Berita Blitar Hari Ini

Gitar Bikinan Blitar Merambah Malaysia, Hongkong dan Amerika, Perajinnya Mantan Tukang Bangunan

Ia juga pernah mendapat pesanan satu set alat musik keroncong, mulai gitar, ukulele, biola, contrabass, selo dan mondolin dengan harga Rp 25 juta.

|
Penulis: Samsul Hadi | Editor: Yuli A
samsul hadi
Hariyanto (35), perajin gitar asal Desa Selokajang Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar. 

Ia juga pernah mendapat pesanan satu set alat musik keroncong, mulai gitar, ukulele, biola, contrabass, selo dan mondolin dengan harga Rp 25 juta.

SURYAMALANG.COM, BLITAR - Meski sempat tertunda, Hariyanto (35), akhirnya bisa mewujudkan cita-citanya sejak kecil, yaitu, menjadi perajin gitar.

Alat musik petik karya pria asal Desa Selokajang Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, itu kini sudah dikenal di pasar Indonesia bahkan luar negeri.

"Sejak kecil memang punya angan-angan ingin menjadi perajin gitar. Awalnya, melihat liputan di televisi soal perajin gitar. Sejak itu, terinspirasi ingin membuat gitar. Tapi baru terwujud pada 2015," kata Hariyanto ditemui di rumahnya, Rabu (24/1/2024).

Hariyanto menggunakan rumahnya sebagai galeri sekaligus bengkel pembuatan gitar. Tidak hanya gitar, ia juga membuat semua alat musik petik seperti ukulele, selo, contrabass, biola dan mandolin.

Sejumlah gitar, ukulele dan biola terlihat dipajang berjajar menempel pada dinding di ruang depan rumah Hariyanto.

Di belakang ruangan yang menjadi galeri, itu juga terdapat beberapa gitar dan ukulele setengah jadi yang ditumpuk di kursi dan meja.

"Di belakang ruang galeri ini menjadi tempat finishing, untuk pemasangan senar dan setting gitar. Kalau bengkel produksinya di belakang," ujarnya.

Hariyanto menunjukkan bengkel pembuatan alat musik di ruang bagian belakang rumahnya.

Begitu masuk bengkel, terlihat tumpukan lembaran kayu yang menjadi bahan pembuatan alat musik di beberapa sudut ruangan. Sebagian lembaran kayu disandarkan pada dinding ruangan.

Beberapa alat produksi seperti gergaji, bor,  mesin pemotong dan mesin amplas dan tertata tidak beraturan di ruangan.

Di bengkel itu juga terlihat beberapa gitar, ukulele dan biola masih setengah jadi yang posisinya juga tidak beraturan.

"Kondisi bengkelnya berserakan. Saya memang bekerja sendiri," katanya.

Hariyanto kemudian mengambil satu lembaran kayu yang tebalnya sekitar 5 cm. Hariyanto memotong lembaran kayu itu.

Setelah itu, Hariyanto membuat pola pada potongan lembaran kayu untuk dijadikan ukulele.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved