat tragedi Kanjuruhan.

Ahli psikologi Universitas Gajah Mada (UGM), Prof Kuncoro MbSC. PhD mengungkap beberapa sebab itu saat menjadi saksi ahli dalam sidang tragedi Kanjuruhan di PN Surabaya, Jumat (10/2/2023).

Menurutnya, pemicu pertama dalam tragedi yang menewaskan sebanyak 135 orang tersebut adalah jumlah penonton yang melebihi kapasitas stadion atau over capasity).

Massa itu terdiri dari suporter fanatik dan suporter yang memandang sepak bola sebagai hiburan.

Penonton fanatik ingin Arema FC menang. Tapi, saat itu Singo Edan kalah dari Persebaya.

Kekecewaan penonton fanatik ini berubah menjadi emosi yang meledak-ledak.

"Ditambah lagi pertandingan digelar pada malam hari. Saat malam hari, individu muncul rasa anominitas. Mereka merasa identitasnya tidak kelihatan, sehingga kenekatannya semakin menjadi-jadi," kata Kuncoro.

Awalnya penonton fanatik mencoba meluapkan kekesalan ke pemain Persebaya. Ternyata saat itu pemain Persebaya sudah pergi meninggalkan lapangan.

Kemudian penonton fanatik mengalihkan emosi ke pemain Arema FC. Ternyata polisi menghalau usaha penonton fanatik ini.

Akhirnya, penonton fanatik meluapkan luapan emosi ke polisi.

"Polisi dianggap melindungi. Sehingga terjadi benturan antara polisi dengan suporter," terangnya.

Polisi merespon ancaman ini dengan menggunakan alat-alat yang melekat pada dirinya untuk membela diri.

Menurutnya, respon ini lumrah. Sebab, polisi adalah personel terlatih dan mempunyai pengalaman menghadapi situasi kaos.

"Dengan pengalaman itu, polisi terlihat bertindak intuisi. Dalam penelitian psikologi, intuisi itu dua tahap di atas rasional," tambahnya.

Sebenarnya karakter intuisi polisi bisa diredam sejak pertandingan digelar. Seharusnya Panpel melarang polisi membawa gas air mata sejak awal.

Sebenarnya FIFA sudah melarang polisi membawa gas air mata di dalam stadion. Tetapi, larangan itu tidak berlaku di Indonesia.

"Polisi kan hanya pelaksana. Jangan dibolak-balik. Jangan skill intuisi polisi dibunuh gara-gara peristiwa ini," terangnya.

Sumber: SuryaMalang
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved