Berita Malang Hari Ini

Dewanti Curhat Lihat Pasar Induk Among Tani yang Tak Kunjung Ditempati

Dewanti Rumpoko berbagi pengalaman kepada masyarakat ketika ia tak lagi menjabat sebagai orang nomor satu di Pemerintahan Kota Batu.

Penulis: Benni Indo | Editor: rahadian bagus priambodo
SURYA/BENNI INDO
Mantan Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko berbagi pengalaman kepada masyarakat ketika ia tak lagi menjabat sebagai orang nomor satu di Pemerintahan Kota Batu. Meskipun tidak lagi menjabat sebagai wali kota, Dewanti masih mengikuti perkembangan Kota Batu. 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Mantan Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko berbagi pengalaman kepada masyarakat ketika ia tak lagi menjabat sebagai orang nomor satu di Pemerintahan Kota Batu. Meskipun tidak lagi menjabat sebagai wali kota, Dewanti masih mengikuti perkembangan Kota Batu.

Dalam dialog bertema Noto Malang Raya yang diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Otonomi Daerah dan Demokrasi (PP Otoda), Dewanti menyoroti belum ditempatinya Pasar Induk Among Tani. Pasar itu dibangun ketika ia menjabat sebagai wali kota. Dewanti tidak sempat meresmikan pasar dengan status wali kota.

Ia mengatakan, pasar tersebut secara resmi selesai pembangunannya pada Mei 2023. Hanya saja sampai sekarang masih belum ditempati. Di sisi lain, ada kewajiban pengembang untuk memelihara bangunan selama enam bulan setelah selesai dibangun. Hingga September ini, artinya sudah empat bulan berjalan pasca pembangunan selesai.

Melihat pasar yang belum ditempati, Dewanti mengaku khawatir. Ia awalnya menahan diri untuk tidak cawe-cawe lagi di dalam Pemerintahan Kota Batu. Suaiminya, Edy Rumpoko yang juga mantan wali kota, telah mengimbau dirinya untuk tidak cawe-cawe lagi.

"Saya arahnya kekhawatiran, enam bulan masa pemeliharaan ini waktu penting agar ke depannya yang memakai fasilitas pasar nyaman. Ketika sudah lewat masa itu, akhirnya pemerintah yang harus menanggung. Itu kan sebuah kerugian. Akhirnya saya terpaksa telefon kepala dinas untuk menanyakan kenapa kok belum ditempati. Dijelaskan oleh dinas, Pj Wali Kota Batu sudah mempersiapkan Perwali dan sudah dikirim ke Kemendagri. Pemkot Batu saat ini menunggu dari Kemendagri. Inilah yang menjadi perbedaan ketika kepala daerah dipimpin Pj atau tidak. Itu kan memakan waktu. Ini akhirnya masyarakat yang dirugikan," ungkap Dewanti, Senin (25/9/2023). 

Dewanti juga berpendapat bahwa pejabat (Pj) tidak bersikap sebagai pejabat publik politis. Pj harus mengutamakan layanan kepada masyarakat. Ia mengatakan, Pj tidak perlu banyak melakukan aktualisasi diri di media sosial ketika di internal pemerintahannya sendiri masih belum tertata baik. 

"Pj itu betul-betul satu. Tetap memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat. Jangan sampai Pj seperti pejabat publik politis. Kenapa saya bilang begini, karena saya melihat ada yang mengedepankan performa di luar, senang menampilkan diri di medsos, tetapi tidak menampilkan itu secara baik dan benar di dalam. Saya kira, organisasi sipil maupun legislatif bisa mencermati agar Pj yang ditunjuk bisa melaksanakan program," ujar politisi PDI Perjuangan tersebut.

Program-program yang telah disusun di eranya, akan berkesinambungan dengan program yang dijabat oleh Pj Wali Kota Batu saat ini, Aries Agung Paewai. Sebelum menanggalkan jabatannya, Pemkot Batu telah menyusun program kerja hingga 2026 agar kesinambungan program kerja bisa tetap berlanjut.

"Sebelum saya meninggalkan jabatan, saya harus mempersiapkan sampai 2026. itu adalah rambu-rambu yang harus dilakukan oleh Pj. Jangan khawatir tidak terjadi kesinambungan. Sekarang ini, yang namanya Pj itu menjadi pekerjaan baru yang sangat direbutkan oleh semua pihak. Di Kota Batu, saya doakan baik-baik saja. Saya agak kesulitan belakangan ini karena banyak masyarakat yang mengadu di medsos ke saya. Aduannya kecil-kecil, lalu saya ambil tangkapan layar dan saya kirim ke kepala dinas. Kalau langsung ke Pak Pj, saya tidak berani," ujarnya.

Persoalan lain yang disayangkan Dewanti adalah tentang pengelolaan sampah. Ia mengatakan, tiga bulan sebelum dirinya selesai penjabat, sudah ada indikator nol sampah di Kota Batu. Namun kondisi saat ini berbeda. Ada konflik antara pemerintah dengan warga sehingga penggunaan TPA Tlekung tidak maskimal. Dampaknya, ada penutupan dan banyak masyarakat membakar sampah di dekat rumah masing-masing.

"Kalau saya lihat di aplikasi, pagi hari Kota Batu itu sudah merah. Padahal Kota Batu itu kota pariwisata. Orang datang ke Kota Batu karena iklim dan udaranya yang sejuk. Saya tidak tahu kenapa sampai seperti ini," terangnya. 

Di tempat terpisah, Pemkot Batu melalui UPT Pasar mengabarkan bahwa pasar segera ditempati. Dalam surat pemberitahuan yang dikeluarkan UPT Pasar Kota Batu Nomor 644/ 246/422.113.001/2023, ada 3 poin yang wajib diketahui para pedagang dan pengunjung.

Poin pertama seluruh aktivitas berjualan di lingkungan Pasar Relokasi Stadion Brantas Kota Batu wajib dihentikan mulai Minggu (1/10/2023) pukul 17.00 WIB. Poin kedua dalam surat pemberitahuan tersebut, seluruh aktivitas pedagang sudah beralih ke Pasar Induk Among Tani Kota Batu per 2 Oktober 2023.

Poin ketiga,sebelum pedagang meninggalkan pasar relokasi, pedagang wajib mengembalikan bentuk kios/los seperti semula. Kepala UPT Pasar, Agus Suyadi mengatakan, sejak selesai pengundian dan serah terima kunci kios atau los ke pedagang, banyak pedagang yang sudah mulai menata dagangannya ke pasar yang digadang-gadang merupakan pasar induk terbesar di Indonesia itu.

“Yang sudah pindahan ke Pasar Induk sekitar 80 persen, sisanya yang belum pindahan itu pedagang gelombang dua,” ujarnya. (Benni Indo)

Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved