Berita Surabaya Hari Ini

Tubuh Nenek 7 Cucu Hancur Tersambar Kereta Api di Wonokromo, Surabaya

Tubuh korban tersambar dan sempat terseret sejauh sekitar 15 meter, sebelum akhirnya kondisi tubuhnya hancur di bahu rel KA tersebut. 

Penulis: Luhur Pambudi | Editor: Yuli A
luhur pambudi
Petugas medis PMI dan BPBD Kota Surabaya mengevakuasi kantong mayat nenek 60 tahun yang tersambar kereta api di Wonokromo. 


Karena, sejauh informasi yang diketahuinya, kehidupan sang bibi baik-baik saja. Dan, tidak didapati adanya riwayat penyakit mental. 


"(Dugaan gangguan mental) gak ada. Iya jalan biasa. Emak Mutik, gak ada sakit tuli atau buta. Sehat walafiat. Itu saya kurang tahu (penyebab pasti). Tapi kalau unsur bunuh diri gak ada. Gak ada masalah. Firasat gak ada, saya lagi enak main HP," pungkasnya. 


Kemudian, keponakan korban Sugeng Rianto mengatakan, dirinya memperoleh informasi mengenai kematian sang bibi diduga karena kecelakaan tertabrak KA yang melintas di rel tersebut. 


"Tahunya, saya dikasih tahu kecelakaan gitu di rel kereta api. Enggak tulis. Mungkin saat hujan hujan tadi," ujar pria berkaus hitam itu saat ditemui TribunJatim.com di lokasi. 


Mengenai kebiasaan sang bibi yang gemar berjalan kaki ke berbagai tempat seorang diri. Ia tak menampiknya. 


Menurutnya, aktivitas dan kebiasaan yang dilakukan sang bibi itu sebatas untuk berolahraga ringan agar kondisi tubuhnya tetap bugar di usia senja. 


Termasuk mengenai dugaan potensi ganggu kejiwaan ataupun fungsi organ lain. Sugeng menegaskan, bibinya itu dalam keadaan normal dan sehat walafiat. 


"Pagi jalan ke Jetis, mutar terus, lalu jam 9 berhenti. Tujuannya olahraga, iya (biar sehat). Enggak (dalam keadaan linglung), sehat, ngomong bisa, normal," ungkapnya. 


Selama ini, bibinya sebatas ibu rumah tangga biasa. Namun, belakangan ini, diusia senja, bibinya sempat mengambil pekerjaan pengasuhan anak secara swadaya. 


Sang bibi, lanjut Sugeng Rianto, mengasuh beberapa anak tetangga yang masih balita namun kedua orangtuanya sibuk bekerja. 


"Kerjanya momong anak orang. Kalau siang anaknya dimomong, kalau ibuknya pulang, baru anaknya diambil. Iya pengasuhan swadaya. Muda dia gak kerja, iya dia ibu rumah tangga biasa," pungkasnya. 


Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Wonocolo Polrestabes Surabaya Iptu Kusmianto mengatakan, korban diketahui berjalan menyeberangi rel KA tersebut dari sisi barat ke timur atau dari jalanan aspal Jalan A Yani, menuju ke reramban bahu jalan yang berbatasan dengan Jalan Frontage A Yani. 


Diduga korban tidak memperhatikan dan menyadari keberadaan KA yang sedang melintasi dari arah utara kawasan Wonokromo menuju selatan kawasan Wonocolo, di waktu yang sama. 


Tak pelak, tubuh korban tersambar dan sempat terseret sejauh sekitar 15 meter, sebelum akhirnya kondisi tubuhnya hancur di bahu rel KA tersebut. 


Informasi mengenai kronologi tersebut diperolehnya dari keterangan seorang saksi mata penjaga warung kopi (warkop) berinisial SO (44) warga Gubeng, Surabaya


"Diperkirakan 15 meter dari TKP sampai mayat tercecer. Untuk barang bawaan cuma payung saja, mungkin saat hujan deras sehingga dia tidak terdengar KA dan tertabrak," ujarnya ditemui awak media di lokasi seusai olah TKP. 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved