Berita Malang Hari Ini

Bank Indonesia Optimistis Konsumen di Kota Malang Berada pada Level Maksimal

Bank Indonesia merilis hasil survei konsumen di Kota Malang yang mengindikasikan optimisme konsumen terhadap peningkatan kondisi perekonomian.

Penulis: Benni Indo | Editor: Eko Darmoko
SURYAMALANG.COM/Benni Indo
Interaksi pedagang dan pembeli di Pasar Besar Kota Malang, Rabu (20/12/2023). Bank Indonesia merilis hasil survei konsumen di Kota Malang yang mengindikasikan optimisme konsumen terhadap peningkatan kondisi perekonomian. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Desember 2023 tercatat sebesar 167,17 menguat dibandingkan dengan bulan sebelumnya yaitu 157,42. 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Bank Indonesia merilis hasil survei konsumen di Kota Malang yang mengindikasikan optimisme konsumen terhadap peningkatan kondisi perekonomian.

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Desember 2023 tercatat sebesar 167,17 menguat dibandingkan dengan bulan sebelumnya yaitu 157,42. 

Asisten Direktur, Achmad P Subarkah menjelaskan, keyakinan konsumen terhadap kondisi perekonomian tetap pada level optimis (indeks >100). Kenaikan IKK didorong oleh peningkatan Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK).

Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) tercatat sebesar 160,00 meningkat dibanding bulan sebelumnya yang berada di angka 148,00. Meningkatnya IKE didorong oleh kenaikan seluruh komponen pembentuknya, terutama pada Indeks Penghasilan Saat ini.

"Peningkatan tersebut sejalan dengan terus membaiknya aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat pada momen Natal 2023 dan tahun baru 2024 serta liburan sekolah, yang mendorong kenaikan penghasilan dan menopang peningkatan pembelian durable goods," ujarnya.
 
Sejalan dengan membaiknya persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini, optimisme konsumen terhadap perkiraan kondisi ekonomi 6 bulan ke depan juga terpantau menguat dibandingkan bulan sebelumnya.

Indeks Ekspektasi Kondisi Ekonomi (IEK) Desember 2023 tercatat sebesar 174,33 meningkat dari 166,83 pada November 2023. Peningkatan tersebut didorong oleh kenaikan komponen penyusun IEK, terutama Indeks Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja.

Di tempat terpisah, Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Malang pada Desember 2023 mengalami inflasi sebesar 0,22 persen (mtm), lebih rendah dari bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 0,40 % (mtm).

Dibandingkan catatan selama lima tahun terakhir, inflasi Desember 2023 menjadi satu-satunya periode dengan inflasi yang melandai atau lebih rendah dari inflasi bulan November sebelumnya. 

Secara tahun kalender dan tahunan Kota Malang tercatat mengalami inflasi sebesar 2,65% (ytd, yoy).  Dengan demikian, inflasi tahunan periode bulan Desember 2023 maupun secara keseluruhan tahun 2023 di Kota Malang masih tetap terkendali di kisaran rentang sasaran inflasi 3±1%.

Kepala BPS Kota Malang, Umar Sjaifudin mengungkapkan, inflasi periode Desember 2023 didorong terutama oleh kenaikan harga kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan andil 0,12% (mtm), kelompok transportasi 0,06% (mtm) dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,03% (mtm). 

Inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh deflasi yang terjadi pada kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga dengan andil -0,03% (mtm).

Berdasarkan komoditasnya, inflasi Kota Malang didorong oleh kenaikan harga pada komoditas angkutan udara, bawang merah, cabai merah, cabai rawit dan emas perhiasan masing-masing dengan andil 0,06%, 0,05%, 0,05%, 0,03%, dan 0,02% (mtm). 

"Inflasi pada tarif angkutan udara terjadi seiring lonjakan permintaan pada momen libur Natal, tahun baru 2024 dan libur sekolah," paparnya. 

Kenaikan terjadi merata hampir di semua rute termasuk rute dari dan menuju Malang. Harga bawang merah, cabai rawit dan cabai merah meningkat akibat terbatasnya pasokan seiring faktor cuaca El Nino dan curah hujan yang belum merata.

"Kondisi itu menurunkan produktivitas, di tengah kenaikan permintaan konsumsi pada momen Nataru," urainya. 

Tekanan inflasi domestik terus menurun dan lebih rendah dari prakiraan. Risiko ketahanan pangan, khususnya untuk komoditas beras ke depan masih perlu diwaspadai seiring prakiraan terjadinya keterlambatan tanam, sehingga masa panen raya tahun 2024 pun diperkirakan akan mundur dari waktu yang direncanakan. 

Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved